Peran Akuntansi Forensik pada Pengungkapan Kecurangan

Akuntansi Forensik di Indonesia lebih dikenal pada sektor publik daripada di sektor privat. Hal ini terlihat dari besarnya peran para akuntan forensik dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), BPK, dan apparat pengawasan internal pemerintah yang tergabung dalam Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP). Terutama setelah dilakukannya pembaharuan dalam pengelolaan keuangan negara, sebagaimana dikeluarkannya beberapa undang-undang di bidang keuangan negara, yaitu UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Sebagai penggunaan keahlian di bidang audit dan akuntansi yang dipadu dengan kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah atau sengketa keuangan, akuntansi forensik juga dapat berguna sebagai pencegah dan pembatas cakupan kecurangan, sebagai hasil dari studi. Pada sektor publik, akuntansi forensik mempunyai peranan dalam mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi yang bisa dijadikan sebagai dasar bukti dalam berbagai bentuk kejahatan, termasuk salah satunya yaitu kecurangan. Dalam pengungkapan kecurangan, akuntansi forensik tidak hanya sampai menemukan bukti saja melainkan terus menelusuri sampai pada titik temu tersangka yang menjadi pelaku kecurangan dan menghadapkannya ke pengadilan dengan bukti-bukti yang diperoleh selama penerapan akuntansi forensik.

MUST READ  Kuasai Teknik Berbicara Pada Saat Interview

Adanya kebutuhan penting untuk memerangi praktik kecurangan, baik pada dunia bisnis dan pemerintahan, diperlukan adanya upaya pencegahan dan penanganan kasus-kasus tersebut dengan tindakan nyata melalui pengetahuan yang cakap di bidang tersebut. Salah satu kasus kecurangan yang paling sering ditemukan dan akhir-akhir ini marak dibahas adalah kasus pungutan liar (pungli).

Sedangkan pada sektor swasta, kecurangan atau fraud auditing dapat berguna bagi sebagian besar kasus kejahatan keuangan seperti: penggelapan, kekeliruan fakta keuangan, pembakaran nirlaba, penipuan bank, suap dan penyuapan komersial, penipuan komputer, dan lain sebagainya.
Banyak penelitian telah mengurakan metode dan teknik penyelidikan akuntansi forensik. Mengenai pemeriksaan laporan keuangan, alat yang paling sering digunakan untuk pemeriksaan data klien ialah Excel, CaseWare IDEA, dan ACL Software. Beberapa alat data mining tertentu dapat mengungkapkan pola data transaksi penipuan seperti entri yang tidak biasa bagi transaksi, nilai tinggi atau rendah dari variable, dan berbagai file transaksi akuntansi atau nilai-nilai yang tidak dapat dijelaskan dari catatan.

MUST READ  Cara Pendaftaran NPWP Pribadi untuk Karyawan

Pemeriksaan kecurangan melalui akuntansi forensik dilakukan dengan mengumpulkan bukti akuntansi dari catatan, sitem, jaringan, dan laporan. Akuntan forensik kemudian akan mencoba mengumpulkan bukti lain dari sumber-sumber lainnya seperti penyidik kejahatan, sistem monitoring video dan saksi mata, untuk merekonstruksikan peristiwa kecurangan. Pada langkah berikutnya, akuntan forensik melakuakan mount image forensik komputer yang dicurigai atau data lain yang relevan dari proses penyelidikan ke mesin forensik maya.

Dalam melakukan pembuktian terhadap suatu kecurangan, akuntan forensik dapat bekerja sama dengan seorang ahli digital forensic untuk membantu mengumpulkan data dan bukti yang terekam dalam suatu sistem komputer. Pelatihan Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi dalam Pelaporan Keuangan Perusahaan akan membahas terkait langkah untuk mengumpulkan bukti untuk mengetahui keabsahan transaksi akuntansi yang kompleks guna memecahkan suatu masalah atau sengketa keuangan atau dugaan kecurangan yang pada akhirnya akan diputuskan oleh pengadilan/arbitrase/tempat penyelesaian perkara lainnya.

MUST READ  Agar Pelaku Usaha Tidak Berompi Oranye

Jangan lupa untuk daftar disini

Leave a Reply