Hemp, Solusi Hijau Bahan Bakar Nabati

Perkiraan Waktu Membaca: 12 menit
5
(3)

Dunia yang kita tinggali saat ini sedang dilanda krisis iklim. Berdasarkan laporan dari IQAir, menyatakan bahwa konsentrasi PM 2.5 di Jakarta pada tahun 2020 terhitung 2x lebih tinggi dari standar kualitas udara WHO tahun 2021. Kualitas udara yang buruk tentu saja akibat dari emisi karbon yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil. Dilansir dari merdeka.com, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, M. R. Karliansyah mengatakan bahwa kerugian yang disebabkan pencemaran udara karena kendaraan bermotor mencapai Rp38,5 triliun dalam analisis KLH tahun 2020. Hal tersebut akibat dari emisi bahan bakar motor yang berbahaya bagi pernapasan mahluk hidup karena bersifat karsinogenik yang dapat merusak organ dan menyebabkan kanker. Emisi gas dari kendaraan bermotor  juga dapat memicu efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan suhu bumi.

Keadaan bumi yang kita tinggali saat ini makin memprihatinkan karena suhu bumi lebih panas 1° dari zaman sebelum adanya industrialisasi yang mengancam keberadaan kota Jakarta di tahun 2030. Memanasnya suhu bumi telah menyebabkan naiknya permukaan air laut, menyusutnya es di laut Arktik (kutub utara), menyusutnya glasier, memanasnya lautan dan meningkatnya keasaman laut. Hal ini menyebabkan berbagai kondisi cuaca dan iklim ekstrim di seluruh penjuru bumi, mulai dari gelombang panas, hujan lebat yang menyebabkan banjir hebat, kekeringan panjang, dan badai tropis (siklon) yang merusak (komitmeniklim.id). Belum selesai sampai disini, kenaikan suhu bumi menyebabkan perubahan iklim yang ekstrim serta melelehnya es di kutub yang berimbas pada tenggelamnya daratan dan pulau-pulau kecil di lautan.

Oleh karena itu urgensi penggunaan biofuel sebagai energi alternatif pengganti bahan bahan fosil sangat dibutuhkan. Mengingat bahan bakar nabati merupakan salah satu sumber energi yang dapat diperbaharui serta ramah lingkungan karena mengasilkan emisi karbon yang sedikit. Serta dapat mengurangi ketergantungan negara pada impor bahan bakar motor, sehingga dapat menyejahterakan ekonomi petani. Bahkan, Rudolf Diesel  percaya kalau mesin berbahan bakar minyak nabati akan menjadi alternatif terbaik yang akan bersaing dengan mesin uap yang boros bahan bakar. Alternatif tersebut tidak hanya untuk menunjang energi terbarukan tapi juga untuk menyelamatkan lingkungan.

Mau ikut jadi Mediator Tersertifikasi? Segera ikut Pendidikan Mediator Bersertifikat (PMB) Kelas Online Angkatan V yang dimulai pada Desember 2022. Akreditasi dari Mahkamah Agung!

Segera daftarkan diri melalui ICJR Learning Hub!

Akan tetapi tidak semua bahan bakar nabati lebih efektif dalam menyelamatkan lingkungan dari pencemaran yang menyebabkan krisis iklim. Sebagai contohnya adalah sawit yang kini tengah diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan minyak dan pembuatan biofuel. Berdasarkan laporan dari Greenpeace.id dan LPEM UI menyatakan bahwa semakin tinggi pemanfaatan  biodiesel berbasis sawit, berarti semakin meningkat pula alih fungsi lahan yang digunakan. Dengan penggunaan bahan lain selain sawit, tidak menutup kemungkinan kerusakan tersebut kembali terulang jika pengelola industri tersebut tidak menerapkan unsur keberanjutan dalam pengelolaan industri. Jika industri dikelola dengan baik dengan memperhatikan unsur keberlanjutan maka kerusakan tersebut dapat di minimalisir dalam sektor apapun.

