Urgensi Akuntansi Forensik, Karena Korupsi itu Soal Fulus

Hingga detik ini, korupsi masih menjadi masalah pelik di Indonesia. Meskipun ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), faktanya rasuah masih merajalela. Dan ketika kita berbicara tentang korupsi, maka otomatis kita berbicara tentang fulus alias uang. Ya, setiap korupsi memang pasti melibatkan uang haram.

Lantaran korupsi melibatkan uang, maka praktik pemberantasan korupsi muncullah metode yang dinamakan follow the money (FTM). Sejalan dengan istilahnya, FTM adalah metode pengungkapan kasus kejahatan dengan cara mengikuti jejak uang.

Sejatinya, FTM pertama kali dikenal sebagai metode pengungkapan kasus-kasus narkotika, khususnya di Amerika Serikat. Lalu, metode ini diformalkan dalam Convention Against Illicit Traffic in Narcotics and Psychotropic Substance yang disahkan di Wina, Austria pada tahun 1988.

Dianggap sukses mengungkap sejumlah kasus narkotika, FTM kemudian diadopsi untuk pengungkapan kasus-kasus korupsi. Di Indonesia sendiri, FTM telah diadopsi secara formal melalui UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

TPPU atau populer disebut money laundering memang sangat erat kaitannya dengan korupsi. Salah satu dasar argumennya adalah data KPK (2005-2015) yang menyebutkan bahwa mayoritas kasus TPPU di Indonesia berpangkal pada kejahatan korupsi.

Menurut eks Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, metode FTM memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode lain. Pertama, metode FTM dapat menjangkau pelaku yang lebih luas, sehingga kecil kemungkinan ada pelaku yang lolos.

MUST READ  Keuntungan Fintech Bagi Pengguna dan Pelaku

Kedua, metode FTM berorientasikan pada hasil kejahatan bukan pelakunya. Dengan begitu, metode FTM dapat dilakukan secara diam-diam tanpa perlu berhadapan langsung dengan pelaku sehingga relatif lebih aman dari upaya perlawanan secara fisik dari pelaku. Ketiga, metode FTM memberikan kewenangan kepada penegak hukum untuk menerobos aturan kerahasiaan data perbankan demi kepentingan penyelidikan/penyidikan hukum.

Walaupun sudah diadopsi ke dalam hukum Indonesia, sayangnya FTM belum banyak diterapkan oleh penegak hukum dalam penanganan kasus korupsi. Penegak hukum cenderung lebih memilih metode konvensional, yakni follow the suspect atau ikuti jejak pelaku ketimbang FTM.

Dari sekian banyak kasus korupsi, hanya beberapa yang menerapkan metode FTM. Salah satunya kasus L/C fiktif BNI senilai Rp1,7 triliun. Kasus mega korupsi ini menjadi bukti nyata betapa ?ampuhnya? FTM dalam membongkar kasus korupsi karena dengan menelusuri jejak uang, terungkap bahwa tidak hanya pejabat BNI, kalangan swasta dan aparat penegak hukum pun terlibat.

Belum efektifnya penerapan FTM bisa disebabkan banyak faktor, salah satunya terkait kompetensi SDM aparat penegak hukum. Untuk menerapkan metode FTM memang membutuhkan ilmu dan ketrampilan khusus yang disebut akuntansi forensik.

Mengutip Larry Crumbley dalam Journal of Forensic Accounting, akuntansi forensik merupakan perpaduan antara ilmu akuntansi dan ketrampilan audit serta investigasi. Fungsi akuntansi forensik adalah membongkar kejahatan dengan cara menelusuri transaksi ekonomi yang terjadi di dalamnya.

MUST READ  5 Cara Cepat Fresh Graduate Mendapatkan Pekerjaan

Di kalangan masyarakat awam, istilah akuntansi forensik seringkali disamaartikan dengan istilah audit. Walaupun subjeknya bisa jadi sama, dalam arti seorang auditor mungkin saja memiliki juga ketrampilan akuntansi forensik, namun hakikatnya dua istilah memiliki perbedaan.

Pertama, dari segi waktu pelaksanaan. Audit identik dengan pekerjaan yang bersifat rutin, periodik, berulang atau teratur. Sementara, akuntansi forensik adalah pekerjaan yang bersifat insidentil atau kasuistis (case by case). Artinya seorang akuntan forensik mulai bekerja jika terdapat indikasi kecurangan atau penyelewengan yang terkait transaksi keuangan.

Kedua, dari lingkup pemeriksaan. Baik itu audit maupun akuntansi forensik, kegiatan utamanya adalah melakukan pemeriksaan. Namun, objek pemeriksaan audit adalah laporan keuangan secara menyeluruh. Sedangkan objek pemeriksaan akuntansi forensik adalah bagian spesifik dari laporan keuangan yang terindikasi terjadi kecurangan.

Ketiga, dari output pemeriksaan. Output dari pemeriksaan audit adalah pendapat atau kesimpulan umum atas laporan keuangan yang diperiksa. Sementara output dari pemeriksaan akuntansi forensik adalah temuan-temuan tentang dugaan kecurangan, termasuk nilai kerugian, modus kejahatan, serta pelaku.

Keempat, dari segi teknik pemeriksaan. Pelaksanaan audit secara umum hanya bertumpu pada teknik analisa data dari laporan keuangan. Sementara, pelaksanaan akuntansi forensik selain analisa data, juga menerapkan teknik wawancara mendalam (indepth interview) terhadap pihak-pihak terkait.

MUST READ  Tentang Pencucian Uang

Seiring dengan semakin canggihnya modus kecurangan atau penyelewengan, terutama dalam konteksi korupsi, perkembangan akuntansi forensik sebagai sebuah disiplin ilmu juga semakin pesat. Beragam teori, metode, serta panduan praktik baru seputar akuntansi forensik pun bermunculan.

ICJR Learning Hub ingin mencoba memfasilitasi kebutuhan para peminat bidang akuntansi forensik yang ingin up-to-date terhadap perkembangan dunia akuntansi forensik. Melalui terobosan metode e-learning, Anda akan disajikan dengan materi pembelajaran yang komprehensif serta instruktur yang kompeten di bidang akuntansi forensik.

E-learning ini cocok bukan hanya untuk pekerja instansi pemerintahan, tetapi juga pekerja sektor swasta karena fraud juga berpotensi terjadi di korporasi dengan modus-modus yang sangat canggih.

Leave a Reply