Pekerja Pindah Bekerja? Pengusaha Harus Cek 5 Hal Ini!

Setiap pekerja memiliki haknya masing-masing yang harus dipenuhi oleh perusahaan tempatnya bekerja. Namun setiap pekerja juga wajib menjalankan kewajibannya kepada perusahaan. Itulah hukum timbal balik yang ada di dalam kultur kebiasaan suatu pekerja dengan perusahaan, dan sebaliknya. Tapi, pernahkah Anda berpikir untuk pindah bekerja dari tempat Anda bekerja sekarang?

Sebagian orang mungkin sudah mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi pada satu tempat saja. Namun tidak menutup kemungkinan pernah terpikir oleh orang tersebut untuk berpindah kerja. Selain masalah keuangan, sebenarnya ada 5 alasan lain yang menjadi penyebab pekerja berpikir untuk pindah bekerja, yaitu:

  1. Tidak mendapatkan kesempatan yang sama

Sadar atau tidak, terkadang jika seorang pimpinan sudah memercayai 1 orang pekerja, maka pimpinan ini akan berlaku tidak adil kepada pekerja tersebut dan pekerja lainnya dengan level yang sama. Kecenderungan, pekerja yang menjadi kepercayaan ini akan selalu didahulukan, termasuk pada pemberian kesempatan.

Misalnya jika perusahaan mengadakan pengembangan kapasitas, bisa saja orang kepercayaan inilah yang akan didahulukan, tanpa mempertimbangkan pekerja lain yang memiliki kemampuan yang sama. Kemudian jika pimpinan tiba-tiba tidak dapat hadir dalam suatu acara atau rapat, orang kepercayaan inilah yang selalu menjadi pengganti pimpinan untuk hadir, dan masih banyak juga contoh lainnya.

Sebenarnya hal-hal tersebut sah-sah saja, tergantung dari sisi mana kita memandang kejadian itu. Sayangnya, sebagai seorang pimpinan pun harus mampu berlaku adil. Terlebih jika memiliki lebih dari 1 pekerja dengan level yang sama, sebaiknya tidak membedakan perlakuan kepada mereka, dan tetap memberikan kesempatan yang sama kepada pekerja.
Hal ini juga tertuang pada Pasal 5 UU Ketenagakerjaan, yang berbunyi ?setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan?. Sehingga banyak pekerja yang memutuskan untuk pindah bekerja ke tempat lainnya, untuk memperoleh perlakuan yang adil dari pimpinannya.

  1. Mengalami diskriminasi

Setiap pekerja mungkin saja melakukan kesalahan. Sebagai pimpinan yang baik, tentunya harus menegur pekerja tersebut dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk memperbaiki kesalahannya. Namun sayangnya, ketika seorang pekerja melakukan kesalahan, pimpinan cenderung langsung merasa kecewa dan menimbulkan sikap diskriminasi kepada orang tersebut.

Diskriminasi lainnya pun bisa saja terjadi melalui hal-hal yang sensitif, seperti keadaan fisik, strata sosial, suku, hingga masalah kepercayaan. Setiap orang yang merasa dirinya di diskriminasi tentunya tidak nyaman, dan wajar saja jika mereka memutuskan untuk berpindah pekerjaan daripada menerima perlakuan yang tidak menyenangkan setiap harinya. Sebenarnya pada Pasal 6 UU Ketenagakerjaan pun sudah menjelaskan, bahwa ?setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha?.

  1. Tidak mendapatkan kesempatan mengembangkan kemampuan

Setiap orang yang bekerja tentunya ingin kemampuannya bertambah, salah satunya dengan mengikuti pelatihan, seminar, atau diskusi. Sayangnya tidak semua pekerja dapat menikmati fasilitas ini. Terkadang di beberapa perusahaan, hanya level tertentu saja, atau hanya pekerja tertentu saja yang akan menerima fasilitas pengembangan diri, dan tidak merata untuk seluruh pekerja.

Padahal jika pekerja tersebut diberikan kesempatan untuk mengembangkan, memperoleh, atau meningkatkan kemapuannya, hal ini pun akan berdampak baik kepada perusahaan. Kenapa? Karena berarti perusahaan tersebut memiliki pekerja-pekerja yang sangat berkompetensi di bidangnya masing-masing. Sehingga tidak menutup kemungkinan perusahaan pun akan semakin maju.

