Not Economic Notes: Covid-19, Perlambatan Ekonomi dan Masalahnya

Kebijakan social distancing tampaknya masih akan terus berjalan. Bisa jadi akan dilakukan lebih ketat dan agresif. Mobilitas dan interaksi akan semakin kecil dan lambat. Kita tak tahu sampai kapan tepatnya. Mal sepi. Bahkan sebagian berhenti beroperasi sementara. Penerbangan diisi bangku-bangku kosong. Industri perhotelan sepi tamu. Restoran perlahan tutup. Taman bermain sepi pengunjung. Karyawan banyak diliburkan atau dirumahkan, mengantisipasi virus atau mungkin sepinya pembelian. Banyak perusahaan kesulitan mendapatkan bahan baku, entah karena harganya melonjak (kenaikan kurs), juga karena kesulitan impor (keterbatasan stock).

Ekonomi bergerak perlahan. Di satu sisi kita senang, karena itu artinya dengan berkurangnya interaksi manusia, menghentikan laju penyebaran virus. Namun di sisi lain kita cukup khawatir. Seberapapun kecilnya, tiap kita merupakan bagian dari penggerak roda ekonomi. Roda-roda kecil akan menggerakkan roda-roda lebih besar dan begitu seterusnya. Artinya, jikalau di saat yang bersamaan roda-roda ini melambat atau berhenti bergerak, akan mengakibatkan gerak roda lain pun terganggu.

Pemerintah kita lihat memang berusaha keras untuk menjaga denyut ekonomi. Biar gak buru-buru masuk ICU. Sama seperti tubuh, suplemen, makanan sehat dsb secara konsisten terus disuntikkan. Selain kebijakan moneter, terlihat bagaimana pemerintah berusaha keras menjaga nilai tukar rupiah, juga berikan stimulus. Dari perpajakan hingga relaksasi kredit. Juga tunjangan langsung ke masyarakat. Demi menjaga, sekalipun perlahan, tetap berdenyut.

Sejauh ini angka kredit macet masih baik. Walaupun di bank tertentu mungkin cukup tinggi, mungkin imbas tahun sebelumnya. Memang secara keseluruhan terjadi peningkatan di Februari kemarin, namun menurut klaim banyak petinggi bank yang diwawancara media, bukan karena Covid-19.

Terkait dampak Covid-19, kita juga membaca optimisme mereka. Menurut mereka, perbankan kita siap. Angka pencadangan tebal karena penyesuaian cara penghitungan yang baru. Penyaluran kredit memang menurun, namun katanya masih ada pertumbuhan.

OJK memang sudah keluarkan kebijakan relaksasi bagi debitur UMKM. Beberapa sektor yang terdampak langsung Covid-19 akan dipetakan. Saya kurang tahu apakah di dalam praktiknya sudah berjalan. Tentu saja tak otomatis, menghindari moral hazard, bank-bank tentunya perlu menyiapkan SOP-nya: kriteria dan parameter siapa saja yang berhak mendapatkan keringanan restrukturitasi dan/atau kemudahan mendapatkan fasilitas pinjaman baru.

Perusahaan pembiayaan pun sama. Kebijakan pemerintah melonggarkan kewajiban bagi debiturnya cukup baik. Meskipun, semakin lama nantinya akan menjadi persoalan bagi perusahaan pembiayaan, sebab minim pemasukan (debitur menangguhkan pembayaran cicilan bunga dan pokok), namun masih harus menanggung biaya operasional dan karyawan.

Meskipun mereka juga mendapat keringanan bayar cicilan ke bank (executing). Sama seperti perbankan, penerapan kelonggaran belum tahu seberapa cepat penerapannya di lapangan. Namun, ketiadaan/keterbatasan pemasukan tentu saja akan menggerus arus kas.

