[Bukan Review] De Oost

Perkiraan Waktu Membaca: 5 menit
5
(1)

Film De Oost ternyata memang fiksi. Kalau saya menonton dengan pola pikir bahwa Raymond Westerling adalah tokoh nyata dan film ini bercerita tentang Raymond Westerling niscaya saya justru tidak akan menikmati. Ada detail-detail dari filmnya yang cukup mengganggu karena tidak sesuai dengan yang kuketahui. Justru lebih nyaman menontonnya sebagai fiksi.

Film ini memang berkisah tentang konflik Belanda dan Indonesia, tetapi salah besar jika orang Indonesia menonton ini berharap bisa terbangkitkan rasa nasionalismenya. Tidak! Film ini justru dari sudut pandang Belanda bukan dari sudut pandang Indonesia. Bahwasanya kebetulan ada oknum Belanda yang kejam, tidak menjadikan pihak Belanda sebagai pihak yang bersalah. Itulah alasan mengapa saya lebih menyukai Oeroeg dibandingkan De Oost, karena di Oeroeg, walau diambil dari sudut pandang Johan, tampak bahwa Indonesia punya alasan kuat untuk meminta merdeka.

Menurutku, orang Indonesia justru harus menonton film ini bukan dalam kerangka menyaksikan fiksi perang Belanda vs Indonesia, tetapi kerangka fiksi konflik prajurit dari pemerintah pusat yang meredam pemberontakan di daerah.

Di awal kisah, digambarkan bahwa tokoh utama, Johan de Vries, berasal dari negeri yang baru merdeka, melalui perang yang dahsyat. Ayah Johan adalah pengkhianat yang bekerja bersama si penjajah negeri itu dan karena itu Johan ingin membuktikan bahwa ia adalah seorang patriot. Ia dijejali bahwa daerah ia ditugaskan, penduduknya sudah dicuci otak oleh bangsa asing (Jepang) dan karena itu ia dan rekan-rekannya bertugas untuk menjaga keamanan.

Kenyataannya, di antara rekan-rekan seniornya ternyata sangat sedikit yang pernah melihat pemberontak. Yang ada, dari kegelapan, rekan mereka tewas dan pelaku kemudian menghilang. Johan, berusaha belajar bahasa daerah, agar bisa lebih mendekati penduduk. Ia melihat sendiri bagaimana penduduk pribumi tewas oleh pemberontak yang mengaku sebangsa. Di saat yang sama, rekan pribuminya merasa tidak sebangsa dengan para pemberontak. “Kalianlah yang membuat kami menjadi satu negara”, ketika ditanya oleh Johan.

Ketika salah satu desa pribumi terancam oleh pemberontak, atasannya tidak tertarik menurunkan pasukan. Pada saat itulah Johan akhirnya meminta bantuan tokoh kharismatik, Ratu Adil, untuk membebaskan desa itu. Setelah itu, Ratu Adil ternyata juga tertarik kepada Johan dan memberikan kesempatan kepadanya untuk membalas dendam.

Johan semakin dekat dengan Ratu Adil dan akhirnya direkrut ke dalam pasukan khusus. Sebelum mereka diberangkatkan untuk tugas baru, Johan baru menyadari, ternyata sosok pribumi yang dekat dengannya selama ini ternyata menyembunyikan rahasia. Johan merasa sedih dan dikhianati dan ia berangkat dalam tugas barunya, siap untuk tugas seberat apapun, siap untuk berjalan di atas genangan darah.

Namun, ternyata, sebesar apapun rasa benci Johan terhadap pribumi, ternyata ada batas-batas kekejian yang mengusik rasa kemanusiaan dan itu mengguncang Johan bahkan hingga perang usai sekalipun.

Kisah Johan, walau fiktif, sebenarnya cukup umum. Gantilah nama Raymond Westerling dengan figur-figur karismatik perang, gantilah setting dengan konflik-konflik lain temanya tetaplah sama.
Ini bukan kisah penyesalan tentara Belanda karena menjajah pribumi, menembaki penduduk pribumi. Kini kisah konflik tentara Belanda yang resah karena berada pada pasukan yang tidak berperilaku sebagai seorang bangsa beradab, yang membiarkan proses eksekusi tanpa proses pengadilan.

De Oost selain mengandung kekerasan juga mengandung adegan seks dan lelucon seksual jadi jangan ajak anak kecil menonton.

De Oost bisa ditonton secara legal di Indonesia melalui MolaTV.

 

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 5 / 5. Penilaian terhitung: 1

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Leave a Reply