Soal COVID-19 dan Rasa Takut

Mengapa (banyak) manusia yang panik dengan covid-19? Mungkin karena pada dasarnya manusia itu memiliki rasa takut, dan sifat alamiah manusia ini cenderung dominan sekarang.

Pertama, manusia itu cenderung takut pada hal yang tidak dia ketahui. Bahasa kerennya, we are afraid of the unknown. Ketakutan ini mengganggu rasa aman/nyaman kita.

Kedua, kebanyakan manusia itu takut akan kematian. Mungkin belum siap, mungkin masih ingin membahagiakan orang tua, anak, keluarga, dll. Ketika kita disajikan dengan tingginya angka kematian di Indonesia dan proporsionalitas kematian di Indonesia yang sekarang begitu besar, kita jadi panik.

Ketiga, manusia cenderung takut akan sesuatu hal yang tidak dalam kontrol kita. Karena kita (tampak/merasa) menjadi lemah, tidak berdaya atas diri kita sendiri dan harus bergantung pada orang lain.

Keempat, kita akan merasa takut/terancam kalau ‘ancaman’ itu dekat dengan keseharian kita. Dampak eksistensial dari krisis iklim terhadap manusia dan bumi begitu serius, tapi kita kan santai saja karena merasa itu asing (foreign) dan jauh dari kita. Tapi begitu dampak covid-19 begitu dekat dengan kita (ada di kota kita, ada di kecamatan kita), makanya kita jadi lebih bereaksi.

Apalagi mengetahui betapa pemerintah Indonesia kelimpungan dan sepertinya fasilitas RS banyak yang kurang memadai dalam merespons covid-19. Tambah takut lagi kita.

Tentu saja ada banyak sifat alamiah manusia lainnya yang relevan, tapi ketika kita mengalami derasnya informasi (baik yang benar, maupun – apalagi yang – palsu), hal itu semakin mudah ‘membakar’ ketakutan kita.

Tapi ada satu sifat alamiah manusia lainnya yang akan membantu kita melewati ini semua. Yaitu, daya tahan, kemampuan beradaptasi, survival. Dari pandemi flu 1918, Perang Dunia II 1942, krisis ekonomi dll, manusia akan menemukan caranya untuk bertahan hidup. Insting bertahan kita juga yang memicu panic buying. Kelas menengah mungkin sudah pada panic buying karena informasinya melimpah. Tapi di kelas ekonomi bawah, informasi covid-19 ini kan tidak banyak mereka terima dan kejar dan olah terus menerus. Mungkin juga mereka sedang dalam survival mode yang bukan karena covid-19, tapi karena harus mencari uang untuk makan malam nanti.

Dan daya juang inilah yang sekarang muncul di tengah lemahnya negara mengatasi krisis covid-19. Warga saling berbagi informasi. Yang menjelaskan (dengan baik) mengapa kita harus ‘flatten the curve’, itu warga. Yang menjelaskan apa itu corona dan risikonya dll dengan apik, itu warga.

Jadi kalaupun kita sekarang sedang mempraktikkan social distancing (dan saya lebih suka menerjemahkannya sebagai pembatasan fisik), semoga solidaritas sosial kita tidak tergerus. Semoga solidaritas kolektif ini dapat membantu mengatasi ketakutan dan kepanikan kita. Walau berjarak secara fisik, semoga kita tetap saling menolong dan saling jaga.

Leave a Reply