Bagi pekerja yang tidak nyaman akan kondisi ini, apalagi sudah mengetahui adanya Pasal 11 UU Keternagakerjaan yang menyebutkan, bahwa ?setiap tenaga kerja berjak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya melalui pelatihan kerja?, tentunya akan memilih untuk pergi dari perusahaan tersebut. Akibatnya perusahaan akan kehilangan orang-orang yang kemungkinan sebenarnya berpotensi baik bagi perusahaan.

  1. Pekerja dipindahkan ke tempat lain yang tidak disukai

Mutasi menjadi hal yang biasa, terutama pada perusahaan yang memiliki banyak cabang. Hal ini pun biasanya tertera dalam perjanjian kerja. Pada perjanjian kerja, biasanya tertulis ?bersedia ditempatkan di lokasi manapun?. Hal ini akan menjadi bumerang bagi pekerja. Mengapa? Karena jika ditempatkan di daerah yang tidak diinginkan, mungkin saja akan mengakibatkan pekerja memilih untuk pindah bekerja di tempat yang diinginkan saja.

Sebenarnya, dalam perjanjian kerja memang tidaklah salah jika tertera ?bersedia ditempatkan dimanapun?. Namun pekerja yang akan dipindahkan bekerjapun harus diberitahukan terlebih dulu, dan ditanyakan pendapatnya. Namun sayangnya, biasanya perusahaan hanya menyediakan 3 pilihan untuk pekerjanya, pindah ke tempat yang baru, dipecat, atau mengundurkan diri. Hal inilah yang sering menjadi dilema bagi pekerja.

Seharusnya, pekerja diberikan pilihan lain, yaitu tetap berada di lokasi tempat bekerjanya. Karena pada Pasal 31 UU Ketenagakerjaan menyebutkan, bahwa ?setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri?, dan pada Pasal 32 ayat (1) pun menyebutkan, bahwa ?penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi?. Sehingga perusahaan tidak bisa seenaknya memindahkerjakan pekerjanya tanpa adanya kesepakatan, atau disertai dengan ancaman pemecatan.

  1. Pengubahan perjanjian kerja yang tidak diinginkan

Dengan adanya perkembangan perekonomian yang cepat, membuat perusahaan harus melakukan perubahan yang cepat pula untuk menstabilkan posisinya. Salah satunya dengan mengubah perjanjian kerja atau menambahkan perjanjian tersebut. Perjanjian kerja yang dimaksudkan adalah perjanjian yang tidak diketahui atau tidak disetujui oleh pekerja.

Lagi-lagi, dalam hal ini, perkerjalah yang dilema, tidak ingin menyetujui perjanjian yang baru, namun tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya. Namun dibalik itu, pekerja pun bergegas untuk mencari perusahaan lain untuk pindah bekerja. Hal ini mungkin saja terjadi. Sebenarnya perubahan memanglah bagus, jika sifatnya untuk mengembangkan perusahaan. Namun harus dilihat juga dampak apa yang akan terjadi kedepannya.

Dalam hal ini, pemerintah juga sudah cukup sigap dengan menuangkan peraturan pada UU Ketenagakerjaan Pasal 55, yang menyatakan, bahwa ?perjanjian kerja tidak dapat ditarik kembali dan/atau diubah, kecuali atas persetujuan para pihak?. Hanya tinggal bagaimana penerapan suatu perusahaan terhadap peraturan tersebut. Apakah akan memaksa atau bermusyawarah dengan pekerjanya.

Jadi itulah kelima alasan mengapa banyak pekerja yang pindah bekerja. Selain itu, alasan pekerja pindah bekerja adalah permasalahan pendapatan, tunjangan, faktor keluarga, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, perusahaan harus memperhatikan pekerja, sebagai bentuk timbal balik atau penghargaan kepada pekerja. Sehingga pekerja pun akan berpikir ulang untuk pindah bekerja dari perusahaan tersebut. Karena perusahaan yang baik dapat dilihat dari rata-rata seberapa lama umur pekerja bekerja di tempat tersebut. Semakin lama umur bekerjanya, maka semakin baik.

Namun jika umur bekerja hanya sebentar-sebentar, berarti sistem yang saat ini diterapkan kurang baik, dan memerlukan perbaharuan yang tepat.

Penulis lepas dan lagi belajar terus soal kehidupan

Leave a Reply