Cuma yang kita belum tahu sejauh ini, bagaimana untuk debitur di atas 10 M. Menurut saya, mereka juga pasti akan terdampak. Semakin besar, semakin keras dampaknya. Bank tentu saja akan membantu debiturnya. Namun kalau pakai standar normal, restrukturisasi tak-lah mudah.

Saya rasa OJK masih menunggu data dari bank. Kalau misalnya nanti di Bulan April terlihat banyak yang batuk parah, saya yakin kemudahan relaksasi akan dilakukan. Semuanya menunggu di tengah ketidakpastian.

Kalau di tahun 2008, saya melihatnya lebih ke sektor finansial yang mengalami kesulitan. Meskipun mendera banyak negara, krisis kala itu berhasil kita lewati cukup tenang. Pasar domestik kita masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi. Manufaktur masih berjalan, impor bahan baku masih kencang.

Kondisi sekarang sepertinya agak berbeda. Di saat yang bersamaan semua mengalami situasi yang sama. Persoalannya pelik: tidak tahu sampai kapan situasi ini. Tak heran modal-modal asing mulai balik kanan ke negaranya.

China atau Tiongkok sebagai negara eksportir terbesar dunia, pun mengalami perlambatan. Dampaknya seluruh dunia terganggu. Mereka duluan malah. Manufaktur mereka terganggu karena karyawan tak bisa bekerja. Tak terkecuali Indonesia, kebagian dampaknya, sangat terganggu, karena tidak sedikit bahan baku industri kita bergantung ke negeri ini.

Sepanjang manusia hidup dan bergerak, krisis sebenarnya tak pernah akan hilang. Dia hanya menunggu di sudut, menanti waktu yang tepat untuk datang.

Saya tak paham ilmu ekonomi. Apalagi soal krisisnya. Tapi kita bisa melihat bahwa sistem produksi dan distribusi barang/jasa akan sangat terganggu dengan situasi sekarang. Kemarin Bu Sri Mulyani sempat bilang. Kemungkinan buruknya kalau Covid-19 masih merajalela, pertumbuhan kita bisa 0 persen. Protokol menghadapi krisis pun sepertinya akan diterapkan.

Ekonomi, seperti kata pakar, tak hanya soal angka. Ada manusia yang direpresentasikan dalam tiap kalkulasinya. Kalau angka-angka itu terganggu, pastilah kehidupan manusianya akan lebih terdampak. Semoga memang ekonomi aka baik-baik saja. Kalaupun melambat, hanya sebentar saja.

Tak banyak yang bisa kita lakukan memang mengatasi Covid-19 dan perlambatan ekonomi ini. Mungkin bersiap diri sebisa mungkin, mengantisipasi kemungkinan apapun. Selain tentu saja mengharapkan kebijaksanaan para pengambil kebijakan. Pastinya akan sangat sulit. Bagian kita mendukung mereka dengan berada di rumah, sebisa mungkin. Sambil berdoa, para ilmuwan segera menemukan anti virus corona ini.

Meskipun kita tahu, kalaupun sudah, masih butuh waktu bulanan untuk memproduksinya hingga aman untuk tubuh manusia. Dan kalaupun berhasil, akan butuh waktu lama untuk membuatnya massal. Dan kalaupun bisa, pastilah akan diprioritaskan untuk kepentingan nasional pemroduksi dulu.

Di saat yang bersamaan, ilmuwan kita juga tak tinggal diam. Pemerintah melalui lembaga Eijkman juga mendapat penugasan yang sama untuk mencari antivirus sialan ini. Di terowongan panjang yang gelap, pasti akan berujung. Berkas cahaya akan menembusi gelap itu. Ketika itu terjadi, kita akan selangkah lebih baik dan kuat sebagai bangsa.

Bobby R. Manalu, Advokat alumnus Univ. Gadjah Mada. Partner pendiri Siregar Setiawan Manalu Partnership (SSMP). Sesekali menulis—sambil belajar. Tulisan bukan representasi tempat dirinya bekerja.

Leave a Reply