Etika Berdagang: Diskon dan Obral yang Menyesatkan

Menjelang hari raya agama-agama, atau waktu-waktu tertentu, sudah biasa kita melihat tempat-tempat perbelanjaan mempromosikan diskon atau obral barang dagangannya. Kadang persentase diskonnya juga tidak tanggung tanggung, bisa sampai 70 persen. Atau skemanya, beli dua barang gratis satu, voucer belanja jika memenuhi jumlah belanja seharga tertentu, dsb.

Menjual barang dengan cara memberikan diskon itu sebenarnya biasa dalam praktik dagang. Prinsipnya penjual barang ingin menarik minat kelompok pembeli yang selama ini menahan keinginannya karena merasa harga barang masih terlalu mahal atau menarik minat para pembeli yang ingin membeli barang dalam jumlah banyak karena kebutuhan saat itu.

Saya sering seperti ini. Ingin membeli barang, biasanya sepatu. Tapi karena menurut saya harganya terlalu mahal, saya menunggu dia memberikan diskon atau menunggu sepatu model itu menjadi stok lama sehingga dijual murah.

Toko toko tertentu yang saya percaya memang tidak pernah menaikkan harga seenaknya di waktu-waktu tertentu. Harganya tetap stabil. Dan kalaupun ada kenaikan, bisa saya perkirakan dan maklumi karena situasi ekonomi.

Lain lagi dengan obral. Biasanya pedagang memiliki stok barang lama yang tidak mampu dijual habis dan sudah tersimpan dalam waktu yang lama. Di saat yang sama, telah muncul barang sejenis dengan design yang lebih baik dan harganya kompetitif. Sehingga untuk menarik minat pembeli dan menghindari kerugian yang lebih besar, maka barang barang tersebut dijual dengan harga yang sangat murah, bahkan ada yang berani menjual di bawah harga pokoknya.

Dalam penjualan dengan memberikan diskon atau obral, pedagang masih bisa mendapatkan untung dari jumlah pembelian yang banyak. Sekalipun rugi, mereka bisa mendapatkan potensi keuntungan di masa yang akan datang karena konsumen akan selalu tertarik dan percaya kepada mereka.

Tapi, pemberian diskon atau obral ini tidak boleh menyesatkan. Pedagang dilarang memberikan diskon, terlebih lagi dengan persentase yang sangat menggiurkan, padahal harga normalnya sudah dinaikkan berlipat-lipat. Sehingga, dalam keadaan diberikan diskon sekalipun, konsumen tidak mendapatkan keuntungan yang signifikan. Malah sama saja dengan situasi normal atau bisa jadi justru jatuhnya lebih mahal. Keuntungan pedagang malah bisa berlipat-lipat karena banyak orang memutuskan membeli banyak barang karena terjebak dalam diskon yang menyesatkan itu.

Bayangkan saja jika yang berbelanja itu orang dari kampung, dari pedalaman, yang tidak memiliki informasi mengenai harga normal barang-barang yang dijual di suatu tempat perbelanjaan di kota. Ketika mereka melihat ada promosi pemberian potongan harga yang besar, mereka menjadi sangat tertarik. Padahal, jika potongan harga itu diberikan dengan benar, mereka dapat menghemat uang yang dikeluarkan dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lain.

Obral juga demikian, tidak boleh barang-barang yang diobral itu harganya dinaikkan terlebih dahulu untuk meraup keuntungan besar. Atau barang-barang yang diobral itu sebenarnya bukan barang stok lama, tapi barang yang memiliki cacat yang tersembunyi. Pedagang tidak boleh menyembunyikan keadaan keadaan ini dari konsumen.

Perilaku berdagang dengan cara curang atau yang disebut dengan istilah fraud ini, sering juga disebut sebagai korupsi swasta. Memang belum masuk sebagai delik korupsi dalam uu pemberantasan korupsi, tapi praktik seperti ini jelas sekali merugikan perekonomian negara.

Berdagang memang harus cari untung, jika tidak, dari mana mendapatkan penghasilan? Tapi, mencari keuntungan harus dengan cara yang benar. Jangan menggunakan cara-cara menipu atau menyesatkan pembeli. Etika seperti ini bukan hanya mengawang awang, atau obrolan sambil lalu. Sudah diatur dalam uu perlindungan konsumen. Bahkan ada sanksi pidananya di UU Perlindungan Konsumen

I Ketut Darpawan, menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Udayana dan saat ini sedang bertugas sebagai Hakim di Pengadilan Negeri Palu

Leave a Reply