Memaknai “Hari”, “Bulan”, “Tahun” di dalam Kontrak

Perkiraan Waktu Membaca: 3 menit
0
(0)

Term atau istilah di dalam kontrak bukan hal sederhana. Misalnya makna dari istilah “Hari” yang pada praktik tidak selalu sama pada setiap kontrak, karena maknanya menyesuaikan tujuan dari kontrak itu sendiri, misalnya:

  • Hari pada kontrak/perjanjian kerja umumnya dimaknai “hari kerja” yaitu hari Senin sampai Jumat, atau hari-hari lain yang disepakati dalam kontrak kerja.   ·
  • Hari pada kontrak konstruksi umumnya dimaknai sebagai “hari kalender (calendar day)” yaitu seluruh hari dalam satu bulan, termasuk di dalamnya hari libur.
  • Hari pada kontrak/perjanjian kredit umumnya mengacu term “business day” di mana Hari dimaknai hari kerja atau hari di mana institusi perbankan beroperasi.

Pada varian kontrak lain, term “Hari” juga didefinisikan dengan menjabarkan durasi, misalnya “Hari adalah satu hari kalender yang dimulai dan berakhir pada pukul 12:00 malam Waktu Indonesia Barat”.

Pemaknaan “Hari” juga akan berdampak pada definisi dari “bulan” dan “tahun” dalam kontrak. Apabila kontrak telah menggunakan term hari kalender, maka bulan juga harus dimaknai “bulan kalender (calendar month)”, sedangkan pada term tahun dimaknai “12 bulan kalender” atau “365 hari”.

Mau ikut jadi Advokat? Segera ikut Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) Angkatan XIII yang dimulai pada November 2022.

Segera daftarkan diri melalui ICJR Learning Hub

Sedangkan apabila “Hari” telah dimaknai sebagai hari kerja, maka bulan/tahun dapat dimaknai menjadi “setiap hari dalam satu bulan /12 bulan kalender, kecuali hari sabtu, minggu, hari libur nasional Indonesia atau hari di mana institusi perbankan diperkenankan untuk tidak beroperasi”.

Sampai pada titik ini, terbayang rumitnya contract drafter suatu proyek konstruksi yang didanai oleh bank hanya untuk mengsinkronkan satu term, di mana Ia harus memastikan–secara lintas kontrak, hari kerja buruh kohesi dengan time for completion suatu project dan batas jatuh tempo kredit bank.

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 0 / 5. Penilaian terhitung: 0

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Andhika Prayoga memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Hukum Universitas Lampung dan memulai karir profesional sebagai Asisten Pengacara Publik pada Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) tahun 2014.

Selama di LBH Jakarta, Andhika terlibat dalam pemberian bantuan hukum (pro bono) terhadap masyarakat yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi dan Serang.

Sejak tahun 2015, ia bekerja sebagai Associate Partner pada Feri Samad Law Firm dan terlibat di berbagai pendampingan hukum terkait isu korporasi dan tata kelola perusahaan yang baik di sektor ketenagalistrikan.

Andhika terafiliasi dengan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) serta tercatat sebagai anggota jaringan Pro Bono Clearing House LBH Jakarta, anggota Dewan Pengawas Yayasan Pengembangan Hukum Partisipatif (YPHP) dan senior member pada Pusat Studi Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Leave a Reply