Not Legal Advice: Menikmati Sidang Online Mahkamah Agung Federal Amerika Serikat

Bagi teman-teman praktisi IPR (HAKI), mungkin bisa mengikuti salah satu perkara menarik yang sedang berjalan pemeriksaannya di Mahkamah Agung Federal Amerika Serikat. Kasusnya soal pendaftaran merek.

Sepertinya banyak yang sudah tahu juga. Sejak wabah Covid-19 melanda AS, untuk pertama kalinya dalam sejarah MA Federal, mereka menyiarkan secara langsung pemeriksaan perkara. Tidak video memang, hanya audio saja.

Tapi cukuplah. Kalau pernah menonton film “On the Basis of Sex”—yang mencuplik salah satu sejarah hidup hakim agung Ruth Bader Ginsburg (RBG) memperjuangkan kesetaraan gender—pasti pernah melihat penggambaran bagaimana pemeriksaan perkara di MA itu berlangsung. Atau kalau yang dulunya sering ikut MCC Jessup, pasti bukan hal baru.

Perlu dicatat, tidak semua advokat “qualified” alias mampu bersidang di gedung ikonik dengan pilar-pilar besar di bagian muka, dan bagian depan luarnya tertulis kalimat mewah “equal justice under the law” itu. Bayangkan, seorang advokat setelah menyampaikan oral argument-nya, harus siap menjawab serangan maut dari 9 hakim agung federal AS.

Membaca profil setiap hakimnya saja mampu membuat pusing. Mereka masuk kategori orang-orang terbaik di bidang hukum. Pencapaiannya sebelum menjadi hakim agung umumnya menakjubkan. Tidak hanya dari sisi jenjang pendidikan dan prestasinya selama menjadi siswa. Setelah lulus dan bekerja juga mengkilapnya bukan main.

Sekarang hakim-hakim agungnya didominasi lulusan Harvard dan Yale School of Law saja—yang juga sempat mendapat kritik terlalu “homogen”. Sampai ada semacam joke: Kalau anda bukan lulusan Harvard atau Yale, anda bisa jadi hakim di mana saja, kecuali hakim agung federal. Walaupun dalam sejarah berdirinya, khusus sebelum berdirinya sekolah hukum modern, tidak ada keharusan bahwa hanya lulusan hukum saja yang berhak jadi hakim agung.

Tak heran belakangan kalau jabatan hakim agung tersebut merupakan “puncak” karier tertinggi untuk bidang hukum di sana. Bisa menjadi “asisten” hakim agung setelah kuliah saja bangganya bukan main. Apalagi bisa dinominasikan lalu terpilih untuk menjadi hakim agung. Jabatan yang diemban seumur hidup. Mungkin kayak berada di “surga” intelektual hukum.

Sekedar tahu saja, siapatau niat, jadi hakim agung di AS itu tak harus berkewarganegaraan AS. Hebat ya. Di kita, udah lahir, besar, beranak, beli properti di sini pun, untuk golongan tertentu bisa jadi dipermasalahkan status keasliannya Indonesianya. Tapi sudahlah, itu topik lain.

Kembali ke topik awal. Jadi sejak pengumuman akan disiarkan online tadi, saya udah bersiap-siap ikutan. Saya pilih mendengarkan perkara terkait HAKI, antara Kantor Pendaftaran Merek vs Booking.com

Sebelum sidang saya sudah baca-baca berkasnya. Dari writ of certiorari (semacam memori kasasi) juga berkas bantahan dan tanggapan serta berkas-berkas Amicus Curiae. Mungkin karena saya juga tidak mendalami bidang hukum ini, jadi membaca berkas-berkas itu saja cukup membuat saya pusing. Pusing karena kebingungan, dalil mana yang akan dipilih oleh 9 “Dewa” tadi. Rasanya kok ya benar semua!

Kasus ini bermula karena penolakan kantor merek menerima pendaftaran merek  Booking.com. Mungkin banyak dari kita yang punya pengalaman pesan kamar hotel dari website atau aplikasi ini. Iya, Booking.com, mengklaim dirinya sebagai pemain terbesar untuk pasar pemesanan kamar hotel di AS.

Karena pendaftaran mereknya ditolak, Booking.com kemudian mengajukan gugatan ke District Court (semacam Pengadilan Negeri). Dan dimenangkan. Pengadilan nyatakan bahwa merek “Booking.com” bukanlah kata generik. Sehingga bisa mendapatkan perlindungan merek.

Meskipun memang, menurut pertimbangan Pengadilan, kata “booking” itu generik, tapi karena menggabungkannya dengan kata “.com”, itu menjadi pembeda. Tidak lagi generik. Ringkasnya, jikalau satu kata generik digunakan bersamaan dengan kata yang tidak generik, maka kata tersebut bukanlah kata generik.