Beberapa tanaman dapat digunakan sebagai bahan bakar nabati, salah satunya adalah hemp. Hemp merupakan salah satu varietas Cannabis sativa l. yang memiliki kandungan biomassa tinggi untuk memproduksi etanol. Ini relate dengan keadan saat ini karena bahan bakar nabati yang paling umum diproduksi secara masal adalah etanol dan metanol. Keduanya dihasilkan dari penyulingan biji dan kayu yang menghasilkan senyawa etil atau metil alkohol. Penggunaan minyak hemp sebagai bahan bakar nabati telah digunakan sejak tahun 1800-an, akan tetapi persaingan dagang dan pengaruh kekuatan industri bahan bakar fosil menghambat berkembangnya produksi bahan bakar nabati pada 1920-1930an.

Dalam pembuatan biofuel yang paling banyak digunakan adalah biji dan batang hemp yang menghasilkan biodiesel dan bioetanol. Minyak biji hemp diolah dengan etanol melalui proses transesterifikasi menghasilkan biodiesel sebagai pengganti solar. Dalam proses transesterifikasi tersebut menghasilkan gliserin sebagai bahan baku sabun. Selain sebagai bahan baku dalam pembuatan sabun gliserin juga digunakan sebagai bahan kosmetik dan skincare. Lebih dari 75% asam lemak dari minyak biji ganja berbentuk asam lemak esensial tak jenuh yang memiliki kemampuan untuk melembabkan kulit yang baik. Sedangkan pengelolaan batang hemp selain melalui proses transesterifikasi yaitu melalui proses fermentasikan terlebih dahulu untuk mendapatkan bioetanol yang nantinya digunakan sebagai pengganti bensin.

Minyak hemp dapat menghasilkan biomasa yang tinggi dalam waktu yang singkat. Hal ini dikarenakan biji hemp mengandung minyak 30-34% dari serat biji. Hasil panen hemp sebesar 1,54-2,64 ton/ha yang dapat dikonversi menjadi 226-388 liter per acre pada tingkat ekstraksi 35%. Bahkan hemp memiliki biomassa 4x lebih tinggi dibanding pesaing terdekatnya, yaitu batang jagung, tebu dan kenaf. Penanaman hemp juga tidak memerlukan komitmen jangka panjang sehingga dapat dikatakan layak secara ekonomi untuk budidaya dalam skala kecil. Tanaman ini memiliki emisi CO dan CO2 lebih rendah dibanding diesel murni dan diesel campuran jarak pagar karena kandungan belerangnya rendah dibanding kedelai dan rapseed.

Hemp merupakan tanaman yang multiguna sehingga tidak ada bagian yang tersisa dalam pemanfaatannya. Anatomi tubuh hemp terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan biji. Keseluruhan bagian tersebut memiliki kegunaan masing-masing. Sehingga dalam satu kali panen, satu pohon ganja dapat digunakan untuk berbagai macam produk yang tentu saja ramah lingkungan. Berbagai produk tersebut antara lain obat, tekstil, kertas, batako, badan kendaraan bermotor, kosmetik & skincare, dll. Salah satu manfaat serat batang ganja adalah sebagai bahan baku tekstil. Pada saat itu ditemukan kain tenun dari serat batang hemp yang berumur sekitar 8000 tahun di Cina. Serat batang hemp merupakan pilihan pertama di Cina untuk memproduksi tekstil.  Seiring berjalannya waktu serat batang hemp digunakan untuk berbagai produk fashion yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Mengingat pertanian hemp memiliki dampak baik bagi lingkungan. Limbah produk fashion dari hemp bersifat biodegradable yang dapat diolah menjadi bahan baku produksi kertas.

Kertas berbahan dasar serat hemp ditemukan di Provinsi Shaanxi yang berasal dari masa 2138 SM. Kertas dari serat hemp lebih ramah memiliki kualitas lebih baik dan jauh lebih efisien daripada serat kayu jika dilihat dari bahan baku, proses produksi, dan dampaknya pada lingkungan. Batang hemp yang terkenal kuat dan kokoh juga digunakan sebagai batako pembuatan bangunan ramah lingkungan. Batako berbahan dasar hemp ini bernama hempcrete yang telah digunakan sebagai alternatif bahan bangunan berkelanjutan. Salah satu keunggulan hempcerete yang menjadi daya tarik selain tidak menggunakan bahan kimia adalah tahan api. Selain digunakan sebagai tekstil, kertas dan hempcrete, serat batang hemp dapat digunakan untuk bahan baku body pesawat dan mobil.

