Mempertimbangkan Pertanggungjawaban Perdata Terhadap Subyek Hukum Artificial Intelligence (Bagian Pertama)

Perkembangan revolusi industri 4.0 tidak dapat dipungkiri telah membawa berbagai perubahan yang luar biasa kedalam dimensi kehidupan manusia. Dalam beberapa dekade terakhir segala dimensi kehidupan manusia telah terbantu oleh kehadiran revolusi industri 4.0, baik dari segi kualitas maupun efisiensi waktu.

Transformasi industri 4.0 dijuluki sebagai era otomatisasi dan interkonektivitas pada saat ini sedang menuju puncaknya. Salah satu tulang punggung yang menopang kehadiran industri 4.0 adalah tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur dan jasa yang ditandai hadirnya sistem cyber-physical, big data, block chain, internet of things (IoT), komputasi awan, komputasi kognitif dan teknologi printing 3 dimensi.

Secara historis, terminologi industri 4.0 secara resmi hadir dan diperkenalkan di Jerman pada saat Hannover Fair pada tahun 2011. Selanjutnya terminologi tersebut semakin dikenal publik salah satunya melalui publikasi buku Revolusi Industri ke 4 yang disusun oleh ilmuwan dari Jerman yang bernama Klaus Schwab. Tulisan ini merupakan refleksi dari segi hukum mengenai hadirnya industry 4.0 terutama akan membahas terkait keberdaaan Artificial Intelegence (AI).

Jenis AI

Tipologi AI menurut Nick Bostrom dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yakni : kecerdasan buatan, yaitu : pertama, yang disebut dengan Artificial Narrow Intelligence (ANI) atau AI lemah, sistem AI yang dirancang dan dilatih untuk tugas tertentu sebagai asisten pribadi virtual. Kedua, Artificial General Intelligence (AGI) atau AI kuat bisa disebut juga dengan AI setingkat manusia yaitu mahluk hidup yang memiliki kemampuan setara dengan yang dimiliki manusia, karena itu mesin tersebut dapat belajar dan tampil sesuai dengan tata cara manusia sehingga tidak dapat dibedakan dari manusia. Ketiga, Artificial Super Intelligence (ASI) yaitu teknologi kecerdasan buatan yang sengaja dibuat untuk melampaui kemampuan manusia. ASI dapat didefinisikan sebagai kecerdasan apa pun yang melebihi kinerja kognitif manusia dan terjadi pada hampir semua bidang minat.

Menurut Arent Hintze seorang professor biologi integratif dan ilmu komputer dan teknik dari Michigan State University membuat kategori AI menjadi 4 (empat) macam, yakni : tipe 1 reactive machines AI, jenis ini merupakan AI yang paling sederhana. Reactive machines AI menanggapi situasi yang sama dengan cara yang persis sama, setiap saat. AI ini dapat mengidentifikasi bagian-bagian sebuah obyek dan membuat prediksi, namun tidak memiliki ingatan dan tidak dapat menggunakan pengalaman masa lalu untuk memberi tahun langkah berikutnya. Hal ini menganalisis kemungkinan langkah lawan dan dirinya sendiri serta memilih langkah paling strategis. AI tersebut dirancang untuk tujuan yang sempit dan tidak dapat dengan mudah dapat diterapkan pada situasi lain. Contohnya adanya Deep Blue program catur IBM, Google GOGO. Tipe 2 limited memory AI, AI ini dapat melihat ke masa lalu, namun tidak melakukan penyimpanan memory. Mesin limited memory tidak bisa membangun memori atau “belajar” dari pengalaman masa lalu. Intinya AI dapat menggunakan pengalaman masa lalu untuk menginformasikan keputusan masa depan. Beberapa fungsi pengambilan keputusan serta pengamatan untuk menginformasikan tindakan yang terjadi di masa depan yang tidak terlalu jauh. Pengalaman ini tidak dapat disimpan secara permanen, contohnya : self driving AI. Tipe 3 theory of mind AI, AI tipe ini mengacu pada gagasan bahwa sebuah mesin dapat mengenali bahwa orang lain yang berinteraksi dengannya memiliki pikiran, perasaan, dan harapan. Mesin yang disematkan pada AI tipe 3 dapat memahami pikiran, perasaan, dan harapan orang lain, dan dapat menyesuaikan tingkah lakunya sendiri. Secara psikologi hal ini mengacu pada pengertian bahwa orang lain memiliki keyakinan, keinginan sendiri dan niat yang mempengaruhi keputusan yang mereka buat, namun AI tipe ini belum ada. Tipe 4 self awareness AI, sistem AI dalam kategori ini memiliki rasa diri, memiliki kesadaran, mesin dengan kesadaran diri memahami keadaan mereka saat ini dan dapat menggunakan informasi untuk menyimpulkan apa tang dirasakan oleh orang lain, namun AI tipe ini belum ada.

Kehadiran AI dalam dunia hukum tentunya bisa menjadi peluang dan tantangan bagi praktisi hukum. Peluang tersebut terasa dengan adanya kemudahan, efisiensi dan efektivitas dalam membantu pekerjaan hukum yang bersifat non litigasi maupun sebagai salah satu sumber data untuk mempersiapkan pekerjaan dalam ranah litigasi. Tantangan kedepan kehadiran AI mampu mendisrupsi beberapa pekerjaan hukum yang secara konvensional masih dilakukan oleh profesi hukum. Aksioma hadirnya Law Geex Artificial Intelegence (AI) merupakan lonceng penanda yang menegaskan bahwa disrupsi bagi profesi hukum sudah hadir didepan mata. Terlepas dari praktik diskursif mengenai peluang dan tantangan AI, kita perlu melihat dari segi hukum mengenai keberadaan AI dan output product-nya dari aspek subyek hukum, perbuatan hukum dan konsekuensi hukumnya apabila terjadi kasus hukum, mengingat belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai subyek hukum AI.

Lanjutkan ke Mempertimbangkan Pertanggungjawaban Perdata Terhadap Subyek Hukum Artificial Intelligence (Bagian Kedua)

Recently more than ten years experiences in lawyering industry which focused on corporate law and government law. He holds PERADI License and practiced as an Advocate and Legal Consultant, during joined with various law firm he has many experiences in handling many cases particularly in Penal Law, Civil Law, Bankruptcy Law. He also handling cases either in litigation or Alternative Dispute Resolution.
He has also experience to represent several Public Corporation and Limited Corporation to provide legal services such as : legal due diligence, legal opinion, reviewing and business contract drafting. He also has experience to arrange debt restructuring process.
He concerns in education sector, he is a former lecture and trainer in many corporation, government and community
Prior to join in the Law Firm Industries he works as a Public Policy Consultant in several International Organization like : USAID INDONESIA, Asian Development Bank, Oxfam GB. He has many experiences in project management and leadership skill while provide technical assistance for many Local Government and several Ministry of Republic Indonesia.
Through his professional and academic experiences in International Organization and Corporate Law Firm he has become a highly adaptable, strong leadership, team player with the skills, expertise, and professionalism.

One Reply to “Mempertimbangkan Pertanggungjawaban Perdata Terhadap Subyek Hukum Artificial Intelligence (Bagian Pertama)”

Leave a Reply