Tentang Alasan Penghapusan Hukuman

Ada prinsip prinsip penting dalam hukum pidana yang perlu diketahui, tidak hanya oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang penegakan hukum, tapi juga oleh masyarakat umum, apalagi yang awam hukum. Tujuannya adalah, agar berhati-hati atau tidak ragu dalam bertindak ketika berhadapan dengan ancaman terhadap diri sendiri, atau membantu orang lain yang sedang terancam, baik untuk melindungi keselamatan jiwa kita, harta benda atau kehormatan.

Dalam hukum pidana kita, ada hal-hal yang bisa menghapuskan pidana ( atau sering juga disebut hukuman) Jika membaca putusan pengadilan dalam perkara pidana, hakim biasanya menyebut istilah alasan pembenar atau alasan pemaaf sebagai alasan yang bisa menghapuskan pertanggungjawaban pidana. Ini menentukan, apakah nantinya terdakwa bisa disebut bersalah lalu dijatuhi hukuman, atau tidak.

Sekalipun terdakwa terbukti melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadanya (tindak pidana), belum tentu dia bisa dinyatakan bersalah. Misalnya, orang yang sedang mengalami sakit jiwa. Kenapa demikian? karena, tidak mungkin menimpakan kesalahan dan membebani hukuman kepada seseorang yang tidak mengetahui, tidak menyadari dan mengerti apa yang telah dia perbuat. Ada juga sebab lain yang disebut daya paksa dan secara terpaksa melakukan pembelaan diri

Daya paksa dan melakukan pembelaan diri terpaksa. Dua kalimat itu sekilas sama, tapi dari sisi hukum pidana, ada perbedaannya. Kalau daya paksa itu, contoh klasiknya seseorang dipaksa membuat surat yang isinya tidak benar di bawah todongan pistol dan diancam akan dibunuh jika tidak melakukannya. Ada juga contoh klasik yang lebih rumit konflik batinnya dan sering disebut dalam buku-buku teks kuliah, yakni seseorang yang sedang menyelamatkan diri dari kapal tenggelam, berpegangan pada sebuah kayu yang hanya bisa menanggung beban satu orang. Namun ada satu orang lagi yang ingin menyelamatkan diri dan memegang kayu itu. Jika keduanya memegang, maka mereka berdua akan tenggelam, jadi orang pertama berusaha melepaskan pegangan orang yang kedua untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Selanjutnya mengenai pembelaan diri. Hal inilah yang penting kita ketahui, agar ketika berada dalam situasi sehari-hari seperti ; rumah kemasukan maling, dijambret atau ditodong orang di jalan, melihat penculikan, melihat orang hendak diperkosa, jika dalam keadaan berani, kita tidak ragu bertindak.

Terjemahan bunyi pasal 49 ayat (1) KUHP :
Tidak dipidana barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum.

MUST READ  Mencermati Pasal Pidana Baru bagi Penyandang Disabilitas Mental Autis

Terjemahan bunyi pasal 49 ayat (2) KUHP:
Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana.

Untuk memahami asas yang terkandung dalam pasal di atas, kita buat saja beberapa contoh.
1. Saya memergoki pencuri sedang berusaha mengambil televisi yang ada di ruang tamu rumah saya. Saya berteriak, berusaha menghentikan dia, “hei, berhenti kamu, letakkan barang itu!”. Si pencuri bukannya meletakkan barang, melainkan malah mengeluarkan golok, mengancam saya agar jangan menghalangi perbuatannya. Kalau saya tetap berteriak, apalagi memanggil tetangga, dia akan membunuh saya. Nah, untuk melawan ancaman serangan yang bisa membahayakan keselamatan barang sekaligus jiwa saya itu, maka saya diperbolehkan oleh hukum untuk melakukan pembelaan diri.

Pertanyaannya kemudian, pembelaan seperti apa yang diperbolehkan? Di KUHP tidak diatur. Namun, dalam praktik, para hakim mengartikan pembelaan yang diperbolehkan ini adalah pembelaan diri yang seimbang dengan ancaman yang diterima.

Misalnya, kalau diancam dibunuh dengan golok, maka saya mengambil senjata tajam juga dan melakukan ancaman balik bertujuan agar si pencuri takut. Jadi saya tidak salah, walaupun saat itu saya telah melakukan tindak pidana pengancaman. Kalau ternyata dia takut lalu pergi, maka barang dan jiwa saya selamat. Pembelaan diri saya berhasil. Tapi kalau dia malah marah dan menebaskan goloknya ke arah saya, maka saya juga bisa melawannya dengan cara menebaskan senjata tajam yang saya pegang, untuk melumpuhkan dia. Jika pelaku tidak bisa melawan lagi, saya tidak boleh meneruskan perbuatan saya dengan tujuan membunuh dia, karena itu sudah dianggap berlebihan.

Tapi, jika dalam perlawanan, tebasan saya mengenai bagian tubuh pencuri yang vital, sehingga si pencuri mati. Saya tidak bisa dihukum. Karena dalam keadaan demikian, saya memang harus mempertahankan diri, menyelamatkan jiwa saya.

