Pencalonan Otto Hasibuan: Let’s kill the regeneration

Menjelang suksesi lima tahunan PERADI (tahun 2020) gencar terdengar pencalonan kembali Bang Otto Hasibuan sebagai kandidat Ketua Umum. Kita mahfum bersama, dan sulit untuk dipungkiri, sepak terjang dan dedikasi Bang Otto Hasibuan untuk profesi dan organisasi advokat, terutama PERADI sudah paripurna. Meskipun memang sampai saat ini beliau masih berstatus sebagai Ketua Dewan Pembina yang gerak-geriknya masih sangat menyiratkan posisinya seolah-olah masih menjabat selaku Ketua Umum. Dengan segala keterbatasan dan catatan dalam sepanjang rekam jejak kepemimpinannya, sesungguhnya haruslah disambut dengan bergembira, bahwa beliau merupakan salah satu kader terbaik profesi advokat. Dan kita berterima kasih sebesar-besarnya untuk dedikasinya.

Namun apapun alasannya, memaksanya kembali memimpin PERADI~setelah pernah menjabat dua periode berturut-turut dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun (?) sebagai Ketua Umum ~ akan menjadi blunder terbesar organisasi profesi advokat bernama PERADI ini. Tentu semua bisa berkilah: apa salahnya? Tokh secara normatif, anggaran dasar memungkinkan pencalonan itu. Walaupun tentu saja kita akan berdebat sangat panjang dan tiada henti soal perubahan pasal (termasuk penafsiran) pencalonan ketua umum dalam anggaran dasar yang memungkinkan pencalonan itu.

Mengapa blunder terbesar?

Sederhana, karena mengkhianati alasan terbesar didirikannya suatu organisasi: menuju keabadian. Bisa diganti dengan kata lain sepanjang bermakna keberlangsungan hidup. Ingat, yang abadi adalah organisasinya, bukan figur pemimpinnya. Kalau figur, cukuplah abadi dalam buku rekaman pencapaian organisasi dan ingatan anggotanya. Keabadian hanya bisa dicapai melalui regenerasi. Pergantian kepemimpinan yang sehat secara berkesinambungan dalam suatu organisasi, merupakan syarat mutlak yang tak boleh ditawar, apalagi ditiadakan. Itulah mengapa aturan tentang pembatasan masa jabatan kepemimpinan diadakan. Bukan semata dibuat karena alasan kebosanan, apalagi gagah-gagahan.

Dalam konteks kepemimpinan modern pun, salah satu indikator berhasilnya pemimpin sebelumnya adalah lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang meneruskan kerja organisasi. Tak boleh ada pengkultusan. Mengesankan bahwa sosok atau figur tertentu merupakan ?juru selamat? organisasi, seolah-olah tanpa dia organisasi akan karam merupakan fatamorgana.

Kekhawatiran akan kemampuan, kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin baru dalam proses regenerasi merupakan kewajaran alamiah. Begitu pula ketakutan akan banyak hal lain. Namun alih-alih tinggal dalam ketakutan, sebagai homo sapiens yang diberikan kecerdasan untuk melakukan dan beradaptasi dengan perubahan, maka peluang bahwa nantinya pemimpin baru yang muncul akan membawa banyak hal baru dan baik, merupakan pertaruhan dan kesempatan yang harus selalu diambil. Optimisme-lah yang menggerakkan peradaban.

Sejarah banyak mengajarkan kita mengenai arti pentingnya regenerasi. Peristiwa puluhan tahun silam di negeri ini yang kemudian kita tabalkan dalam kata ?reformasi? adalah contoh terbaik. Kita teringat kembali kalimat paling termahsyur dari bagian kedua lakon Henry VI yang diucapkan Dick the Butcher: ?The first thing we do, let’s kill all the lawyers?, yang oleh banyak orang diinterpretasikan dalam konteks pelanggengan absolutisme ~ dimana untuk mencapai tujuan ini para lawyer/advokat harus dimusnahkan karena dianggap sebagai penghalang.

Maka akan menjadi ironi jikalau ratusan tahun kemudian, di abad 21, zaman revolusi Industri 4.0, dan dengan sejarah panjang perpecahan organisasi advokat karena soal kepemimpinan, jikalau ternyata banyak advokat yang secara kompak mencalonkannya kembali. Seolah-olah berteriak: ?The first thing we do, let?s kill regeneration!?

Selemah-lemahnya iman, inilah hal yang harus kita hindari.

Bobby R. Manalu, Advokat alumnus Univ. Gadjah Mada. Partner pendiri Siregar Setiawan Manalu Partnership (SSMP). Sesekali menulis—sambil belajar. Tulisan bukan representasi tempat dirinya bekerja.

Leave a Reply