Yang Mulia

Suatu ketika saya dan seorang rekan sedang berbincang tentang sebutan Yang Mulia bagi Hakim. Entah bagaimana cerita awalnya bisa sampai ke sana perbincangannya. Saya tadi sudah mencoba mencari-cari perbincangan itu, tapi tidak menemukan. Intinya dia keberatan menyebut Hakim dengan istilah Yang Mulia. Saya mengatakan tidak apa apa, yang penting di dalam persidangan semua yang ada di dalamnya bersikap saling menghormati. Memang kadangkala ada yang memanggil dan menyebut saya dengan istilah itu, tidak hanya di ruang ruang persidangan, tapi juga dalam interaksi di media sosial. Saya tidak meminta, juga tidak melarang.

Ada dua sisi soal ini. Pertama soal formalitas dan kedua lebih kepada substansinya. Atau katakanlah ada soal kedua, apakah hakim yang dipanggil Yang Mulia itu benar-benar mulia dalam kesehariannya?

Soal pertama. Sampai saat ini saya belum pernah membaca peraturan perundang-undangan yang mengatur sebutan bagi hakim secara khusus. Penyebutan Yang Mulia itu sepertinya sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam dunia peradilan, khususnya dalam sidang-sidang pengadilan. Walaupun tidak semua menggunakan istilah itu.

MUST READ  Cara Mudah Mencairkan Saldo BPJS Ketenagakerjaan Anda

Ada yang menyebut saya Ketua Majelis, ada yang menyebut Majelis, ada yang memanggil Pak, ada juga Ibu-Ibu yang memanggil saya Nak. Atau ada juga Terdakwa yang memanggil Jaksa Penuntut Umum dengan sebutan Yang Mulia. Macam-macam.

Saya tidak pernah terlalu mempersoalkan panggilan-panggilan itu, dan tidak memasukkannya ke dalam salah satu variabel dalam menjatuhkan putusan. Yang penting adalah, semuanya menjaga ketertiban dan kesopanan. Saling menghormati.

Soal kedua. Nah, ini. Bagian ini membuat saya akan lebih banyak bertanya.

Apakah hakim yang dipanggil Yang Mulia itu adalah benar-benar bersikap mulia dalam tutur katanya, perilakunya, baik dalam melaksanakan tugas atau dalam pergaulan di masyarakat? Kalau jawabannya ya, maka antara merek dan isinya sama. Misalnya kecap mereknya sedap, isinya juga enak. Maka antara Mereknya dan isinya selaras. Ya sudah. Ideal berarti. Kalau jawabannya tidak, maka berarti ada masalah dan menimbulkan pertanyaan baru. Misalnya, mengapa hakim yang perilakunya tidak mulia, korup misalnya, bisa tetap menjadi hakim?

MUST READ  Sadar Hukum

Apakah ada kelemahan dalam pengawasan internal dan eksternal? atau ada kelemahan kultur organisasi? Apakah kebetulan saja belum tertangkap? belum ketahuan? Atau bisa juga muncul pertanyaan lain, seperti ;

Apakah pihak-pihak yang terlibat dalam sistem peradilan, misalnya pihak yang bersengketa, Advokat dan Kliennya, Jaksa Penuntut Umum, Terdakwa, Korban, atau keluarganya, lebih suka hakim-hakim yang mudah diatur, mudah dimintai bantuan, mudah diajak berkompromi asal ada imbalan, atau ada hubungan pertemanan. Atau mudah diajak berkompromi untuk sekadar menjalin hubungan baik?

Atau sebaliknya, mereka lebih suka hakim yang jujur, tegas, tidak gampang diajak berkolusi?

Jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan itu akan sedikit banyak membantu kita memahami berbagai fenomena dalam dunia penegakan hukum atau peradilan saat ini.

MUST READ  Kemenlu dan WNI yang Terancam Pidana Mati di Luar Negeri

Mohon maaf kalau kali ini agak panjang dan banyak pertanyaannya. Saya sedang senang bertanya tapi kurang bersemangat menjawab.

Leave a Reply