Tak puas, Kantor Pendaftaran Merek kemudian lakukan Banding. Lagi-lagi hasilnya sama. Meskipun kantor Pendaftaran sudah menunjukkan analogi dalam perkara goodyear ratusan tahun silam. Kantor pendaftaran bilang, dalam kasus lama menyangkut salah satu “produsen ban raksasa”, kata “company” merupakan kata generik. Sehingga “xxx Company” (Penulisan xxx ini adalah kesengajaan) tidak bisa didaftarkan sebagai merek. Jadi apa bedanya dengan “.com?”

Ada banyak argumen lain yang disampaikan kantor pendaftaran. Bertebaran banyak putusan pengadilan mirip lainnya sebagai referensi pembelaan. Kantor pendaftaran juga sampaikan contoh, tak mungkin kata “lawyer.com” atau “hotel.com” dijadikan merek karena itu kata generik sekalipun dipakaikan “.com”. Jadi seharusnya diperlakukan sama dengan “Booking.com”

Apakah AS tak punya UU yang mengatur Merek dll? Tentu saja ada. Lanham Act 1947. Ini memang yang menjadi salah satu poin pembelaan Booking.com. Tak relevan lagi untuk menarik putusan perkara ratusan tahun silam, karena semangatnya sudah diubah di Lanham Act. Topik soal “yurisprudensi vs langham act” ini juga nantinya ditanyakan salah seorang Hakim Agung.

Booking.com juga menunjukkan merek-merek lain yang menurut mereka juga kata biasa/generik. Seperti “Amazon”, yang setelah ditambahi “.com”, mempunyai fungsi pembedanya, sekalipun tak memiliki arti kedua. Salah satu rule untuk kata generik bisa dijadikan merek memang sebuah kata tersebut memiliki definisi lain selain arti yang aslinya. Pengadilan Tinggi bersepakatan dengan pembelaan Booking.com

Akibat kekalahan itu, tentu saja tak langsung membuat Kantor Pendaftaran melemparkan handuk putih tanda menyerah. Mereka ajukan kasasi. Dan MA memutuskan untuk menerima pemeriksaan atas perkara ini. Sedikit berbeda dengan kita yang semua perkara umumnya bisa bermuara di Mahkamah Agung. MA Federal AS hanya menerima perkara yang menurut mereka “menarik” atau “penting”. Jadi tak banyak perkara yang pemeriksaannya sampai di MA—ini menjadi salah satu kritik Hakim Tinggi Richard Posner.

Kantor Pendaftaran rasanya memang sulit langsung dipaksa tunduk. Apalagi menurut pemberitaan, Presiden Trump beranggapan “booking” merupakan kata generik, sekalipun ditambahin “.com” tak membedakannya. Kantor Pendaftaran berargumen bahwa penggunaan kata “booking” sebagai merek akan menimbulkan monopoli, karena kata “booking” lazim dipergunakan dalam banyak kegiatan atau pelaku usaha lain.

Singkat cerita, sampailah kemudian pada hari H, hari yang ditunggu oleh banyak praktisi hukum. Awalnya banyak kekhawatiran juga bagaimana berjalannya sidang. Apalagi pembelaan akan disampaikan melalui sambungan telepon saja oleh kuasa hukum Booking.com. Sidang dipimpin oleh Ketua MA, John Robert. Yang kemudian mengorganisir pengajuan pertanyaan dari para hakim agung setelah pembelaan lisan disampaikan.

Ternyata memang lancar. Tidak ada masalah. Hanya ada gangguan kecil, maklum masalah sambungan. Tetap menarik. Yang bikin lebih menarik bagi komentator, salah satunya adalah karena Hakim Agung Thomas Clarence, akhirnya mengajukan pertanyaan ke kuasa hukum booking.com, Lisa S. Blatt, yang merupakan partner di William & Connolly. Clarence sudah 3 tahun belakangan tak pernah mengajukan pertanyaan ke kuasa hukum pihak. Pertanyaannya kali ini pun cukup di tengah. Jadi kita sulit untuk mendapatkan kesan ke mana arah angin sikapnya tersebut dalam kasus ini.

Lisa S. Blatt, advokat wanita ini bukan main-main reputasinya. Sebagai seorang partner di William & Connolly, sudah tentu kualitasnya sebagai advokat papan atas sangatlah baik. Bagi yang belum tahu, kantor hukum William & Connolly merupakan salah satu kantor hukum litigasi paling disegani di Washington DC. Kasus-kasus ‘high profile’ sepertinya sudah menjadi “bagian tak terpisahkan” dari sejarah kantor ini. Saking legendarisnya, isi kantor ini sempat dituangkan dalam buku “Masters of the Game: Inside the World’s Most Powerful Law Firm”.

