Lapas

Saya dan Nusakambangan: Sebuah Prolog

Saya menulis ini sbg catatan, juga refleksi atas pertanyaan teman “ada apa sih antara kamu dan Nusakambangan? seneng sekali kesana

Tahun 1995, di dinding FH Undip, saya melihat pengumuman kunjungan ke pulau Nusakambangan oleh Jurusan Hukum Pidana. Peserta yang berangkat, ingat betul, tidak sampai 15 orang (dosen dan mahasiswa/i).

Pelabuhan Wijayapura (sisi Cilacap) dan Sodong (sisi Nusakambangan) saat itu masih sangat sederhana fasilitas dan penjagaannya. Jauh sblm era CCTV, face recognition dan biometric. Kami dijemput dengan bus tahanan menuju ke dalam area pulau melalui jalan gedombrangan (rusak). Jalannya sempit dengan sisi pepohonan yang rapat dengan tepi jalan.

Kami tiba di Lapas Batu (ini Lapas terbesar dan Kalapas-nya bertindak ex-officio sebagai pengampu kawasan). Kami diarahkan ke ruang tunggu yang gelap dan kemudian naik untuk bertemu pimpinan.

Kami kemudian dipecah dalam kelompok kecil (2 orang) utk berdialog lesehan dengan seorang napi. Napi yang saya temui dihukum karena pembunuhan berencana. Ia ABK asal Sumatera yang membunuh kapten kapal (WNA). Menurutnya kapten kapal sangat tidak manusiawi. Usianya 19 tahun saat kejadian. Saat ngobrol umurnya masih 28 thn, orangnya sopan dan agak pemalu. Ia akan disana utk waktu yang tidak diketahui (ketika itu) karena hukumannya seumur hidup. Saya akan gila duluan sebelum saya mati krn usia dalam penjara, kalau itu saya.

MUST READ  Sekolah Favorit dan Masalah Zonasi

Salah satu aktifitas yang ia lakukan utk mengalihkan pikiran adalah mengasah batu cincin. Nusakambangan adalah pulau berbatu. Napi akan diberi batu oleh petugas yang kemudian akan diasah. Sebagai rangka cincinnya napi melelehkan uang logam 500 rupiah keluaran thn 1991.

Ia pun menawarkan satu cincin yg ia punya. Berbatu merah muda, dengan warna yang bisa sedikit berubah menjadi cerah ataupun gelap. Cincin itu saya beli dengan sisa uang yang ada di saya, dan kemudian saya berikan ke Sisca.

Ia pun berbalik menanyakan perihal saya. Pengingat kuat betapa saya harus bersyukur dengan kondisi yang ada meskipun sebagai perantau missqueen,

Ini adalah interview Napi yang pertama kali saya lakukan. Pengalaman mendengar langsung bagaimana semua teori mulia sistem peradilan pidana ambyaarrrr saat dilapangan.

MUST READ  Susi, Sang Ratu Pantai Selatan

Saya mulai merasa pemenjaraan lebih untuk memuaskan kemarahan publik atas kejahatan. Bukan utk menjadikan napi orang yang lebih baik. Derita tambahan (hidup di bawah standard manusia) sudah melampaui putusan pengadilan yg sejatinya hanya merampas kemerdekaan. Kita amini, setidaknya biarkan, karena itu memenuhi primal instinct kita. Masalahnya? mereka yang kita rusak akan kembali kepada kita.

Selesai kunjungan, saya memantapkan hati untuk masuk jurusan hukum pidana yg dikenal angker. FH Undip sebenarnya dikenal karena jurusan pidananya (Prof Muladi, Barda, Nyoman, Cipto dll) aktif dalam penemuan hukum pidana di Indonesia. Namun dari 220 mahasiswa angkatan 1993, hanya 5 yang ambil pidana.

Jalan ini pun berlanjut saat skripsi (penerapan tindak pidana subversi: studi kasus PRD 1996) yg membutuhkan interview intensif di Salemba dan Cipinang yang lebih menguak persoalan pemenjaraan di Indonesia.

MUST READ  Saya, Kebodohan Saya dan B.J. Habibie

Kunjungan hanya sehari di tahun 1995 itu, baru saya sadari, punya dampak yang dalam. Nusakambangan jadi prolog, titik awal apa yang saya yakini dan lakukan sampai sekarang.

Leave a Reply