Mau Kawin? Jangan Lupa Perkawinannya Dicatat

Perkawinan merupakan suatu perwujudan hak konstitusional warna negara, sesuai dengan Pasal 28B ayat (1) UUD 1945 bahwa ?Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah?. Perkawinan diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tetang perkawinan. Dalam Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkn ketuhanan Yang Maha Esa. Sah atau tidaknya suatu perkawinan terdapat dalam Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan yaitu apabila dilakukan sesuai dengan aturan agama dan kepercayaannya masing-masing, serta perkawinan tersebut dicatatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Keduanya merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan sebagai unsur sah atau tidaknya suatu perawinan.

Pencatatan perkawinan dapat dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi yang melakukan perkawinan secara islam, sedangkan bagi yang melakukan perkawinan seacara Katholik, Kristen, Budha, Hindu, pencatatan perkawinan dapat dilakukan di Kantor Catatan Sipil. Berikut ini tata cara pencatatan perkawinan, di KUA dan Kantor Catatan Sipil.

Tata cara pencatatan perkawinan di KUA

    1. Sebelum melangsungkan akad nikah, pasangan harus melakukan pemberitahuan dan pendaftaran perkawinan di KUA setempat, selambat-lambatnya 10 hari sebelum perkawinan dilangsungkan.
    2. Lengkapi persyaratan yang telah ditetapkan.
    3. Pada saat setelah akad nikah berlangsung petugas KUA hadir dan mencatat perkawinan.
    4. Bukti dari pencatatan perkawinan berupa buku nikah untuk istri dan suami.

Tata cara pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil

    1. Pemohon mengisi dan menandatangani Formulir Pencatatan Perkawinan dengan melampirkan persyaratan, salah satunya Membawa surat surat pemberkatan pernikahan atau bukti perkawinan dari pemuka agama
    2. Petugas registrasi melakukan verifikasi, validasi data permohonan dan mengagendakan permohonan pencatatan perkawinan,
    3. Pasangan mendaftarkan ke dinas dengan menghadirkan 2 Orang saksi
    4. Petugas registrasi melakukan perekaman data perkawinan ke dalam database dan mencatat pada register akta perkawinan dan Kutipan Akta Perkawinan
    5. Bukti pencatatan perkawinan berupa akta nikah.

Pencatatan perkawinan penting untuk dilaksanakan, dimana selain sebagai suatu keabsahan perkawinan, pencatatan perkawinan juga akan memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi suami, isteri dan anak-anak. Selain itu, pencatatan perkawinan dapat memberikan jaminan dan perlindungan terhadap hak-hak tertentu yang timbul akibat perkawinan antara lain hak untuk mewaris, hak untuk memperoleh akta kelahiran, hak atas nafkah hidup, memudahkan urusan perbuatan hukum lain yang terkait dengan pernikahan dan terjamin keamanannya.

Apabila suatu perkawinan tidak dicatatkan akan menimbulkan suatu kerugian bagi suami, istri ataupun anak-anaknya, kerugiannya yaitu sebagai berikut:

    1. perkawinan tidak dianggap sah dan tidak diakui oleh negara,
    2. anak yang lahir dari perkawinan tersebut hanya memiliki hubungan keperdataan dengan ibu,
    3. sulitnya pengurusan administrasi pencatatan akta kelahiran dan administrasi lainnya,
    4. anak dan istri tidak berhak atas nafkah dan harta waris dari suami.

Pencatatan perkawinan akan memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum tentunya, maka dari itu sudah seharusnya masyarakat Indonesia menyadari akan pentingnya pencatatan perkawinan.

Leave a Reply