Mungkinkah Membangun Perubahan?

Dalam suatu pelatihan, saya pernah bertanya kepada pemberi materi, kalau tidak salah beliau adalah Dosen Ilmu Psikologi UI. Materinya ada kaitannya dengan membangun perubahan. Pertanyaan saya kurang lebih begini :”Jika saat ini banyak beredar jargon perubahan seperti misalnya, “change or die“, “jika tidak bisa dibina, maka akan dibinasakan”, dll, tapi tetap saja kenyataannya banyak yang tidak mau berubah ke arah yang lebih baik, apakah memang ada manusia yang memiliki karakter bawaan yang sulit diubah, sehingga orang-orang seperti itu memang tidak akan mampu bekerja dalam sebuah organisasi atau lembaga yang memiliki sistem etik yang ketat?”

Beliau menjawab “Manusia adalah mahluk belajar. Memang ada sifat-sifat bawaan, tapi bukan berarti tidak bisa diubah”. Kesimpulan saya saat itu, sekalipun ada sifat bawaan yang sulit diubah, tapi masih mungkin ada perubahan karena pada dasarnya manusia akan terus belajar.

MUST READ  Selain LPDP, Berikut Program Beasiswa yang Dapat Anda Pertimbangkan

Saya pikir, yang menentukannya keberhasilan perubahan itu adalah, sekuat apa keinginan dan kesungguhan dari pribadi yang bersangkutan untuk berubah dan seberapa kuat sistem di luar dirinya yang memaksakan perubahan itu. Keduanya harus sama-sama kuat. Jika niat dari pribadi itu kuat, tapi sistemnya justru membuat dia kembali lagi berada dalam keadaan mendapatkan tekanan atau dorongan untuk berbuat buruk, maka tidak akan berhasil juga.

Jika pribadi-pribadi ini berhasil berubah, maka dirinya dan sistem dalam kelompok berhasil mencapai tujuan. Tetapi jika sebaliknya, tidak mau berubah menjadi lebih baik, mengikuti visi dari kelompoknya, maka sistem yang ada dalam kelompoknyalah yang akan membuangnya. Sehingga gerak kerja kelompok ini tidak pincang.

MUST READ  Kenapa Hukum Pidana Harus Presisi? (versi soal penghinaan Presiden dan Wakil Presiden)

Dalam pikiran saya, beginilah seharusnya perjalanan karir orang-orang yang memaksakan diri tetap nakal. Harus ada satu momen mereka berhadapan dengan persimpangan jalan dengan tanda yang tegas. “Silahkan belok kiri, keluar dari sini. Sedangkan jalan ke kanan tertutup tembok yang tidak bisa dilalui.”

Kejam?. Di satu sisi, ya. Tapi hidup toh masih bisa berjalan. Hak hidup masih ada. Kita yang dalam keadaan terbuang dari kelompok seperti itu masih bisa mencari penghidupan di tempat lain dalam situasi yang barangkali lebih bersahabat dengan citra diri yang kita bangun dan tidak mau kita ubah itu.

Leave a Reply