Saya, Kebodohan Saya dan B.J. Habibie

Saya berencana menulis ini di masa hidupnya, tapi bodoh, terus saya tunda, sampai hari ini datang dan satu keinginan saya, bertatap muka dan sampaikan rasa kagum sekaligus maaf saya tak tersampaikan.

Saya lahir di Dili, Timor Leste (Dahulu Timor-Timur/Tim-Tim) sampai akhirnya kami sekeluarga harus pindah ke Medan karena Tim-Tim merdeka. Dalam darah saya yang 100% batak ini, mengalir cinta untuk tanah timor lorosa’e, bagi Erasmus Kecil, Rumah itu ya Timor, bukan medan ataupun balige asal marga saya.

Saya merasakan pertumpahan darah di timor, saya saksi kerusuhan, saya punya teman bermain di pagi hari lalu tak lagi berjumpa esok harinya, saya saksi kekerasan aparat pada rakyat timor, saya ingat betul teman saya yang anak nelayan naik ke truck tentara karena kata teman saya yang lain, teman saya ini menyimpan bendera fretelin. Tapi dulu saya tak tahu apa yg terjadi, sangkin seringnya melihat kondisi itu, menemukan selongsong peluru sampai peluru aktif di jalanan ke sekolah itu keseharian di sana, biasa biasa saja, saya bahkan heran, kenapa orang timor mau merdeka, kan hidup kita enak?

Bagi saya yang orang Indonesia, memiliki privilege itu konsekuensi setia pada tanah air. Kata “setia” itu membuat saya benci betul atas keinginan merdeka. Hasilnya saya benci dengan mahasiswa yang menggulingkan Soeharto sehingga berakibat ada presiden baru yang membuat Indonesia lepas. Dasar GPK (Gerakan Pengganggu Keamanan)! dan “Penghianat!” ujar saya. Saya mendeklarasikan diri menjadi Pendukung berat Soeharto, menilai dia Presiden terbaik bangsa, kalau saja pak harto masih ada, jelas saya tak perlu terusir dari rumah sendiri. Keinginan saya membela Soeharto membuat saya mau menjadi Pengacara, tercapai, tapi belakangan tujuannya saya ganti, berlawanan dgn tujuan awal saya. Hehehe.

Kebencian saya menular dan mengakar pada si Presiden baru, BJ Habibie. Saya benci setengah mati. Saya kesal. Usia saya masih SD, tpi saya sudah ikut ikutan menyebut beliau Habibi atau “hari hari bikin bingung”. Saya ingat bagi saya dia orang paling bodoh, tidak kompeten dan penghianat. Belakangan, saya baru sadar, saya lah yang bodoh, saya lah yang jelas tak tahu apa-apa dan harus saya akui saya benar banar malu.

Rasa malu saya bertambah ketika bekerja di ICJR lembaga non Pemerintahan yang bekerja utk isu peradilan pidana dengan dasar HAM, anak kandungnya ELSAM, salah satu lembaga rumahnya kajian dan advokasi HAM terbesar di Indonesia, artinya saya punya akses berbicara, berbincang dan belajar ttg HAM dan Kebebasan sipil. Saya akhirnya berlabuh dengan membaca bahan bahan kajian, dokumentasi dan fakta tentang Timor Timur dan lebih lagi, berkesempatan mengenal BJ Habibie.

Saya malu.

Pak Habibie dalam tubuh mungilnya ternyata sangat besar. Sangat besar, sampai saya harus memaki diri saya sendiri. “Bodoh!”, “Goblok!” Saya terus sebut dalam hati. Mengetahui laki-laki bertubuh mungkin setengah saya ini, punya keberanian melawan penjajahan, membongkar Undang-undang bermasalah dan menindas rakyat, menegakkan demokrasi dan Konstitusi, melindungi Perempuan dan banyak lagi, begitu banyak hingga sampai dengan tulisan ini saya buat, saya masih malu untuk mengingat ingat Kebodohan saya.

Puncak dari rasa malu saya dan keinginan saya untuk meminta maaf langsung pada beliau adalah ketika hangat eksekusi mati, Presiden dengan bangga dan heroiknya mengumumkan akan ada eksekusi mati, penting, untuk menunjukkan negara ini tidak terlalu bodoh untuk melanjutkan kegagalan soal Penanggulangan narkotika. Satu dari terpidana mati itu adalah alm. Zulfiqar Ali, WN Pakistan, yang dijebak, sakit hingga harus dirawat intensif di RS, tapi tetap dipaksa pindah ke Nusa Kambangan untuk dieksekusi mati demi lebel “anti narkoba”.

Kami benar benar sibuk, hampir semua NGO, memikirkan strategi melawan rencana eksekusi. Sampai sebuah berita membuat kami semua terdiam. Pak Habibie, diam diam mengirim surat ke Presiden, meminta agar ada nyawa yang diampuni, beliau menulis nama Zulfiqar Ali dalam suratnya, saya bisa paham knp nama Zulfiqar yang dipilih pak Habibie, sebagai seorang ilmuwan, beliau butuh bukti kuat, dan kasus Alm. Zulfiqar pernah diteliti oleh tim bentukan Kumham. Seorang Presiden dgn kemampuan analisis berbasis data yang kuat, jarang.

Bagi saya dan teman2 kasus Zulfiqar Ali dan kasus kasus hukuman mati sangat personal, sebagian kami bertemu langsung dgn terpidana mati atau keluarga nya. Saya tak akan berpanjang panjang, yang jelas, apa yang dilakukan Pak Habibie, akhirnya menyelamatkan nyawa Zulfiqar Ali, membuat kami lebih kagum lagi.

Saya harus mengakui secara publik. Saya bodoh karena tidak membaca lebih, ketidaktahuan saya membuat saya malu, tapi kebesaran beliau, pak Habibie membuat saya luluh. Saya menyerah, saya begitu mengagumi beliau.

Tulisan ini saya tuliskan tulus. Untuk Beliau dan keluargnya, untuk mereka yang juga mengagumi beliau. Karena saya percaya, kubur terlalu kecil untuk mengekang cita cita beliau terhadap bangsa dan kemanusiaan.

Pak Habibie, saya minta maaf atas ketidaktahuan saya, atas Kebodohan saya. Saya hanya berharap, semangat bapak, hidup dalam kami.

Terima kasih Eyang. Sudah selesai pertandingan mu di Dunia. Istirahatlah, bertemu dwi tunggal mu di surga. Tuhan bersama mu.

Amen.

Advokat dan Direktur Eksekutif ICJR

Leave a Reply