Reynhard dan Kemarahan Kita

Tahun 2020 baru berjalan beberapa hari, kita sudah digemparkan dengan pemberitaan mengenai Reynhard Sinaga yang “mencoreng muka” Indonesia karena ulahnya di perantauan melakukan pemerkosaan terhadap ratusan pemuda setempat. Karena “prestasi”-nya ini, pengadilan di Inggris di mana ia melakukan kejahatannya pun mengganjarnya dengan hukuman penjara dalam waktu yang sangat lama.

Seperti yang dapat diduga, reaksi di tanah air pun bermunculan. Semua marah, geram, kesal dengan segala bentuk ekspresinya mulai dari mengutuk, memaki hingga menghujat. Sebagian mengaitkan perbuatan yang dilakukannya tersebut dengan orientasi seksual tertentu. Sebagian reaksi juga ada yang berlebihan, menelisik hingga ke urusan keluarga si pelaku seolah mereka belum cukup terpukul dengan apa yang diperbuat salah-satu anggotanya tersebut.

Namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah esensi dari apa yang dilakukan oleh Reynhard yang membuatnya harus menghabiskan hari depan di balik jeruji: bahwa ia melakukan hubungan seksual dengan orang lain secara non-konsensual, di luar kehendak dan bahkan pengetahuan para korbannya, dengan PAKSA!

Dalam hal ini, saya harus akui memang kasus Reynhard termasuk kasus yang langka. Bukan karena orientasi seksualnya, bukan pula karena jumlah korbannya. Tapi karena ia ketahuan. Karena salah satu korbannya melawan. Karena korbannya yang melawan tersebut melaporkan perbuatannya kepada pihak berwajib. Karena pihak berwajib serius menindaklanjuti laporan salah satu korbannya tersebut. Dan tentu saja karena Reynhard sendiri punya andil yang tak kalah konyol dalam kejatuhannya: ia mendokumentasikan apa yang ia perbuat terhadap banyak korbannya di dalam telefon genggamnya, yang kemudian berada di tangan sang korban terakhir dan menjadi bukti kunci bagi pihak berwajib.

Ya, sungguh-sungguh langka…

Karena jika kita kembali kepada esensi perbuatannya tadi, maka bukan tidak mungkin masih banyak Reynhard-Reynhard lain di luar sana yang berkeliaran untuk melampiaskan hasrat seksualnya kepada orang lain secara paksa. Terlepas dari jenis kelamin si korban, dan terlepas juga dari orientasi seksual si pelaku.

SECARA PAKSA!
Entah dengan obat atau minuman hingga korban hilang kesadaran atau akal sehat, entah dengan ancaman kekerasan atau senjata, ataupun dengan kekuasaan.

Bukan tidak mungkin, bahkan bisa jadi dengan jumlah korban yang jauh lebih banyak. Dimana korbannya tak mau atau tak berani melawan. Dimana korbannya ingin melawan namun tak berdaya. Bisa jadi korbannya melawan dan melapor namun diabaikan. Bisa jadi korbannya melawan dan melapor namun justru malah dipersalahkan, semakin dilecehkan dan tertekan.

Maka jika kita geram dan marah, janganlah kita geram dan marah hanya kepada Reynhard seorang. Geram dan marahlah juga kita kepada siapapun yang seperti Reynhard, merasa sah-sah saja menikmati hubungan seksual dengan orang lain secara paksa. Geram dan marahlah juga kita kepada siapapun yang mengabaikan dan mempersalahkan siapapun yang menjadi korban hubungan seksual secara paksa ketika mereka meminta keadilan. Geram dan marahlah juga kita kepada siapapun yang menolak untuk mengakui bahwa tidak ada yang pantas dan benar dari hubungan seksual yang dilakukan tanpa dilandasi kemauan dan kerelaan yang sadar tanpa tekanan dan paksaan dari kedua pihak yang melakukannya.

Dan semoga kita semua bisa berlaku adil.

Leave a Reply