Susi, Sang Ratu Pantai Selatan

Satu hal yang melengkapi kekecewaan saya atas Kabinet Jokowi-Ma’ruf sekarang ini adalah ketiadaan seorang Susi Pudjiastuti di dalamnya. Bagi saya, sosok Susi adalah satu dari sedikit figur di sekitar Jokowi yang layak mendapatkan kredit poin nan tinggi.

Pertama, dia adalah representasi dari sosok Srikandi Indonesia sebenarnya. Perempuan nan cerdas, idealis, berintegritas tinggi, serta cuek dan masa bodoh dengan segala macam gimik-gimik yang sifatnya tidak esensial. Sosok perempuan modern dan feminis liberal yang mampu mendobrak segala kungkungan hiearkhi patriarkhis, namun masih mencintai budayanya. Terbukti dari kecintaanya memakai kebaya, yang tentu membuatnya terlihat lebih cantik dan elegan.

Kedua, dan yang terpenting, dia adalah satu dari sedikit sekali (mantan) orang di sekitar Jokowi yang masih peduli dengan isu eco-social justice atau keadilan sosial dan ekologi.

Susi adalah perempuan perkasa dan bernyali tinggi yang berani menghancurkan struktur feodal dalam lingkaran istana. Peduli setan dengan penentangan yang diberikan oleh Luhut yang notabene adalah atasannya selaku Menko Maritim, plus juga dengan ketidakjelasan sikap Sang Presiden, Susi di akhir masa jabatannya telah mengeluarkan surat keputusan yang membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa (yg mrp proyek milik taipan Tommy WInata), dan sekaligus menetapkan kawasan ini sebagai kawasan konservasi

Selain itu, ia adalah sosok pelindung dan pengayom para nelayan. Satu hal yang menjadi fokus utama selama masa jabatannya sebagai Menteri KKP adalah melindungi para nelayan kecil dan kelestarian laut dengan melarang penangkapan ikan dilakukan oleh nelayan dan industri asing serta oleh kapal bertonase besar. Dengan begitu, ekosistem laut khususnya ikan akan terjaga dan berkembang melimpah, yang semua itu hanya untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat (nelayan) Indonesia. Tak peduli banyak yang mengkritik karena ekspor ikan Indonesia rendah sehingga tidak cukup bisa mendongkrak devisa. Sebab, jika tujuannya hanyalah semata-mata untuk mengejar nilai ekonomi dari ekspor dan devisa, maka dalam konteks penangkapan ikan, hal tersebut hanya bisa dipasok oleh industri berkapital besar, yang tentu saja akan didominasi oleh pemain asing. Untuk apa mengejar nilai ekonomi jika ujung-ujungnya hanya akan memiskinkan nelayan Indonesia dan mengancam kelestarian laut?

Dari hal-hal di atas, jelas betapa kiprah yang telah dilakukan oleh seorang Susi Pudjiastuti adalah kiprah yang sangat progresif dengan keberpihakan yang jelas kepada lingkungan dan nelayan kecil. Oleh karena itu, tak salah kiranya komika Kiki Saputri di acara di Kompas TV beberapa hari yang lalu menjulukinya sebagai “Ratu Pantai Selatan”. Karena juga selain ia berasal dari Pangandaran, Susi telah benar-benar mengabdikan dirinya dalam melindungi dan mengayomi kelestarian laut dan kesejahteraan rakyat yang hidup darinya.

Bon voyage, bu Susi. Though you are no longer in your position, you have proven your impressive capacity to the people in your country and to the world. I wish, somehow, you will be the leader of your country in the future. Semoga sehat terus dan Semesta senantiasa memberikan perlindungan kepadamu. Rahayu, rahayu, rahayu….

 

Leave a Reply