Buku ini bersama dengan buku “One L”-nya Scott Turow menjadi semacam buku “bacaan wajib” yang saya ketahui sejak kuliah dulu. Biar agak ke-amerika-amerikaan. Ndak, sih, tapi karena memang tak sengaja diperkenalkan. Saya lupa siapa dulu yang mengenalkan kedua buku ini ke saya. Atau bisa jadi “kenal” karena sempat baca artikel. Entahlah. Tapi buku ini sudah saya pinjamkan juga ke saudara yang kebetulan sedang menempuh pendidikan hukum juga.

Kembali ke William & Connolly, saking dahsyatnya kantor ini, bahkan dua orang Hakim Agung Federal AS pernah bekerja di sini. Hakim Agung Elena Kagan yang mantan Dekan Harvard Law School itu, dan Hakim Agung Brett Kavanaugh yang pemilihannya sempat diikuti kontroversi—merupakan alumninya.

Memang salah satu syarat untuk menjadi bagian dan bekerja menjadi advokat di kantor ini, setidaknya pernah menjadi “asisten” hakim agung. Seperti yang disampaikan tadi, untuk mendapatkan status “asisten” (clerkships) tak mudah.

Tingkat kesulitannya itu sepertinya hanya sedikit lebih ringan jadi hakim agungnya sendiri. Jadi tak heran, karier mereka yang pernah jadi “asisten” ini, nantinya tidak akan jauh-jauh dari posisi-posisi hukum penting di AS.

Saya yang menjadi pendengar saja selalu harap-harap cemas. Apa nantinya pertanyaannya masing-masing hakim. Tidak kebayang kalau berada di posisi itu dalam keadaan yang tidak siap. Didengar seluruh dunia pula. Pertanyaannya kelihatan sederhana, tapi salah-salah menjawab, pembelaan awal bisa jumpalitan.

Jadi wajarlah kalau advokat yang bersidang di hadapan Mahkamah Agung Federal dibayarnya luar biasa mahal per-jamnya. Mempersiapkan diri menjawab tepat dan cepat dengan berbagai kemungkinan pertanyaan itu sulitnya bukan main. Tidak mungkin pula pas pertanyaan datang, lalu bilang: “Baik, Yang Mulia, nanti jawabannya akan saya riset dulu.”

Selesai sesi tanya-jawab, saya juga selesai deg-deg-an. Bukan karena paham, lebih karena kagum. Kecepatannya menjawab dengan penuh akurasi, tetap dalam koridor pembelaan, patut diacungin jempol tangan dan kaki.

Menarik sekali. Pengalaman berharga dan mahal. Kalau bukan karena pandemi Covid, kecuali mengkhususnya diri ke sana, rasanya sulit untuk “menghadiri” persidangan semacam itu. Apalagi mendapat inspirasi sepenting ini, sambil rebahan. Angkat kaki pula, bercelana pendek. Santai kayak di pantai.

Bahkan kalimat pembuka sidang “Oyez Oyez Oyez” yang terkenal dan “khas” itu pun bisa kita dengarkan langsung, tak lagi dari film. Mungkin inilah yang disebut “Crisis is opportunity”

Kesempatan tak melulu berbicara soal uang memang. Bagi saya, pengalaman mendengarkan sidang semacam ini saja sangat memberikan inspirasi. Tak mudah untuk menjadi seorang praktisi hukum. Jadi tak bisa hanya diam berpangku tangan saja, mentang-mentang sudah menggondol gelar sarjana hukum lalu tiba-tiba punya kemampuan super dalam berargumentasi.

“Victory loves preparation”. Kalimat yang tertulis di pistolnya Jason Statham di film “The Mechanic”, meringkasnya untuk kita bahwa tak ada piala tanpa didahului kerja keras.

Kembali ke kasus booking.com tadi, tak tahu nanti putusannya bakal seperti apa. Apakah menguatkan atau malah membatalkan 2 putusan pengadilan bawahan sebelumnya. Masih ada sesi pemeriksaan berikutnya. Tapi sebagai lawyer, tentu saja saya pengennya booking.com yang memenangkan pertempuran ini.

Apapun, mari kita nantikan dan nikmati!

Salam,
Bobby Manalu

Ps: 6 Mei 2020

Bahasan ini dituliskan mengandalkan ingatan semata, tanpa melakukan ricek kembali ke sumber. Dituliskan melalui handphone sambil menunggu anak selesai makan malam. Apabila terjadi kesalahan dan ketidaktepatan dalam mendeskripsikan, mohon maaf.

Bobby R. Manalu, Advokat alumnus Univ. Gadjah Mada. Partner pendiri Siregar Setiawan Manalu Partnership (SSMP). Sesekali menulis—sambil belajar. Tulisan bukan representasi tempat dirinya bekerja.

Leave a Reply