Forensik Digital, Cara Ampuh Menangkal Cybercrime

Era teknologi internet berhasil mentransformasi banyak segi kehidupan manusia dari dunia nyata ke dunia maya (cyber). Tidak hanya segi kehidupan yang positif seperti pertemanan melalui berbagai platform media sosial, tetapi juga yang negatif seperti kejahatan yang kini populer disebut cybercrime atau kejahatan siber.

Seiring dengan semakin majunya teknologi internet, cybercrime pun semakin hari semakin canggih. Kecanggihan ini tentunya harus ditandingi dengan sumber daya penegakan hukum yang juga canggih. Sejauh ini, Polri terlihat telah berupaya menyikapi serius ancaman cybercrime dengan membentuk sebuah direktorat khusus tindak pidana siber.

Dengan label “khusus”, SDM aparatnya pun seharusnya memiliki ketrampilan khusus. Salah satu ketrampilan khusus itu adalah forensik digital. Sebagaimana tergambar dari istilahnya, forensik digital sejatinya adalah pengembangan dari ilmu forensik yang sudah lama dikenal di dunia penegakan hukum.

Berakar pada istilah Latin ?Forensis?, definisi forensik adalah suatu proses ilmiah untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan bukti untuk kepentingan penegakan hukum. Secara historis, perkembangan ilmu forensik berkaitan erat dengan kemunculan teori sidik jari pada akhir abad ke-19.

Kala itu, para ilmuwan menemukan fakta ilmiah bahwa setiap orang ternyata memiliki sidik jari yang berbeda-beda. Teori ini lalu dimanfaatkan untuk kepentingan penegakan hukum yang mulanya hanya bersandarkan pada keterangan saksi dalam pengungkapan sebuah kasus kejahatan.

MUST READ  Mengenal Lebih Jauh Profesi Akuntan Forensik

Teori sidik jari semakin berkembang sehingga muncul teori Locard Exchange yang diperkenalkan pertama kali oleh seorang doktor asal Perancis bernama Edmund Locard yang juga dikenal sebagai pelopor ilmu forensik. Teori ini intinya menegaskan bahwa ?setiap kontak yang terjadi akan meninggalkan jejak?.

Dalam perkembangannya, ilmu forensik kemudian melahirkan beberapa cabang ilmu. Salah satunya, forensik digital yang sejarahnya justru bermula di dunia militer Amerika Serikat (AS). Ketika itu, sekitar tahun 1970-an, para peneliti militer mulai mengidentifikasi adanya ancaman kejahatan komputer.

Tahun 1980-an, cybercrime mulai menjadi perhatian serius Federal Bureau Investigation (FBI) dengan membentuk Computer Analysis Response Team. Memasuki tahun 1990, kesadaran akan bahaya cybercrime mengglobal dengan digelarnya konferensi internasional pertama tentang bukti komputer di AS. Lalu, lahirlah International Organization on Computer Evidence.

Secara umum, forensik digital dibagi menjadi 4 (empat) cabang. Pertama, Computer Forensic, yang spesifik berkaitan dengan bukti-bukti pada komputer serta media penyimpanan digital. Kedua, Mobile Device Forensic, yang berkaitan dengan upaya akuisisi serta pemulihan bukti-bukti digital pada alat komunikasi mencakup histori percakapan, daftar kontak, kredensial akun pengguna, dan sistem file.

MUST READ  Memahami Teknik dan Strategi dalam Bernegosiasi

Ketiga, Network Forensic, yang berkaitan dengan upaya menemukan bukti-bukti digital dalam hal terjadi serangan terhadap sebuah jaringan komputer. Keempat, Database Forensic, yang berkaitan dengan upaya menemukan bukti-bukti digital pada sebuah database komputer.

Hingga detik ini, forensik digital sebagai sebuah ilmu terus berkembang seiring dengan semakin rumitnya modus cybercrime. Merujuk data resmi Mabes Polri, kuantitas kasus cybercrime di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, tahun 2016 jumlah kasus cybercrime mencapai 4.931. Lalu setahun kemudian naik menjadi 5.061 kasus.

Dari ribuan kasus tersebut, Polri mencatat tingkat penyelesaiannya mencapai 1.119 kasus (2016) dan 1.368 kasus (2017). Polri mengklaim peran forensik digital dalam pengungkapan kasus cybercrime cukup signifikan. Makanya, Polri giat meningkatkan ketrampilan aparatnya di bidang forensi digital. Misalnya, dengan mengirim aparat belajar ke negara-negara yang perkembangan ilmu forensi digitalnya lebih maju ketimbang Indonesia.

Meskipun identik dengan proses penegakan hukum, forensik digital sebenarnya juga bermanfaat dan dapat diterapkan di sektor swasta. Pasalnya, pelaku cybercrime tidak pandang bulu. Siapapun, apapun itu, entah institusi negara maupun swasta, berpotensi menjadi korban cybercrime.

MUST READ  Bangkrut atau Pailit? Bagaimana membedakan dan menghindarinya

Makanya kemudian banyak korporasi yang membekali diri mereka dengan sistem keamanan siber yang mumpuni untuk menangkal serangan cybercrime. Beberapa korporasi skala internasional bahkan “mempersenjatai” diri dengan sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan di bidang forensik digital.

Mengingat cybercrime semakin marak dan canggih, pengetahuan serta ketrampilan di bidang forensik digital sangat dibutuhkan. Sebagaimana dipaparkan di atas, kebutuhan ini tidak hanya berlaku bagi aparat penegak hukum, tetapi juga kalangan swasta seperti staf legal perusahaan, advokat, ataupun akademisi.

Leave a Reply