Mudik, Pulang Kampung, dan Kedewasaan

Sedikit mau nimbrung soal mudik dan pulang kampung. Menurut saya begini, dalam konteks sosial budaya, mudik dan pulang kampung memang beda, walaupun sama2 dilakukan dgn pulang ke tempat asal perbedaannya ada di tujuannya

Mudik itu identik dgn budaya pulang kampung yang dilakukan untuk berkumpul dan/atau untuk merayakan hari – hari besar tertentu bersama keluarga, seperti lebaran, natal, dll. Karena sifatnya perayaan, maka seharusnya dilakukan dengan sukacita, apapun itu bentuknya. Jadi tujuannya adalah bersuka cita.

Di sisi lain, pulang kampung itu tidak mensyaratkan dilakukan untuk merayakan sesuatu. Bahkan bisa karena terjadi sesuatu, misalnya usaha bangkrut di kota tempat kerja, dipecat, bosan, atau yang lainnya. Jadi tujuannya tidak mesti sebuah perayaan atau sukacita, bahkan bisa saja dukacita..

Nah di sini keliatan kalau dalam konteks sosial budaya, memang beda, walaupun secara bahasa dia memiliki arti yg sama. Tapi tidak semua yang secara bahasa sama punya konteks yang sama. Sebagai contoh, kita ambil yag dekat dengan saya, dunia hukum. Secara bahasa, menyuruh orang lain melakukan kejahatan dan menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan, sama atau beda? Menurut saya, bisa dipastikan sama, yaitu sama – sama nyuruh orang lain. Tapi dalam konteks hukum, itu memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Menyuruh melakukan (doenplegen) itu, orang yang disuruh tidak bisa dihukum, sedangkan menggerakkan (uitlokking) itu, yang disuruh bisa dihukum, beda bukan? Ini hanya sebagai contoh bahwa sama dalam konteks bahasa belum tentu sama dalam konteks yg lain.

Terlepas dari perbedaan itu, saya jadi berpikir, jadi sebenarnya yang dilarang itu tindakan yang mana? Apakah hanya yang berbentuk “mudik”, atau seluruh kegiatan kembali ke kampung? Kalau melihat tujuannya untuk membatasi pergerakan orang, seharusnya yang dilarang adalah segala bentuk pulang kampung, termasuk mudik. Jadi tidak perlu dibedakan lagi antara mudik dan pulang kampong, karena semuanya pasti dilarang. Tapo kalo terpaku pada kalimat “dilarang mudik”, maka yang dilarang ya memang hanya mudik dalam konteks perayaan – perayaan tertentu. Sementara yang tidak berbentuk perayaan tidak dilarang. Tapi secara tujuan, ini menjadi tidak sejalan dengan niat membatasi pergerakan manusia karena masih ada kegiatan “pulang kampung” yang bisa dilakukan.

Tapi, apapun itu yang dilarang pemerintah, sebaiknya kita pribadi harus sadar untuk menahan diri terlebih dahulu dengan tidak berpergian, terutama kalau kita dari zona merah, dan hendak bertemu keluarga di kampong. Kenapa? Kita sangat potensial menjadi carrier virus ini.

Kayaknya pemerintah harusnya ga perlu larang mudik bahkan kalau memang kita sadar potensi bahaya yang kita bawa. Memangnya kita se kanak-kanak itu ya sampe harus dilarang pemerintah untuk suatu hal yg sebenarnya baik untuk kita? Bukankah harusnya kita bisa berpikir sendiri tentang mana yang baik dan buruk untuk kita dan keluarga? Bukankah terlepas dari namanya apa, tapi kita harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan keluarga yang kita cintai?

Jangan lari dari esensi hanya karena soal narasi. Hidup gak sebercanda itu kawan, kecuali kalo emang mau bercanda tanpa lupa esensi. Sadari bahwa kita bisa membuat korban bertambah banyak lagi. Mari jaga diri dan mari berdoa agar semoga semua cepat berlalu dan kita bisa berkumpul dengan keluarga tercinta.

Muhammad Tanziel Aziezi (Azhe) merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2014, Program Kekhususan Hukum tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan (Pidana). Saat ini, Azhe aktif sebagai peneliti di bidang reformasi peradilan dan pengajar di salah satu perguruan tinggi hukum di Jakarta. Selain hukum pidana, Azhe juga memiliki ketertarikan pada hukum konstitusi, forensik, dan dunia musik. Azhe juga mengelola beberapa laman yang digunakan untuk membahas isu hukum dan musik, yaitu tulisan di www.kanggurumalas.com , dan podcast pada channel “kangguru molor”.

Leave a Reply