Sekelumit Tentang Jean Jacques Verges : Seorang Advokat Yang Anti-Kolonialisme Sekaligus Pembela Penjahat Perang

Perkiraan Waktu Membaca: 9 menit
4
(4)

Jean Jacques Verges, lahir di Thailand 1925, ia adalah pengacara pembela perkara pidana asal Prancis yang kontroversial karena kliennya merupakan orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan perang dan teroris. Dia diberikan julukan The Devil’s Advocate. The Devil’s Advocate itu sendiri sering diartikan sebagai orang yang investigatif, argumentatif, debater, dan meragukan setiap hipotesa yang diajukan kepadanya, serta mengujinya secara dialektik. Verges lahir di Thailand pada tahun 1925.

Ayahnya seorang Prancis dan ibunya seorang Vietnam. Perlu diketahui, pada masa itu pernikahan beda ras dilarang oleh otoritas Prancis. Ibunya kemudian meninggal pada saat dia berumur 3 (tiga) tahun. Situasi tersebut, kemudian membuat dia tidak pernah berkomunikasi lagi dengan keluarga dari ibunya. Pada saat itu ibunya hanya meninggalkan harta warisan dalam bentuk perhiasan.

Verges memiliki masa kecil dengan penuh kemarahan, dan menyebutnya sebagai seseorang yang mengalami split-personality karena dia berada dalam tegangan antara Prancis dan Vietnam. Dia juga mengatakan bahwa dirinya mewarisi semangat perjuangan anti-kolonialisme dan kerap menyuarakan perlawanan tersebut melalui demonstrasi dengan temannya yang non-kulit putih.  Pada tahun 1942, dia  bahkan pernah secara sukarela bergabung dengan pasukan pembebasan Prancis yang dipimpin oleh General Charles De Gaulle  dalam menentang invasi Nazi Hitler.

Dapatkan kabar terbaru langsung di ponsel anda dengan bergabung di Whatsapp Group atau Subscribe di Telegram Channel

Sederhana dan mudah!

Setelah itu, Verges kemudian mengambil studi di University of Paris, dengan mempelajari soal kemanusiaan, kebudayaan timur, termasuk studi kontemporer tentang Pol Pot yang merupakan seorang Khmer Rogue dan suatu saat menjadi perdana menteri Kamboja. The New York Times pernah menyebut Pol Pot merupakan pemimpin abad ke 20 (dua puluh) yang paling kejam dan brutal karena melakukan genosida (genocide) terhadap warga negaranya. Pada tahun 1957, pembelaannya yang cukup terkenal adalah ketika dia membela Djamila Bouhired yang merupakan seorang anggota Front Pembebasan National Algeria (FLN) dalam perkara terorisme yang dituduh sebagai aktor pelaku pemasangan bom di café dan bar Algiera.

Konteks pada masa itu memang sangat aktif dengan gerakan anti-kolonialisme Prancis dimana salah satu motor penggeraknya adalah FLN itu sendiri. Salah satu trademark yang paling terkenal dari strategi  Verges dalam upaya melakukan pembelaan terhadap Bouhired pada saat itu adalah dengan apa yang dia sebut dengan istilah Legal Rupture (la defense de la rupture). Meminjam istilah Jean Jacques Derrida dalam tulisannya Force Of Law, Legal Rupture semacam upaya untuk melakukan dekontruksi terhadap definsi/narasi besar yang didefinitifkan terhadap Terdakwa.

Misalnya, jika Bouhired dituduh dan didefinitifkan sebagai pelaku terorisme oleh hakim prancis yang diangggap  kolonialis pada masa itu, maka Verges melakukan dekonstruksi/Legal Rupture terhadap definisi  tersebut dengan menyebut Bouhired sebagai pejuang kebebasan (freedom fighters) untuk Algeria. Strategi tersebut kemudian dianggap efektif, setidaknya dalam upaya menarik simpati publik walau pada akhirnya Verges mengalami suspend dari organisasi advokat Paris (Paris Bar). Bouhired sendiri akhirnya terbukti mengalami penyiksaan namun tetap divonis hukuman mati karena dituduh sebagai aktor yang melakukan pemasangan bom. Namun alasan dan dukungan politik pada masa itu, Bouhired tidak menjalani hukuman matinya dan pada akhirnya dibebaskan.

Pada tahun 1963, Verges kemudian menikah dengan Bouhired tidak lama setelah dia keluar dari penjara. Verges memang sosok pengacara yang kontroversial dan dianggap berbahaya oleh pemerintahan Prancis pada masa itu. Sebagai konsekuensinya, agen rahasia Perancis kerap membuntutinya dan mencoba untuk melakukan pembunuhan terhadapnya. Kontroversialnya terus berlanjut, ketika dia juga mulai menangani dan membela perkara Front Pembebasan Palestina.

