Kejujuran Dalam Dunia Akademis

Perkiraan Waktu Membaca: 4 menit
5
(1)

Pada tahun 2019 diadakan penelitian mengenai kejujuran di 40 negara. Para peneliti ini menaruh dompet berisi uang di beberapa tempat umum dan menunggu orang yang mengembalikan. Dari 40 negara yang dijadikan sebagai tempat penelitian, Indonesia menempati urutan ke-33 dengan 17 persen mengembalikan dompet kosong dan 32 persen mengembalikan dompet yang berisi uang.

Dari lima negara Asia yang dijadikan sebagai penelitian Thailand menempati posisi pertama dengan peringkat 28, India menempati posisi kedua dengan peringkat 30, Indonesia peringkat 33, Malaysia peringkat 35 dan Cina berada di posisi terakhir.

Nah, berperilaku jujur tidak sekedar mengembalikan dompet saja bisa juga dengan tidak mencontek saat ujian. Berperilaku tidak jujur bukan sangat tidak menguntungkan karena perbuatan ini merugikan banyak orang. Seperti kasus korupsi, penipuan, penggelapan uang dan banyak lagi. Maka dari itu kita harus menerapkan sifat jujur ke diri sendiri lalu ke orang lain.

Lingkungan keluarga dan sekolah merupakan tempat awal membentuk karakter jujur. Misalnya anak yang tidak mengerti suatu materi pelajaran mengatakan bahwa mereka mengerti materi tersebut dan saat ada ulangan siswa tersebut mencontek agar tidak terkena omel dan hukuman guru dan orang tuanya. Namun tidak jujur bisa juga terjadi karena melihat kebohongan disekitarnya contohnya anak kepalanya terbentur meja spontan orangtua menuju ke anak itu dan berkata “ Gapapa gak sakit ini mejanya yang salah.” Hal ini mengajarkan anak secara tidak langsung untuk ‘berbohong’ demi suatu kepentingan yaitu agar tidak menangis.

Apabila hal ini terbiasa maka berbahaya. Karena segala sesuatu yang besar bermula dari yang kecil untuk itu kita harus membiasakan diri untuk selalu jujur baik hal kecil maupun hal besar.

Jujur memiliki 3 tingkatan yaitu :

  1. Kejujuran dalam ucapan yang sesuai dengan kenyataan
  2. Kejujuran dalam perbuatan yang sesuai antara ucapan dan perbuatan
  3. Kejujuran dalam niat yang merupakan kejujuran tertinggi karena ucapan dan perbuatan hanya kepada tuhan.

Seorang guru dan orangtua harus menjadi teladan bagi anak karena anak belajar dari perbuatan sekitarnya. Jika guru dan orangtua ingin membangun karakter jujur dalam anak, karakter tersebut sudah terbiasa muncul dulu pada guru dan orangtua.

Apabila terjadi suatu kesalahan yang dilakukan oleh guru dan orangtua maka harus berani jujur mengakui kesalahannya dan meminta maaf serta mengintrospeksi dirinya lagi. Karena meminta maaf membuat anak belajar dan mengagumi orangtua dan guru tersebut.

Guru dan orangtua juga harus kritis dalam masalah siswa. Kebiasaan memberikan stimulus berupa sikap kritis guru terhadap masalah siswa serta reward dan hukuman yang diberikan oleh guru tentunya akan menyebabkan siswa merespon untuk tidak berbohong, karena siswa tersebut sering mengalami bahwa kejujuran harus menjadi pemenang dan untung, dan kebohongan akan kalah.

Selain itu dalam lingkungan pendidikan penilain karakter seharusnya masuk dalam kompetensi dasar setiap pelajaran agar anak tidak melulu terpaku pada nilai akademik namun juga dalam karakter.

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 5 / 5. Penilaian terhitung: 1

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Mahasiswa di UPN Veteran Jakarta

Leave a Reply