Buntut dari Fenomena Spill The Tea

admin

Buntut dari Fenomena Spill The Tea

Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, orang kini mudah untuk bergaul dan bercerita secara virtual melalui media sosial. Salah satu media sosial yang bisa kita jadikan tempat untuk berkeluh kesah dan berpendapat serta berpekspresi bebas yaitu Twitter. Di dunia twitter pasti sudah tidak asing dengan cuitan Spill The Tea, namun fenomena Spill The Tea yang awalnya terjadi di twitter kini telah merambah ke platform media sosial lain. Seperti instagram, youtube, dan tiktok.

Menurut Merriam-Webster Dictionary, kata tea tidak merujuk pada teh melainkan huruf T tersebut bisa kita artikan sebagai truth atau berarti kebenaran. Jadi, di era media sosial (medsos) seperti sekarang. Fenomena spill the tea dapat kita artikan sebagai undangan untuk menyebarkan gosip secara pribadi kepada publik untuk meminta fakta dari gosip yang beredar.

Fenomena Spill The Tea ini berawal dari mereka yang ingin membocorkan atau menspill sesuatu dengan membuat thread atau postingan yang berisi kronologi dari suatu masalah. Atau kejadian untuk mengungkapkan ketidakadilan dengan cara memberikan perlawanan. Dan menyuarakan sikap terhadap sesuatu yang dapat merugikan seseorang agar memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan. Karena dalam fenomena Spill The Tea biasanya identitas pelaku yang terungkap ke media sosial akan meninggalkan jejak.

Beberapa contoh kasus yang sering terungkap dengan menggunakan fenomena Spill The Tea ini. Yaitu kasus kekerasan seksual, bullying hingga pelayanan buruk suatu instansi pemerintahan maupun swasta.

Fenomena Spill The Tea ini memberika dua sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang dari sisi positif dan sudut pandang dari sisi negatif. Jika kita lihat dari sudut pandang yang positif. Spill the tea menjadi wadah para korban untuk bersuara dan akan sangat berguna dalam mengungkapkan kasusnya.

Lantas apa saja sisi postif dari Spill The Tea ini ?

Pertama, dalam kasus kekerasan seksual biasanya para korban tidak berani untuk menyuarakan apa yang sedang ia alami, karena korban merasa malu dan takut untuk melaporkan kasusnya. Jadi dengan adanya Spill The Tea ini, korban akan terbantu dalam mengungkapkan kasusnya. Bahkan bisa saja dengan diangkatnya kasus ini ke media sosial, jumlah korban menjadi bertambah dan ikut menyumbangkan suaranya. Sehingga terungkap bahwa pelaku tidak hanya memakan satu korban.

Kedua, memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan dengan cara menyebarkan identitas pelaku melalui media sosial. Dengan netizen melihat postingan tersebut, mereka akan ikut membantu menguak siapa pelaku ini dengan mengkorek – korek identitas pelaku melalui postingan postingan yang lama. Bahkan netizen akan memberikan hate comment atau komentar negatif yang mereka tunjukan kepada pelaku.

Ketiga, mendapatkan dukungan dari netizen agar korban tidak merasa sendirian dan korban tahu bahwa banyak yang perduli terhadapnya.

Lalu, bagaimana dengan sisi negatifnya ?

Pertama, Spill the tea bisa dijadikan manipulasi kasus atau hanya mencari sensasi semata. Jadi, pada kasus spill the tea kita harus bisa melihat dari kedua sisi baik korban dan pelaku. Agar tidak menimbulkan dugaan yang keliru dan justru menuduh pihak yang tidak bersalah.

Kedua, spill the tea juga bisa menjadi sarana untuk memojokkan korban bahkan sampai ke ranah bullying dan akan menambah beban korban yang tengah dirundung masalah. Karena, dalam kasus-kasus tertentu terdapat segilintir orang yang tetap saja menyalahkan korban, contohnya menyalahkan  pakaian yang korban kenakan.

Ketiga, dalam menggunakan media sosial memang harus berhati-hati. Kalau informasi yang di spill ternyata hoaks, maka pihak yang menyebarkan bisa mendapatkan jeratan hukum atas pencemaran nama baik dan dikenakan pasal UU ITE.

Sebagai warganet yang cerdas, sebaiknya informasi yang ingin di spill di cek terlebih dahulu mengenai kebenaran. Dan memahami konsekuensinya agar di kemudian hari tidak menjadi bumerang. Serta jika sedang membaca sebuah thread harus mampu bersikap bijaksana dan harus melihat dari kedua sisi dan berpikirlah sebelum berkomentar.