Mengenal Kode DPNA Saat di Bandara

Melakukan perjalanan (travelling) bersama anak berkebutuhan khusus dengan autisme (“abk”) tentunya merupakan tantangan tersendiri bagi orang tuanya. Bisa dikatakan tingkat kesulitannya cukup tinggi dibanding anak tipikal pada umumnya, mengingat karakter abk itu sendiri seperti stimming, emosi yang cenderung impulsif, dan lain-lain.

Dan di bulan Maret 2019 yang lalu menjelang Special Olympics World Summer Games di Dubai, seorang influencer yang juga memiliki abk dengan autisme bernama Khalid Al Ameri, bersama dengan Travelport, memperkenalkan sekaligus mengampanyekan kode DPNA, yaitu Special Service Request (SSR) (Permintaan Bantuan Khusus) yang dikeluarkan oleh International Air Transport Association (IATA) dan berlaku untuk seluruh bandara dan maskapai yang menjadi anggota IATA.

IATA sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan kode DPNA ini pada bulan Mei 2008 untuk membantu penumpang penyandang disabilitas intelektual dan gangguan perkembangan seperti autisme, dementia, gangguan belajar dan gangguan kognitif yang memerlukan bantuan. Dengan menggunakan kode DPNA ini, maka penumpang tersebut bersama keluarganya akan mendapatkan jaminan bantuan yang baik dan wajar selama berada di bandara, baik keberangkatan, kedatangan maupun saat transit.

Dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi cerita pengalaman menggunakan kode DPNA saat berada di Milan Malpensa International Airport bersama abk.

Milan Malpensa International Airport, 29 Oktober 2019

Dengan menggunakan transportasi kereta Malpensa Express dari stasiun Cadorna di pusat kota Milan dan waktu tempuh sekitar 35 menit, penulis sekeluarga tiba di Milan Malpensa International Airport (“bandara”) sekitar pukul 08.30 pagi waktu Milan Italia. Sebenarnya penulis sudah melakukan online check-in untuk penerbangan dengan maskapai AirEuropa ke Madrid-Barajas International Airport.

Namun rupanya suami penulis ingin melakukan check-in di counter check-in maskapai untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Antrian yang begitu panjang menuju counter check-in, membuat penulis mengantisipasi agar Abhi tidak merasa bosan dan melakukan perilaku stimming, seperti dengan permainan tangan.

MUST READ  Intan: Pembentukan Perpres Jaminan Kesehatan Telah Mengabaikan Asas Keterbukaan

Kira-kira kurang lebih 40 menit, barulah kami sekeluarga tiba di depan counter. Saat penulis berbicara dengan petugas di counter check-in maskapai AirEuropa, tiba-tiba Abhi melakukan perilaku stimming dengan memutar-mutarkan tangannya. Seketika aku teringat akan video dari sosial media Khalid Al Ameri tentang kode DPNA yang bisa digunakan saat penyandang disabilitas mental autis berada di bandara.

Lalu penulis menyampaikan kondisi Abhi yang merupakan abk (special needs child) dengan autisme & hyperlexia. Tanpa prosedur khusus, petugas tersebut langsung menyampaikan bahwa dia menuliskan kode DPNA di boarding pass agar aku mendapatkan fasilitas fast track di bandara secara cuma-cuma. Aku tidak mengira sebelumnya bahwa ternyata petugas counter check-in AirEuropa paham dengan kode DPNA.

MUST READ  Mau Dapatkan Beasiswa LPDP? Ini Tahapannya!

Kemudian kami sekeluarga berjalan menuju security check-in yang antreannya cukup panjang, baik jalur biasa maupun jalur keluarga. Lalu penulis menemui petugas pintu fast track bandara dan menunjukkan boarding pass dengan kode DPNA.

Sepertinya petugas tersebut kurang paham mengenai kode DPNA, sehingga penulis mesti memberikan sedikit penjelasan bahwa Abhi adalah special needs child. Lalu petugas membukakan pintu yang sebenarnya khusus bagi pemegang tiket fast track bandara berbayar, namun dibukakan secara cuma-cuma sehingga kami sekeluarga tidak perlu melalui antrian yang panjang.

Setelah itu kami berjalan menuju boarding gate. Ketika pengumuman masuk ke pesawat, dengan menunjukkan boarding pass berkode DPNA kami sekeluarga dapat melalui jalur Sky Priority AirEuropa dengan cuma-cuma. Dan tanpa pertanyaan lebih lanjut, kami dipersilakan masuk ke pesawat AirEuropa terlebih dahulu tanpa melalui antrian yang panjang.

Harapan untuk Seluruh Bandara Anggota IATA di Indonesia

Mengingat kode DPNA ini dikeluarkan oleh IATA, aku berharap bahwa seluruh bandara di Indonesia yang sudah menjadi anggota IATA dapat menerapkan kode DPNA ini. Karena jika kode DPNA ini diketahui serta diterapkan dengan baik oleh seluruh petugas counter check-in dan petugas di bandara di Indonesia, maka hal ini tentunya akan sangat membantu para penumpang penyandang disabilitas intelektual dan gangguan perkembangan seperti autisme, dementia, gangguan belajar dan gangguan kognitif dan keluarga yang mendampingi mereka pada saat berada di bandara.

MUST READ  Masih Bingung Menulis CV? Mari Kami Tunjukkan Caranya

Mengingat mereka penyandang disabilitas tersebut di atas memiliki berbagai macam karakter yang berbeda-beda dan kadang sulit ditebak. Apabila saat di bandara menjelang keberangkatan mereka merasa nyaman, maka saat di penerbangan mereka akan berperilaku dan bersikap baik. Hal ini penting supaya penumpang lain juga tidak merasa terganggu dengan perilaku mereka saat di pesawat.

Sosialisasi kode DPNA ke seluruh bandara dan maskapai di Indonesia berikut penerapannya yang baik merupakan dukungan yang nyata bagi penyandang disabilitas intelektual dan gangguan perkembangan seperti autisme, dementia, gangguan belajar dan gangguan kognitif dan keluarganya, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Leave a Reply