Pak Ratman, Baso, dan Pengabdian

Kalo LBH ngga punya uang buat gaji kita-kita itu udah biasa, nggak usah heran” demikian ujarnya saat mengantar saya menghadiri persidangan di Serang pertengahan 2011.

Dulu awal-awal saya masuk masuk LBH, pernah ada krisis keuangan juga, LBH nggak sanggup bayar gaji pengacara dan staf-stafnya. Bang Buyung berinisiatif menyelamatkan saya, dia meminta Hotman Paris mempekerjakan saya, supaya dapur dirumah tetap ngebul.” lanjutnya

Saya menanggapinya dengan becanda “wah enak dong pak, gajinya lebih gede daripada di LBH

Dengan nada tegas dia membantah, menurutnya, hatinya merasa lebih nyaman bekerja di LBH, dia tahu dia berkeringat untuk siapa; orang-orang miskin dan korban pelanggaran HAM. Saat krisis perlahan berlalu, dan LBH mulai dapat membayar gaji walaupun hanya setengah dari seharusnya, dia menemui ABN ? inisial nama alm Bang Buyung – mengutarakan keinginannya kembali bekerja untuk LBH. Bang Buyung menyetujuinya setelah sebelumnya mengkraifikasi keyakinan pak Ratman akan keputusannya, karena sewaktu-waktu krisis keuangan mungkin kembali terjadi.

Bekerja bukan untuk materi, memang tertuang di Prinsip-Prinsip Perjuangan LBH, tapi Pak Ratman bahkan mendahuluinya 2 tahun sebelum prinsip-prinsip itu dituliskan dan disahkan oleh LBH di 1985, begini bunyi pasalnya :

Para Pengabdi Bantuan Hukum harus selalu menjaga diri untuk tidak menjual prinsip pendirian dan sikap perjuangannya untuk mendapat materi. Kendatipun harus juga disadari bahwa hidup berprinsip para Pengabdi Bantuan Hukum memberikan kepuasan batin yang tidak dapat dinilai dengan materi

Pak Ratman menangkap visi dan nilai-nilai yang dipercayai bukan dari ruang kelas Kalabahu (Karya Latihan Bantuan Hukum), bukan dari buku-buku mengenai teori keadilan, Hak asasi manusia, kemiskinan struktural, dll. Tapi dari persentuhannya dengan para korban yang dia temui sehari-hari di ruang tunggu LBH, dari percakapan dengan korban-korban yang duduk di jok mobil LBH yang dia kemudikan.

Saya lupa sejak kapan, belajar dari pengalaman krisis keuangan LBH, pak Ratman kemudian memulai usaha kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan gaji dari LBH. Pak Ratman memilih berjualan baso. Setiap malam selepas pulang kerja, dia tidak beristirahat, namun lanjut bekerja memproduksi baso dirumahnya. Keputusannya memulai usaha kecil-kecilan tepat, setelah krisis awal 80-an, LBH beberapa kali mengalaminya lagi, dan Pak Ratman selalui berhasil melaluinya. Dari yang saya dengar, pada masa tertentu dia menjadi tempat para Pengacara LBH meminjam uang saat gaji yang tidak seberapa semakin menipis diakhir bulan. Pak Ratman berdaya dengan baksonya, saya sempat beberapa kali diajaknya makan di warung baksonya, tentunya gratis 😉

Setelah uang gagal menghentikan langkahnya di LBH, resiko penyerangan fisik hingga kehilangan nyawa juga tidak dapat memaksanya meninggalkan arena. Suatu hari dia mengantarkan pengacara LBH ke suatu daerah di Sukabumi untuk keperluan advokasi. Singkat cerita, mereka dikepung oleh sekelompok preman, sang pengacara disandera, namun pak Ratman berhasil meloloskan diri dan mencari wartel untuk mengadukan hal itu kepada Munir.

Setelah 33 tahun mengabdikan diri, hanya usia dan permasalahan kesehatan yang menaklukan pak Ratman. Pada Mei 2015 pak Ratman resmi pension dan hngga saat ini, belum ada yang berhasil melampaui lama masa pengabdiannya di LBH. Sesaat setelah pensiun hingga akhir 2015, saya masih sering bertemu dengannya, akhir pekan kadang dia datang ke LBH dengan Peugeot tuanya.

Akhir Desember 2018 dihari peluncuran laporan akhir tahun LBH, saya mendapat telphone dari salah satu pengabdi LBH, dia menanyakan saya dimana dan meminta agar saya datang ke LBH saat itu juga, sesuatu yang tidak mungkin saya lakukan karena sedang diluar kota. Dia mengabarkan kondisi kesehatan pak Ratman memburuk, namun beliau justru memaksa keluarganya untuk mengantarkannya ke LBH. Dia tiba di LBH dengan name tag LBH Jakarta miliknya dulu menggelantung di leher, dia berkeliling menemui para pengabdi yang dia masih kenali satu persatu, menyalami dan memeluk, sambil mulutnya berulang kali mengucapkan “saya bangga pernah menjadi bagian dari LBH“. Kawan saya lalu melanjutkan “dan Tom, dari sekian banyak alumni LBH, kamu yang berulang-ulang dia tanya

Belum sempat saya bertemu dengannya, hari ini saya dikabari dia telah berpulang.

Selamat jalan pak, terima kasih untuk baksonya yang enak, terima kasih telah menghantarkan saya kebanyak tempat dan memastikan saya kembali dengan selamat. Terima kasih karena menjadi teman berbagi cerita sepanjang perjalanan yang selalu punya referensi tempat makan enak namun tidak melebihi budget kantor saat menghantar tugas keluar kota. Terima kasih untuk setiap teladan yang lebih banyak kau bagikan melalui laku dari pada kata. Maaf jika kita belum sempat berjumpa.

Selamat jalan pak Ratman

Leave a Reply