Pepatah Lama: Sedikit – Sedikit Lama – Lama Menjadi Bukit

Ayahanda adalah orang pertama yang mengajarkan saya mengenal investasi. Sejak saya memasuki usia sekolah dasar (SD) tepatnya sejak saya memasuki usia 5 tahun. Ayahanda sudah dan selalu menyarankan saya untuk rajin menabung dan memiliki buku tabungan sendiri. Beliau juga selalu memberi saya uang saku berlebih bukan untuk dibelanjakan namun digunakan untuk kepentingan menabung.

Ayah selalu berkata, kalau investasi tidak semata berbentuk materi tetapi bisa juga ilmu dan keahlian. Hal ini yang selalu ayah bonding setiap hari disela-sela waktu cerita pengantar tidur. Stimulus yang dilakukan ayah ternyata mulai mengakar, berbekal nasehat ayah pula saya selalu giat belajar dan bercita-cita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Setelah lepas seragam putih abu-abu saya sudah enggan menerima uang saku dan subsidi orang tua untuk pembayaran uang kuliah. Sejak resmi diterima sebagai mahasiswa fakultas hukum, saat itu pula saya berburu berbagai beasiswa yang ada hingga saya berhasil mendapat beasiswa Pertamina dari awal hingga mendapat gelar sarjana.

Suatu hari saya memberi kabar bahwa saya lulus dan diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan pendidikan S2. Orang tua saya tentunya senang dan bangga karena anaknya bisa kuliah dikampus terkemuka di Indonesia.

Sebagai anak yang sudah tak lagi di bawah bayang-bayang orang tua tentunya diterima di Universitas ternama seperti Universitas Indonesia juga menjadi kecemasan tersendiri, mengingat biayanya yang super mahal.

Lalu apa kabar tabungan saya sejak SD dulu?!

Tabungan saya sejak SD masih tersimpan dengan baik, tanpa pernah sedikitpun disenggol. Hingga akhirnya beasiswa yang saya harap tak kunjung ada bagi pasca sarjana dan memaksa saya untuk merogoh tabungan kesayangan.

Mengingat biaya kuliah di UI dan SPP-nya lebih mahal dari harga kendaraan roda dua. Akan tetapi, investasi yang sudah saya lakukan sejak berusia 5 tahun menjadi penyelamat pembayaran biaya semester hingga mampu menyelesaikan pendidikan di sana.

Siapa yang menduga, uang saku yang selalu saya sisihkan sejak berseragam merah putih, ternyata menjadi penyelamat di masa depan.

 

Umi Illiyina, Alumni Universitas Indonesia, saat ini menetap di Belanda sejak tahun 2016

Leave a Reply