Makanan Adalah Pesan Budaya

Perkiraan Waktu Membaca: 4 menit
0
(0)

Makanan memang tidak punya agama, tapi makanan adalah pesan budaya. Maka dari itu dalam dunia internasional salah satu cara paling ampuh untuk memperkenalkan ragam budaya suatu bangsa adalah melalui makanannya.

Lewat makanan kita bisa menyampaikan pesan-pesan yang tersirat di dalamnya, baik ragam sejarah, maupun landasan filosofi yang melekat padanya. Sama halnya dengan pesan budaya dari suatu masyarakat yang identik dengan agama tertentu, tentu pesan budaya yang mereka junjung tinggi harus kita hargai bahkan dalam makanan mereka.

Saya secara pribadi mempunyai pengalaman saat menjadi Staf Ahli di DPD RI, saat harus menjalankan tugas ke Indonesia Timur yang identik mayoritas beragama non muslim menjadikan pilihan makanan Nasi Padang adalah pilihan yang paling aman ketika harus bertugas ke daerah-daerah yang memang muslim sebagai minoritas.

Dapatkan kabar terbaru langsung di ponsel anda dengan bergabung di Whatsapp Group atau Subscribe di Telegram Channel

Sederhana dan mudah!

Karena, “In Nasi Padang, We Trust Halal.” Tanpa ada kesepakatan tertulis. Tapi sebagai masyarakat awam sekalipun kita yakin bahwa masakan Padang pastilah halal. Begitu pula saat saya menjadi musafir di Eropa, makanan “teraman” selama perjalanan adalah “kebab”. Karena pada makanan kebab yang di jual oleh para pedagang dari Timur Tengah juga melekat kepercayaan bahwa ini adalah “makanan halal”. Pilihan makanan kebab ini adalah ayam, sapi, kambing atau domba. Tidak pernah saya jumpai ada kebab versi babi di sepajang perjalanan kami mengelilingi Eropa selama 5 tahun terakhir.

Nah kembali lagi pada pembahasan semula. Saya berasumsi bahwa perdebatan tentang penamaan “makanan non halal” tersebut bukan terletak pada bahan dasarnya, tapi pada pelekatan unsur suku tertentu yang memang identik dengan Islam. Jadi kalau seandainya dibuat namanya “Babi Panggang khas Papua” saya yakin suku di Papua tidak akan protes karena memang panganan ini banyak di jual disana.

Tapi cobalah anda menginjakkan kaki ke ranah minang Sumatera Barat, saya jamin pasti anda tidak akan pernah menemukan masakan Padang dengan menu babi disana. Bahkan di ranah minang pun anda tidak akan pernah melihat tulisan “Sate Padang” atau” Rumah Makan Padang” yang paling banyak akan anda temui ” Sate Ajo” atau “Rumah Makan Bundo Kanduang”.

Kenapa demikian?!

Pelekatan nama Kota “Padang” itu hanya ketika makanan asal ini sudah keluar dari tempat asalnya. Jadi jika ada yang menjual makanan non halal tapi melekatkan unsur tertentu yang jelas tidak ada korelasinya, pasti masyarakat yang merasa dirugikan protes keras itu adalah respon yang manusiawi.

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 0 / 5. Penilaian terhitung: 0

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Umi Illiyina, Alumni Universitas Indonesia, saat ini menetap di Belanda sejak tahun 2016

Leave a Reply