Politik Korban

Perkiraan Waktu Membaca: 7 menit
5
(2)

Playing victim is the simplest weapon of a politician can exploit. Bermain menjadi korban adalah senjata paling sederhana yang bisa dieksploitasi seorang politisi.

Tamsil sederhana itu saya pernah baca entah dimana. Namun terbukti kemanjurannya baik di negeri ini maupun di negeri mana saja. Bahasa politik di negeri ini adalah terzalimi. Siapa yang tidak jatuh kasihan pada orang yang terzalimi?

Dulu, politisi Jendral Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mampu menjungkalkan Megawati Sukarnoputri yang saat berkuasa dengan taktik ini.

Ketika mengetahui bahwa SBY menghimpun kekuatan untuk menyainginya dalam pemilihan presiden, Megawati memecatnya. Ini ternyata menjadi blunder. SBY memainkan peran sebagai korban ini dengan baik.

Bahkan selama memerintah pun, saya memperhatikan SBY secara kreatif memainkan politik sebagai korban ini secara kreatif.

Itu juga yang saya lihat yang terjadi antara Puan Maharani vs. Ganjar Pranowo. Yang satu adalah Ketua DPR-RI dengan latar belakang darah biru politik yang sangat kuat. Yang belakangan adalah Gubernur Jawa Tengah.

Puan berkunjung ke Jawa Tengah dan berbicara di acara PDIP. Disana dia berpidato. Bagian dari pidatonya yang ramai dikutip adalah “pemimpin ada di lapangan bukan di sosmed.”

Pernyataan ini segera ditafsirkan sebagai sindiran terhadap Ganjar Pranowo, yang adalah juga kader PDIP, namun tidak diundang ke pertemuan PDIP tersebut. Padahal semua kader kepala daerah PDIP hadir dalam pertemuan itu. Hanya Ganjar yang tidak diundang.

Ganjar memang pemain lumayan besar di media sosial. Dia memiliki 1,9 juta pengikut di Twitter. Kehadirannya di Instagram bahkan jauh lebih besar, yakni 3,4 juta pengikut.

Dia juga sering siaran ‘live’ di akun media sosialnya. Dan rupanya akun-akun ini dikelola cukup profesional oleh sebuah tim tersendiri.

Saya sudah lama mendengar desas-desus hubungan tidak harmonis antara Ganjar dan partai asalnya, PDIP. Salah satu penyebabnya adalah ambisi terbuka Ganjar untuk 2024.

Dia sudah membentuk tim-tim relawan di berbagai daerah. Dia juga sudah memelihara pendengung (buzzers) dan pemengaruh (influencer) yang siapa membela dan mempromosikan dirinya di media sosial.

Saya cenderung melihat pidato Puan ini adalah anugrah untuk Ganjar. Dia bisa memainkan peran sebagai orang yang menjadi korban. Dan itulah agaknya yang muncul dalam persepsi publik setelah kejadian ini.

Puan tidak pernah populer di luar kandang PDIP. Itu pun diakui oleh beberapa petinggi PDIP yang pernah saya ajak bicara. Peluangnya untuk maju di 2024 memang kecil tapi bukan tidak mungkin. Atau dia akan dipasangkan dengan seseorang dan hanya menjadi wakil presiden.

Saya kira, Gubernur Ganjar tahu persis akan hal ini. Dia juga sadar bahwa kemungkinan sangat kecil dia akan mendapat restu PDIP untuk maju Pilpres. Jurang antara dirinya dengan partai yang membesarkannya ini cukup dalam.

Namun dalam politik semua mungkin terjadi. Ganjar harus menunjukkan diri bisa bermain dan melayani kepentingan politik kekuatan-kekuatan nasionalis.

Dia, paling tidak, harus seperti Jokowi saat menjadi Gubernur DKI yang bisa menjadi magnet untuk beberapa kekuatan politik (dan oligarki, tentu saja!) untuk mendukungnya. Sehingga PDIP pun tidak punya pilihan lain untuk mencalonkan dirinya.

Lapangan bermain 2024 sudah mulai sesak. Hingga saat ini belum ada calon yang terlalu menonjol diluar Prabowo dan Anies Baswedan. Kedua memiliki “kendaraan” sendiri. Prabowo pasti akan diusung Gerindra dan Anies kemungkinan oleh PKS dan beberapa partai Islam kecil.

Puan memiliki kendaraan sendiri yang cukup besar namun dia kurang di soal elektabilitas. Mungkin dia akan berperan lebh sebagai “Queen-maker” nanti.

Apakah Ganjar akan berhasil dengan memainkan posisi sebagai ‘korban’ politik ini? Saya tidak tahu. Tapi dari beberapa interview dengan para pengamat politik Jawa Tengah, terlihat bahwa periode kedua Ganjar tidak terlalu baik.

Semua image dia kalah dengan Presiden Jokowi yang moncer dengan proyek-proyek infrastrukturnya. Bukan berarti Ganjar tidak mengerjakan proyek infrastruktur. Jalan-jalan provinsi di Jawa Tengah yang ada sekarang ini adalah yang paling baik yang pernah ada dalam sejarah provinsi ini.

Namun proyek-proyek Ganjar tenggelam oleh proyek-poyek besar Jokowi. Bahkan dalam beberapa hal, Ganjar harus menanggung efek negatif dari proyek mercusuar Jokowi.

Misalnya, dalam pembangunan Waduk Bener di Purworejo yang memerlukan batu andesit dari Desa Wadas. Penambangan batu ini berakhir dengan protes warga dan penanganan represif dengan aparat. Akibatnya sebelas warga dan aktivis luka-luka dan sebagian lagi ditahan.

Ganjar dikaitkan dengan peristiwa ini karena Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan ijin untuk penambangan di Wadas ini.

Apakah Ganjar akan berhasil? Kita tidak tahu. Sejauh ini saya melihat jalan masih panjang dan cukup terjal untuknya. Walaupun berapa pendengung dan pemengaruhnya sudah mulai cukup aktif dan galak di media sosial.

Ada banyak hal yang harus dia kerjakan. Antara lain mencari partai yang akan mendukungnya. Mencari “investor” oligarkh yang mendukung pencalonannya. Memoles citra hanyalah salah satu dari sekian banyak pekerjaan politisi.

Sumber gambar: kanalbali.id

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 5 / 5. Penilaian terhitung: 2

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Made Supriatma, lahir di Denpasar, Bali, pada 1966. Dia pernah bekerja sebagai peneliti di Lembaga Studi Realino (LSR), Yogyakarta. Semasa di lembaga itu, dia aktif melakukan penelitian tentang politik kebudayaan, militer dan militerisme, serta masalah-masalah etnis Tionghoa. Belakangan ini dia mengarahkan perhatian pada politik identitas, konflik, dan kekerasan. Saat ini bekerja sebagai Visiting Research Fellow di ISEAS - Yusof Ishak Institute, Singapore

Leave a Reply