Verges juga pernah membela Klaus Barbie “The Butcher of Lyon” yang merupakan mantan kepala Gestapo Nazi Jerman yang persidangannya pada saat itu diadakan di Lyon, Prancis pada tahun 1987 atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan (Crime Against Humanity). Pada saat itu, hanya dengan seorang diri, dia menghadapi 39 (tiga puluh Sembilan) orang penuntut umum sekaligus dalam perkara tersebut. Sambil berucap kepada jurnalis yang meliput persidangan pada saat itu Verges berkata, “saya berasumsi, pembelaan terhadap Barbie cukup dengan saya seorang diri dengan melawan mereka semua”.

Selain itu, dia juga membela Magdalena Kopp yang merupakan seorang anggota Germany Red Army Faction (RAF) yang tertangkap di Paris. Berikut dengan pasangannya Ilich Ramirez Sanchez “Carlos The Jackal”, seorang Venezuela yang dituduh sebagai mastermind kasus-kasus ledakan bom, penculikan, dan pembajakan dalam skala internasional. Bahkan dia pernah memberi nasihat hukumnya terhadap Saddam Husein.

Verges memang seseorang yang sangat percaya diri atas kompetensinya selaku pengacara pembela perkara pidana internasional,  sekaligus juga kontroversial, sehingga dia juga pernah berucap, bahwa dia juga siap membela Muammar Gadafi. Klien dia yang terakhir adalah Khieu Samphan, salah seorang petinggi Khmer Rogue Kamboja yang divonis seumur hidup  karena telah melakukan Genosida (Genocide). Dalam suatu kesempatan seorang jurnalis mendatangi Verges ke kantornya di Paris. Ruangan kerjanya tampak penuh dengan ornamen dan cendera mata klasik yang dia akui hasil dari pemberian klien-klien internasionalnya.

Sebagai seorang pengacara pembela pidana, Verges selalu tampil dengan gaya flamboyannya lengkap dengan suit yang dia kenakan sambil menghisap cerutu Kuba. Si Jurnalis akhirnya melontarkan pertanyaan kepadanya, “apakah anda akan membela Hitler juga’?”, Verges menjawab sambil tersenyum “bahkan George W Bush pun akan saya bela jika dia mengaku bersalah”. Selain menjalani karirnya selaku Pengacara, Verges juga memiliki pergaulan internasional yang luas.

Bahkan dia berteman dengan pemimpin-pemimpin dunia seperti Mao Zedong, Che Guevara, dan Pol Pot. Dalam sebuah sesi wawancaranya dengan SPIEGEL INTERNATIONAL, saya akan mengutip secara langsung bagian-bagian penting yang menurut saya jadi landasan serta alasan Verges dalam membela klien-klien internasionalnya. Jawaban-jawabannya ternyata mengejutkan kita, sebagaimana kutipan di bawah ini :

I believe that everyone, no matter what he may have done, has the right to a fair trial. The public is always quick to assign the label of “monster.” But monsters do not exist, just as there is no such thing as absolute evil. My clients are human beings, people with two eyes, two hands, a gender and emotions. That’s what makes them so sinister ;

Jean Jacques Verges, seorang pengacara pembela pidana yang kontroversial, namun sekaligus terkesan paradox. Semangat anti-kolonialisme terhadap kekuasaan dominan, justru tidak membuat dia surut dalam menjalankan profesinya sebagai pengacara dalam membela pelaku-pelaku kejahatan internasional dalam level pemimpin-pemimpin negara. Saya tidak akan berasumsi apapun soal Verges, apalagi soal moral. Ini hanya sepenggal kisah dari seorang pengacara pembela pidana yang bernama Jean Jacques Verges yang telah malang melintang dalam dunia pengacara kelas internasional dengan sejumlah polemiknya. Sebagai penutup, dalam sebuah film dokumenter yang berjudul “Advocate’s Terror” seorang jurnalis bertanya kepadanya, “apa itu advokat” ? Dia menjawab, “Vision of life”.

Gambar diambil disini

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 4 / 5. Penilaian terhitung: 4

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Eko Haridani Sembiring Depari, S.H adalah Founder dan Partner di Depari and Vretania (DNV) Law Firm. Mengawali karir sebagai Advokat di LBH Jakarta dalam program Criminal Defense Lawyer (CDL) yang diselenggarakan oleh LBH Jakarta dengan Australia-Indonesia Partnership For Justice (AIPJ). Setelah menyelesaikan program CDL, Eko terlibat dan bekerjasama dengan Justitia Law Firm yang diketuai oleh alm. Prof. Muladi dalam menangani kasus-kasus High-Profile khususnya yang berkaitan dengan pidana.

Eko juga aktif menulis pandangannya mengenai politik, hukum ketatanegaraan, dan pidana di berbagai media massa.

Selain sebagai advokat, Eko juga menjabat sebagai Komisaris Utama di PT Mahara Artha Senandika yang bergerak di bidang alat kesehatan Biosystem.

Eko juga aktif sebagai anggota di Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI)

Leave a Reply