2. Kejadiannya sama, saya memergoki pencuri, dia mengambil televisi saya. Setelah saya berteriak agar dia menghentikan perbuatannya. Dia lari karena takut. Lalu saya yang saat itu membawa pedang, mengejar dia. Setelah saya tangkap, saya tebas kepalanya sampai luka parah. Pembelaan diri seperti ini tidak dibenarkan. Kenapa? Karena tidak ada serangan kepada saya yang mengancam jiwa saat itu. Televisinya juga sudah ditinggalkan. Pencurinya sudah takut. Saya seharusnya memberitahu tetangga agar membantu melaporkan pencuri itu, atau melaporkannya kepada polisi terdekat. Jika pencurinya bersembunyi, saya seharusnya memberitahu tetangga agar membantu mencari, taua menghubungi polisi agar mereka yang melacak, menangkap dan supaya bisa diadili karena melakukan percobaan mencuri.

MUST READ  Jangan Lupa, Kita Negara Republik!

Membacok kepala pencuri yang sebenarnya sudah tidak berdaya dan tinggal diserahkan saja ke polisi, bukan termasuk pembelaan diri yang dilindungi hukum. Pembelaan diri seperti itu dianggap berlebihan dan akibat yang diderita oleh si pencuri tidak sebanding dengan ancaman yang saya terima. Saya bisa dihukum karena melakukan penganiayaan berat kepada si pencuri ini. Si pencuripun akan dihukum juga karena melakukan percobaan pencurian. Nah, kalau demikian keadaannya, kita yang rugi karena bertindak berlebihan. Malah kita yang semakin menderita.

3. Seorang perempuan hendak diperkosa oleh orang yang tidak dikenalnya. Dia berusaha melawan sekuat tenaga, tapi tidak berhasil. Pada suatu kesempatan, dia berhasil meraih benda tajam di sekitarnya lalu membacokkannya ke tubuh pelaku hingga ia mati. Perempuan yang jiwanya sedang terguncang ini, dibenarkan membela diri seperti itu. Karena dalam situasi yang sangat gawat dan tidak ada siapapun yang menolongnya, maka itulah satu-satunya jalan yang bisa dilakukan.

4. Ada seorang anak yang hendak diculik. Untuk menyelamatkan anak ini, pelakunya mendapatkan perlawanan dari masyarakat sekitar yang mengetahui. Setelah diberi peringatan oleh masyarakat, si pelaku merasa takut lalu melepaskan anak yang hendak diculiknya sekaligus menyerahkan diri. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak boleh melakukan pemukulan, penganiayaan kepada pelaku. Kita hanya bisa menyerahkan dia kepada Polisi dan membiarkan dia diadili. Kadang-kadang ada saja yang tangannya gatal dan melampiaskan kemarahannya dengan memukul, menendang atau yang lainnya.

Tapi, kalau ternyata pelaku ini melawan dan mengancam jiwa anak dan masyarakat sekitar, maka masyarakat yang terancam jiwanya bisa melakukan pembelaan bagi dirinya sendiri dan sekaligus untuk menyelamatkan si anak. Pelaku ini harus dilumpuhkan agar tidak bisa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan kepada orang lain. Tindakan melumpuhkan bagaimana yang boleh dilakukan? Bisa dengan memukulnya di bagian yang membuat dia tidak bisa bergerak, misalnya kaki. Atau bagian kepalanya, supaya dia pusing atau pingsan. Dalam suatuasi yang nyata, harus diakui sulit mengontrol upaya melumpuhkan penjahat itu. Jangankan masyarakat biasa, kita sudah sering disuguhi berita pencuri yang kakinya ditembak polisi karena melarikan diri. Padahal mungkin bisa dikejar. Tapi kalau memang ada perlawanan yang membahayakan jiwa petugas, tidak apa-apa. Petugas juga harus melindungi dirinya sendiri.

MUST READ  Mendorong Restorative Justice dalam Pembaruan Hukum Pidana di Indonesia

Perlu disadari bahwa asas hukum ini diberikan untuk melindungi masyarakat yang menjadi korban kejahatan dan tidak dalam keadaan mendapatkan perlindungan yang cukup, baik dari anggota masyarakat yang lain, atau dari alat kelengkapan negara seperti Polisi atau petugas penjaga keamanan lainnya. Di sisi lain, pemerintah juga harus menyadari bahwa kesalahan mengambil kebijakan dalam melakukan penegakan hukum terhadap peristiwa main hakim sendiri di masyarakat, akan menimbulkan akibat yang buruk.

Jadi, jika berada dalam situasi seperti yang saya ceritakan di atas, kita bisa bertindak sesuai kebutuhan. Jangan berlebihan. Kalau menangkap basah pencuri sepeda motor, dan dia tidak melawan, ya sudah, bawa saja ke kantor polisi, atau hubungi polisi agar menjemput. Jangan sampai dijadikan sasaran meluapkan emosi yang berlebihan.

Terus terang, saya sampai sekarang tidak bisa melupakan pernah melihat ada pencuri yang kepalanya dipukul dengan batu hingga pecah. Atau ada juga cerita tentang pencuri yang diikat di tiang listri lalu dibakar. Saya memang tidak tahu persis apa yang dia lakukan sehingga diperlakukan seperti itu. Saya sendiri juga tidak tahu pasti guncangan jiwa seperti apa yang akan saya rasakan ketika berhadapan langsung dengan penjahat yang mengancam jiwa saya.

Namun sekali lagi, jika perbuatannya tidak terlalu serius dan tidak mengancam keselamatan jiwa kita atau orang lain, apalagi sudah tertangkap, tidak bisa lagi melawan, atau tidak berdaya lagi, biarlah penegak hukum yang mengurus. Jangan dijadikan sasaran untuk mencoba kesaktian ilmu bela diri, atau bahkan dijadikan alat untuk mengetahui rasanya membunuh manusia. Ngeri.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply