Demokrasi dan Otoritas Media Sosial

Demokrasi akan mati karena “kepakaran” sudah tidak dihargai lagi oleh masyarakat. Footnotes diganti likes, reshare dan retweet. Jurnal diganti meme dan postingan. Dari abad pertengahan sampai awal abad ke-21, butuh proses panjang sampai akhirnya sains memiliki otoritas. Otoritas ini mulai bergeser sejak hadirnya media sosial.

Tidak percaya? Bumi datar satu contoh. Kemudian gerakan anti vaksin. Juga Trump yang tidak percaya perubahan iklim. Kebenaran saintifik yang telah berproses selama ribuan tahun bisa luluh begitu saja dengan beberapa video youtube yang viral.

Awalnya memang hanya soal show biz — dan tidak ada masalah kalau yang diurusi adalah show biz. Tapi akhir-akhir ini terjadi pergeseran kearah epistemologis. Otoritas baru di masyarakat adalah youtuber, buzzer, penceramah dan influencer. Mereka membentuk persepsi kebenaran. Mereka ini adalah elit baru yang akan menggantikan otoritas ilmuwan. Kebijakan publik akan ditentukan oleh postingan buzzer, bukan laporan hasil penelitian.

MUST READ  TAPPAI menyayangkan Pihak TVOne Mencari -cari Alasan Dalam Mediasi

Masih nggak percaya? Yah, misalnya, kontroversi akhir-akhir ini lah, berapa gelintir yang memang baca penelitian terkait hal itu? Mayoritas cuman nge-like page nya buzzer terus bersumpah-serapah disana. Mending kalau ada pro-kontra yang tertata baik di page nya buzzer, yang ada adalah, yang pendapatnya tidak sesuai kena bully. Tidak ada dialog.

Bagaimana dengan politisi? Ya, mereka yang penting dipilih lah. Kalau 90% rakyat bilang bumi datar (atau apapun yang secara populer dipercaya publik), mereka juga akan bilang begitu. Politisi justru akan beraliansi dengan elit baru ini untuk meminggirkan ilmuwan.

Kecanggihan teknologi justru membuat kita perlahan-lahan kembali ke abad pertengahan yang penuh dengan demagogi. Perilaku netizen seringkali mirip dengan mob yang meminta penyihir untuk dibakar.

MUST READ  Teknik Promosi Produk Melalui Media Sosial

Agak loncat sedikit, tapi kayaknya nanti bisa jadi ada diktator komputer (benevolent AI dictatorship). Manusia tidak bisa mengurus dirinya dan planet ini, jadi komputer yang logis-rasional (dan tentu tidak terpengaruh hoax bumi datar dan sejenisnya) akan mengurus semuanya. Yang jadi pintu masuk, mungkin, adalah regulasi algoritmik. Philosopher-king nya plato itu, ternyata komputer…

Leave a Reply