Sekolah Favorit dan Masalah Zonasi

Waktu SMP NEM saya lumayan bagus, masuk Lima besar tertinggi. Saya tidak mencari sekolah favorit, tapi mencari teman baru yang belum pernah saya kenal sejak SMP dan SD. Itu artinya, pengalaman baru. Maka sebagai anak desa alias wong ndeso, saya memilih sekolah yang letaknya Di tengah kota, yang jarak dari kampung saya kurang lebih 40 km. “wong ndeso mlebu kuto”. Lalu ada banyak pilihan SMA, mana yang saya pilih? Saya memilih SMA yang tidak jelek jelek amat, masih lumayan favorit tapi konon sekolahnya paling nyantai. Di sekolah ini NEM saya masuk lagi sebagai NEM tertinggi (NEM saya masuk lima besar tertinggi dibandingkan siswa lain yg masuk di SMA ini).

Dan benar memang, saya mendapatkan kenikmatan sekolah nyantai dengan teman teman yang nyantai dan gaul. Kalau bolos sesekali tidak menjadi masalah besar. Cuma memang saat saya masuk terjadi pergantian kepala sekolah dimana kepala sekolah yang baru mulai menghapus budaya nyantai dan cenderung urakan yg dulu menjadi identitas sekolah ini. Telat dikit diceramahi, dihukum gitulah. Padahal guru guru lama kami sebagian besar pembawaannya ya nyantai semua, meskipun tdk semua. Asik Lah pokoknya.

MUST READ  One Person One Vote for PERADI 1

Di sekolah ini saya lulu’s dengan nilai NEM tertinggi lagi. Lagi lagi masuk Lima besar. Bangga? Gak, biasa aja. Sejak kecil sy tidak pernah ditanamkan mengejar sesuatu yang favorite. Favorite itu soal nilai nilai kehidupan bukan nilai sekolah. Bapak saya (Alm) pesannya selalu jelas mengenai pilihan anak anaknya, “sekolah dimana pun silahkan, yang penting mengaji (belajar agama) nomer satu”.

Sekarang pun saya begitu terhadap anak anak saya. Cuma bagi saya, untuk saat ini tidak cukup mengingat kan anak saya untuk mengaji, tapi yang jauh lebih penting lagi adalah terus mengaji untuk memahami pesan pesan penting dalam beragama agar kelak hidup kita bermanfaat bagi orang banyak.

MUST READ  Menjunjung HAM Adalah Bagian Penerapan Sila Kedua Pancasila

Jadilah orang favorit, jangan mencari sekolah favorit. Itulah sebabnya soal kebijakan zonasi saya setuju karena sekolah tidak harus jauh dari rumah. Jadikan sekolah pilihan anak anak kita sebagai sekolah favorite. Nggak usah mengeluh sebagai orang tua, lantaran di zonasi kita sekolahnya gak ada yg favorit.

Leave a Reply