Terminologi Narkotika, Narkoba atau Napza? Sebuah Tinjauan Dalam Upaya Advokasi

Dalam pelaksanaan P4GN (Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba), Badan Narkotika Nasional (BNN) menggunakan terminologi Narkoba dalam penyebutan zat psikoaktif yang menjadi sasaran. Singkatan dari Narkoba itu sendiri adalah Narkotika dan Obat/bahan berbahaya. Penggunaan terminologi ini memberikan kesan dan pesan bahwa segala sesuatu yang dikategorikan sebagai Narkoba adalah zat ilegal yang berbahaya.

Kementerian Kesehatan dalam upaya promotif, preventif dan kuratif menggunakan terminologi Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif. Terminologi ini digunakan dengan mengacu pada pembagian kategori substances (zat psikoaktif) yang bila dikonsumsi akan mempengaruhi mood, cara berpikir dan lainnya.

Istilah Narkotika itu sendiri sangat populer digunakan selama ini, sayangnya terminologi ini lebih memberikan kesan negatif pada zat itu sendiri. Narkotika atau narcotics (obat bius) yang dalam bahasa yunani adalah narcose memiliki arti membius atau menidurkan. Zat psikoaktif dalam kategori narkotika banyak digunakan dalam dunia medis untuk tindakan anastesi.

MUST READ  Plus Minus Bonus Demografi Indonesia di Masa Depan

Dalam upaya advokasi kebijakan Napza yang dilakukan oleh Komunitas, masyarakat sipil dan akademisi penggunaan terminologi yang digunakan pun masih beragam. Beberapa pihak menegaskan agar tidak menggunakan istilah narkoba namun menggunakan terminologi narkotika dengan alasan narkotika lebih netral, tidak mendiskreditkan zat tersebut dan khususnya para penggunanya.

Harapan penggiat advokasi atas kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang berbasis bukti ilmiah tentunya harus dibarengi dengan penggunaan terminologi yang berbasis bukti. Berdasarkan teori farmakologi, zat psikoaktif terbagi menjadi 4 golongan, yakni:

  1. Stimulan : zat psikoaktif yang meningkatkan aktivitas pada susunan saraf pusat (pemompaan darah semakin cepat, detak jantung dan nafas meningkat, dsb.) serta mempercepat proses mental, membuat orang waspada, dan bersemangat. Beberapa contoh zat yang termasuk dalam gol. stimulan antara lain kafein, nikotin, amfetamin dan sejenisnya, kokain, Ritalin, deksamfetamin, dsb.
  2. Halucinogen secara signifikan dapat mengubah dan menyebabkan distorsi tentang persepsi, kondisi pikiran, dan lingkungan. Distorsi itu menyebabkan penggunanya melihat atau mendengar sesuatu sangat berbeda dari sebenarnya (atau sebenarnya tidak ada). Beberapa zat yang termasuk dalam gol ini adalah Lysergic Acid Diethylamine (LSD), Magic Mushroom, Meskalin, biji peyote, dsb.
  3. Opioid (Narkotika), salah satu zat psikoaktif yang dalam dunia medis digunakan sebagai obat anti nyeri atau obat anastesi yang dapat berikatan secara spesifik dengan reseptor opioid di tubuh manusia. Zat yang terkandung dalam golongan opioid antara lain Heroin, morphin, opium dll.
  4. Depresan memiliki efek memperlambat aktivitas pada susunan syaraf pusat, orang yang mengkonsumsi umumnya akan merasa lebih santai. Beberapa contoh zat dalam golongan ini antara lain Alkohol, Valium, Rohypnol, Serapax, Temazapan, kodein, Panadin dll.
MUST READ  Sedikit lagi tentang Banjir

Selain 4 golongan diatas, terdapat golongan “Others” (zat lain) yang secara efek samping dan dampak memiliki ciri khas tersendiri. Beberapa jenis Zat tidak tepat dimasukan dalam sebuah kategori, namun merupakan beberapa kategori (Others) : Cannabis/Kanabinoid (Ganja, Hashish), Khat, Anestesi Disosiatif (PCP, Ketamine), Larutsn inhalan, Nitrit.

Berdasarkan penjabaran dari penggolongan zat psikoatktif diatas, maka dapat dicari penggunaan terminologi yang dirasa paling tepat yang merangkum semua golongan diatas.

Leave a Reply