Selain batang, terdapat pula bagian tubuh lain yang memiliki manfaat. Bagian apakah itu? Jawabannya adalah bunga dan akar. Bunga dari hemp memiliki kandungan Cannabidiol (CBD) yang dapat memberi efek terapeutik untuk meredakan berbagai penyakit. Seperti yang saat ini diupayakan untuk menurunkan ganja dari Golongan I  Narkotika agar dapat menjadi obat dan digunakan secara legal. Akar ganja juga memiliki peran dalam mengobati penyakit, khususnya diabetes. Budaya masyarakat Aceh selain menggunakan biji ganja untuk pelengkap bumbu masakan, mereka juga menggunakan akar ganja sebagai obat untuk mengatasi penyakit diabetes. Akar ini pernah dipamerkan di Pekan Kebudayaan Nasional tahun 2019.

Hemp merupakan solusi hijau dalam pembuatan bahan bakar nabati karena memberikan dampak yang baik terhadap  lingkungan. Hal ini dikarenakan hemp tidak memerlukan lahan yang bagus dan subur untuk bertumbuh. Bahkan lahan tandus dan bekas pembukaan lahan juga dapat ditanami hemp. Tanaman ini memiliki kemampuan untuk menelan patogen dan membuka jalan untuk tanah agar menjadi lebih sehat. Sehingga tanah bekas tanaman hemp menjadi lebih subur dan dapat meningkatkan hasil panen 10-20% pada penanaman berikutnya.

Dalam perawatannya juga tidak membutuhkan banyak air karena hemp mampu tumbuh dan beradaptasi di berbagai macam iklim. Tentu saja hemp dapat menghemat penggunaan air dalam industri pertanian. Hemp juga tidak membutuhkan banyak pestida untuk bertahan hidup. Bahkan hemp berpotensi untuk menurunkan penggunaan pestisida pada tanaman yang ditanam berikutnya. Nah, jika dibandingkan dengan bahan bakar nabati yang lain seperti jagung dan kedelai, mereka lebih membutuhkan pestisida dalam jumlah besar sehingga cenderung kurang ramah bagi lingkungan. Biodiesel dari hemp digunakan di US sebagai bahan bakar bis yang selain ramah lingkungan juga menyejahterahkan petani. Hemp mampu menyerap CO dan CO2 lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan pohon, sehingga dalam proses penanamannya hemp memiliki peran sebagai solusi bagi pemanasan global.

Dari keseluruhan tulisan ini dapat dilihat bahwa hemp merupakan solusi dari pertanian berkelanjutan yang membantu pengelolaan kesuburan lahan. Saat ini yang dibutuhkan adalah kerjasama antar stakeholder terkait dalam pembuatan kebijakan dan regulasi terkait pemanfaatan industri hemp. Mengingat hemp memiliki daya guna dari biji hingga akarnya dan layak digunakan untuk menjalankan ekonomi hijau. Bahkan sisa dari serat hemp dapat diolah menjadi nanomaterial carbon yang biasa disebut hexon. Sebuah pembaharuan di era teknologi bahwa hexon ini digunakan sebagai bahan untuk baterai. Nah saat ini baterai berasal dari pertambangan timah yang tentu saja membutuhkan galian tambang lagi untuk menghasilkannya. Dikutip dari komitmeniklim.id yang menyatakan bahwa Industri baterai yang kelak akan digunakan untuk kendaraan listrik, sudah memicu pertambangan nikel yang bahkan menyasar pulau-pulau kecil di Indonesia yang mestinya bebas tambang. Sehingga hemp merupakan solusi yang cocok untuk mengembangkan bahan bakar nabari berkelanjutan.

Daftar Referensi :

Tim LGN. 2016. Hikayat Pohon Ganja. Jakarta: CV Karya Gemilang

Cannabis biofuel: is it a feasible solution?

https://www.cannabistech.com/articles/driving-toward-a-greener-future-with-hemp-biofuels/

https://wayofleaf.com/hemp/hemp-biofuels

Apakah Bahasan ini Menarik?

Klik untuk memberikan penilaian!

Rata - rata penilaian 5 / 5. Penilaian terhitung: 3

Belum ada penilaian! Berikan penilaian anda untuk bahasan ini.

Karena anda telah memberikan nilai...

Jangan lupa bagikan di media sosial!

Leave a Reply