Makhluk Hidup Bisa Disita?

Ini masalah hukum menarik..tapi maaf saya tidak tertarik bahas masalah penodaan agamanya.. Cere lah kasus begitu dijadiin kasus penodaan agama atau kasus apapun.. Gak mutu.. Ini ada masalah hukum yang tahun lalu baru dibahas di Hoge Raad (Mahkamah Agung) Belanda..

Berita ini intinya bahas polisi mau menghadirkan anjing yang masuk mesjid sebagai barang bukti.. Dalam hukum Indonesia, terminologi ?barang bukti? seringkali dihubungkan dengan benda yang dapat disita oleh penyidik yang ada di Pasal 39 KUHAP.. Nah masalah hukum dari kasus ini adalah apakah anjing, yang merupakan makhkuk hidup, dapat disamakan atau dapat dikategorikan sebagai ?benda? dalam Pasal 39 KUHAP tersebut? Apakah kata ?benda? dalam pasal tersebut mencakup pula ?makhluk hidup? sehingga dapat disita dan dinyatakan sebagai barang bukti?

Menariknya, hal ini baru dibahas oleh Hoge Raad Belanda pada tahun 2018 lalu, yaitu dalam Arrest (Putusan) Hoge Raad No. HR:2018:996 di mana dalam kasis tersebut, terdapat seseorang yang menyalahgunakan anjingnya dan anjingnya disita oleh polisi. Pemilik anjing tersebut mempermasalahkan mengenai keabsahan penyitaan tersebut karena ia merasa seekor anjing tidak dapat disita karena merupakan makhluk hidup, sedangkan penyitaan hanya boleh dilakukan terhadap ?benda?, yang adalah benda mati. Dalam putusannya, Hakim Agung Hoge Raad menyatakan bahwa ?benda? yang dapat disita harus ditafsirkan secara luas sehingga termasuk pula makhluk hidup. Dengan demikian, penyitaan anjing tersebut sah untuk dilakukan. Bagi yang mau baca putusannya, google aja ya.. Biar kuotanya bermanfaat..

Andai saja anjing tersebut tidak mati dan jadi disita, menarik sekali hal ini dibahas dalam peradilan pidana kita. Ya walaupun gatau juga nyampek apa gak itu pembahasan ke masalah hukum tersebut.

Muhammad Tanziel Aziezi (Azhe) merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2014, Program Kekhususan Hukum tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan (Pidana). Saat ini, Azhe aktif sebagai peneliti di bidang reformasi peradilan dan pengajar di salah satu perguruan tinggi hukum di Jakarta. Selain hukum pidana, Azhe juga memiliki ketertarikan pada hukum konstitusi, forensik, dan dunia musik. Azhe juga mengelola beberapa laman yang digunakan untuk membahas isu hukum dan musik, yaitu tulisan di www.kanggurumalas.com , dan podcast pada channel “kangguru molor”.

Leave a Reply