Kepekaan Tracy Chapman

Kepekaan Tracy Chapman

Perkiraan Waktu Membaca: 4 menit
5
(2)

Lama sekali saya tidak mendengarkan Tracy Chapman. Untuk saya, mendengarkan lagu-lagu Tracy sama dengan dengan membaca novel-novel pemenang Nobel sastra, Toni Morrison. Keduanya mengoyak-oyak sanubari saya.

Lagu-lagu Tracy sangat peka dengan situasi yang dia hadapi dalam hidupnya. Lahir miskin sebagai seorang perempuan kulit hitam, ditinggal ayah sejak kecil, ia hanya dibesarkan oleh ibunya yang memberikannya ukulele pada usia 3 tahun. Dia mengalami semua kekerasan yang harus dialami oleh orang kulit hitam — dan perempuan. Dia beruntung mendapat beasiswa. Pendidikanlah mengangkatnya dari jerat kemiskinan.

Untungnya Tracy juga tumbuh di Public Library (Perspustakaan Umum). Salah satu kelebihan dari kota-kota di Amerika adalah setiap kota memiliki perpsutakaan umum yang berfungsi. Dia banyak membaca. Ini mempertajam kemampuannya untuk menyerap dan mengekspresikan pengalaman hidupnya.

Lagu “Fast Car” ini adalah sebuah balada. Liriknya sangat kuat mengekspresikan hidup sebagai perempuan kulit hitam Amerika. Fast Car — mobil balap — adalah sebuah metafor untuk keluar dari situasi mematikan yang dibikin oleh kemiskinan.

Namun lelaki yang diajaknya keluar dari kemiskinan ternyata tersedot kembali ke pusaran kemiskinan. Mimpi itu tetap mimpi.

Imajinasi Tracy Chapman sangat berbeda dengan imajinasi aktivis-aktivis yang pernah saya kenal yang haus dengan heroisme. Para aktivis dengan mimpi kekiri-kirian, mengutip buku-buku kiri tanpa pernah membukanya, mempertontonkan romatisme heroik murahan dengan Castro atau Che Guevara sebagai idola.

Tracy sama sekali tidak heroik. Dengarkanlah lagunya “Talkin’ Bout A Revolution.” Sama sekali tidak ada kepalan tangan, teriakan berapi-api, atau bendera-bendera yang diam-diam disumbang perusahan-perusahan besar.

Tidak ada kutukan terhadap kapitalis di dalam lagu-lagu Tracy. Tidak ada jargon-jargon sosialis. Yang ada hanya orang antre di depan kantor jaminan sosial menunggu kupon makanan. Atau, pegawai rendahan yang menunggu naik pangkat (promosi). Atau, mungkin pegawai honorer yang menunggu surat pengangkatan yang tak kunjung tiba.

Atau dengarkanlah “All That You Have Is Your Soul,” semua yang kamu punya cuma sanubarimu. Ini adalah nasehat mamanya. Jangan jual sanubarinya. Laparlah hanya terhadap keadilan. Laparlah hanya terhadap dunia kebenaran.

Di malam yang dikoyak pandemi ini, saya kira Tracy Chapman mengingatkan saya kembali akan keadilan itu. Bukan keadilan murahan dengan sumbangan-sumbangan yang tidak jelas juntrungan.

Tetapi keadilan yang lebih mendalam. Yang akar-akarnya tidak kelihatan. Keadilan yang tidak menjual kemelaratan demi ketenaran dan kekaguman karena ada welas asih. Karena belas kasih itu hanya akan mengukuhkan dominasi. Dan dominasi selalu berakhir dengan penindasan.

Tracy membawa saya kepada renungan ketidakadilan struktural. Seperti, mengapa mereka yang terpuruk sulit sekali bangkit? Apakah yang membelenggu leher mereka sehingga mereka senantiasa tenggelam dari hidung ke bawah? Mengapa orang kaya abadi, sementara kalau kau miskin kau hanyalah statistik yang fana?

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 5 / 5. Penilaian terhitung: 2

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Made Supriatma, lahir di Denpasar, Bali, pada 1966. Dia pernah bekerja sebagai peneliti di Lembaga Studi Realino (LSR), Yogyakarta. Semasa di lembaga itu, dia aktif melakukan penelitian tentang politik kebudayaan, militer dan militerisme, serta masalah-masalah etnis Tionghoa. Belakangan ini dia mengarahkan perhatian pada politik identitas, konflik, dan kekerasan. Saat ini bekerja sebagai Visiting Research Fellow di ISEAS - Yusof Ishak Institute, Singapore

Leave a Reply