Toko Sebelah: Disrupsi Itu Kayak Gini Contohnya

Mbak Irmaaaa… berkali-kali ngomong tentang disrupsi. Maksudnya apa siihh?? What?? Laggiii? Baiklah… saya cerita aja ya gimana itu disrupsi. Basically, whatsoever, (kenapa gw jadi pakai bahasa anak Jaksel ya).

Alkisah… ada seorang pandai besi yang sangat mahir membuat pelana kuda dan sepatu kuda. Sebut saja namanya abunawas. Pelana buatannya selalu merupakan karya terbaik di kotanya. Setiap hari pekerjaannya hanya membuat pelana kuda dengan tekunnya sehingga hampir tidak pernah keluar rumah dan berjalan2. Setiap undangan dari sesama pandai besi dari berbagai kota dia abaikan saking fokus nya dia menekuni usaha pelana nya.

Sampai suatu hari, di suatu waktu pada satu titik dia menyadari bahwa pembeli pelananya semakin berkurang dan akhirnya tinggal satu dua pelanggan lama yang berusia sama. Dia merasa heran,.. karena pelananya merupakan pelana terbaik dan dia selalu memberikan service terbaik utk pelanggannya. Tapi kemana semua orang pergi?  Mengapa tokonya semakin sepi? Mengapa tidak ada lagi orang datang memesan pelana kuda? “Jangan2 ada yang main dukun nih dari pandai besi sebelah?” pikirnya. Bertahun2 dia sibuk memikirkan bagaimana memenangkan persaingan dengan toko sebelah dan “membalas” prasangka bahwa selama ini tokonya dikerjain.

Akhirnya 3-4 tahun kemudian,…. Hari itu dia termangu memandangi papan nama mentereng yang tergantung indah di depan tokonya : “Abunawas, Ahli Pembuat Pelana Sejak 1850”. Dia akhirnya terpaksa menutup toko yang sudah dirintis sejak lama, setelah sadar bahwa pesaingnya bukan toko sebelah yang juga membuat pelana. Selama ini dia selalu curiga toko sebelah.

MUST READ  Dokumen Wajib Untuk Menikah dengan WNA di Indonesia

Ternyata tidak, pesaingnya adalah sebuah toko modern yang menjual benda besi yang tidak makan rumput melainkan minum cairan bensin, yang akhirnya baru dia ketahui diketahui bernama : MOBIL. Pelanggan para bangsawan ternyata sudah menjual kuda-kuda mereka dan beralih ke mobil yang lebih praktis, trendy dan nyaman dikendarai. Siapa yang membutuhkan kuda jika bisa ada mobil yang lebih nyaman dikendarai?

Selama ini, Abunawas tidak pernah menyadari bahwa pekerjaan yang dikerjakannya dengan penuh kecintaan ternyata sudah mulai ketinggalan jaman. Dia memang tidak melakukan kesalahan apapun, tapi karena jaman sudah berubah tapi dia terlambat untuk menyadarinya. Kejadian Abunawas ini lah yang dialami oleh berbagai jenama terkenal di masa lalu yang perlahan tapi pasti hilang ditelan jaman pada era disrupsi ini.

MUST READ  Saya, Kebodohan Saya dan B.J. Habibie

Mereka “dimatikan” dengan adanya tekhnologi baru yang diciptakan bukan oleh kompetitornya. Tapi oleh inovasi baru yang tidak terbayangkan. Seperti pabrik es batu yang dimatikan oleh inovasi ditemukannya lemari es, dan berbagai kamera analog yang nantinya punah setelah ditemukannya Kamera Digital. Inilah yang disebut sebagai dampak disrupsi pada Revolusi Industri.

“Musuh” dari para ahli hukum sebenarnya bukan sesama ahli hukum. Namun para ahli hukum saat ini sedang berhadapan dengan musuh yang tidak kelihatan. “Kompetitor” yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bisa jadi mereka bahkan tidak bergelar sarjana hukum, melainkan ahli-ahli IT, ahli matematika, dan ahli-ahli ekonomi. Merekalah yang membuat smart contract, digital contract, digital signature, hash, dan bahkan blockchain sampai dengan cryptocurrency (tentang istilah2 “planet” ini nanti saya jelaskan terpisah ya…)

Seperti kata Notaris Quebec yang saya temui di Kongres Notaris Internasional bahwa kita harus siap dan waspada, karena badai Disrupsi sdh dekat dan siap menelan siapa saja. Bisa jadi kelak produk akta kita di obral di tokopedia atau bukalapak atau bahkan ditemukan di museum.

MUST READ  Mengenal Over The Top (OTT) Communication Services dan Pengaturannya di Indonesia

Tidaaakkk…. jangan salah paham, saya tidak menganjurkan para notaris untuk beralih profesi, membesar2kan masalah disrupsi atau bahkan menakut2i. Saya hanya mengingatkan agar kita tidak terlena.

Kesimpulan utama dari hasil kongres notaris dunia kemarin memberikan wawasan baru, bahwa kita -sebagai notaris– harus mulai mawas diri dan siap untuk meninggalkan cara-cara lama dan terus belajar mengisi diri serta mengikuti perkembangan jaman dan teknologi di bidang hukum dengan tetap mempertahankan ke otentisitasan dari produk – produk akta yang dibuat.

Semangat ya kakaaaaakkk!!

Leave a Reply