PSBB Lagi: Jadi Kemarin Itu Kita Liburan Ya?

Perkiraan Waktu Membaca: 5 menit
5
(1)

Kita senang-senang menikmati akhir tahun. Bali penuh dengan wisdom (wisatawan domestik). Jogja padat juga dengan wisdom. Orang-orang kayak kebelet bersukaria dan membakar duitnya yang berlebihan itu. Di samping itu, saudara-saudara saya di Bali juga sudah menjerit karena hidup mereka sangat tergantung dari orang-orang yang mau membakar uang. Tidak terperikan penderitaan mereka.

Hari ini, seperti yang sudah diduga, kasus penularan Covid-19 melonjak. Akibatnya, pemerintah melakukan PSBB lagi.

Saya sungguh tidak mengerti mengapa kita tidak belajar dari pengalaman yang sudah-sudah? Pandemi ini tidak akan berakhir kalau kita hanya mengutamakan kepentingan sesaat. Semua orang diminta berkorban dan mengendalikan diri. Ini adalah ‘collective action’ kita.

Tentu ada orang yang tidak percaya bahwa pandemik ini akan bisa ditanggulangi oleh PSBB. Orang juga sudah bosan dengan PSBB. Ini semua bisa dimaklumi. Namun sekali lagi, semua diminta berkorban. Jika tidak, maka kita akan menghadapi persoalan seperti sekarang ini. Kita buka ekonomi, kita bersenang-senang, belanja dan selfie sana sini, kemudian kita mendapati kasus infeksi naik, kematian naik. Dan kita tutup lagi ekonomi kita.

Itu terjadi terus menerus dan berulang kali.

Penanganan Covid adalah ‘common good’ alias barang milik umum. Tidak semua orang akan segera merasakan manfaatnya. Namun dalam jangka panjang semuanya akan menikmati jerih payah dari pengorbanan mereka.

Oleh karena itu, karena tidak semua orang menikmati manfaat ini maka harus ada institusi yang menjadi pengatur. Itu alasan kita memiliki pemerintahan. Itu alasan kita mengeluarkan banyak uang untuk melakukan pemilihan. Itu alasan untuk kita berkelahi membela kandidat-kandidat yang kita yakini akan membuat yang terbaik untuk kita semua — tidak hanya untuk mereka yang memilihnya.

Untuk saya, jelas kebijakan penanganan pandemi yang diambil selama ini sangat ‘short-sighted’ alias cupet! Politisi hanya ingin menyelamatkan dirinya dan popularitasnya.

Itulah sebabnya mereka mengambil kebijakan yang sepotong-sepotong; dengan harapan orang akan lupa. Jika kasus naik, ya ditutup. Jika kasus turun, buka dan lakukan seolah-olah ini semua normal. Akibatnya, pandemi ini akan makin tidak teratasi.

Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran para pembuat kebijakan kita. Mungkin secara diam-diam mereka mengharapkan akan terjadi ‘herd immunity’ yakni akan terjadi kekebalan tubuh atau imunitas secara kolektif. Tapi itu harus dibayar dengan angka kematian 5% dari penduduk. Itu berarti 13.5 juta jiwa harus musnah. Dan itu jauh lebih besar dari angka pertumbuhan penduduk kita.

Herd immunity adalah cara berpikir secara statistik. Dan cara berpikir seperti ini tampak rasional, kecuali jika Anda dan orang-orang yang Anda cintai yang terkena. Barulah ia menjadi personal.

Yang lebih menyedihkan dari pandemik ini adalah bahwa mereka yang kuat bisa melindungi diri mereka lebih baik dari mereka yang lemah. Pandemi ini membuka jurang sosial dan ekonomi kita. Ia memberi kekuatan kepada mereka yang kuat dan menginjak habis yang lemah dan tak berdaya.

Dan, tahukah Anda, kalau Richard Muljadi, yang dikenal sebagai “crazy rich” Surabaya mengosongkan satu pesawat untuk dirinya dan istrinya untuk melancong ke Bali? Ya, Richad Muljadi yang sama, yang beberapa waktu lalu terlihat menyehatkan diri dengan jogging di bypass Nusa Dua, Bali, dengan dikawal polisi. The privilege.

Orang seperti Richard Muljadi bisa melindungi dirinya sendiri. Dia tetap sehat, gembira, dan bahagia.

Tapi bagaimana dengan sebagian besar manusia di Indonesia ini yang harus berjuang sendirian dan habis-habisan? Apakah yang mereka punya, selain pemerintah, yang diharapkan memberikan perlindungan bagi mereka, termasuk juga dari pandemi?

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 5 / 5. Penilaian terhitung: 1

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Made Supriatma, lahir di Denpasar, Bali, pada 1966. Dia pernah bekerja sebagai peneliti di Lembaga Studi Realino (LSR), Yogyakarta. Semasa di lembaga itu, dia aktif melakukan penelitian tentang politik kebudayaan, militer dan militerisme, serta masalah-masalah etnis Tionghoa. Belakangan ini dia mengarahkan perhatian pada politik identitas, konflik, dan kekerasan. Saat ini bekerja sebagai Visiting Research Fellow di ISEAS - Yusof Ishak Institute, Singapore

Leave a Reply