Alasan No 6 Harus Hati – Hati

Hukum di negara kita mengatur, suami atau istri yang ingin bercerai, hanya bisa mengajukan gugatan perceraian atas dasar salah satu alasan atau beberapa alasan di bawah ini :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri.
  6. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. (Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975)

Alasan Nomor 1, 2, 4, 6, rasanya mudah diterima, sekalipun alasan Nomor 2 mengenai “hal lain di luar kemampuannya” itu masih perlu penafsiran yang tegas. Tapi yang nomor 3 dan 5, menurut saya pribadi agak sulit diterapkan. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Banyak variabel yang dapat muncul dalam keadaan seperti itu.

MUST READ  8 Hal Penting dalam Rencana Revisi UU Ketenagakerjaan

Selama karir saya, alasan nomor 3 dan 5 ini tidak pernah saya temui. Meskipun putusan perkara yang menggunakan alasan itu ada di daerah yg lain.

Tapi yang akan kita bicarakan adalah alasan nomor 6, yakni antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Ini alasan yang paling sering digunakan suami/ istri untuk mengajukan gugatan cerai.

Sepatutnya, alasan ini digunakan dengan hati-hati. Karena yang disyaratkan bukan hanya adanya pertengkaran dan perselisihan. Tetapi perselisihan dan pertengkaran itu harus terus menerus dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Pertengkaran dan perselisihan yang dimaksud di atas bukanah pertengkaran dan perselisihan yang sifatnya biasa dalam hubungan rumah tangga atau hubungan suami istri. Dalam setiap hubungan perkawinan, antara suami istri tentu saja pernah terjadi perselisihan dengan berbagai latar belakang. Entah itu perbedaan visi, pemikiran, pengelolaan keuangan keluarga, pola pengasuhan anak dan lain sebagainya. Dan tidak jarang perbedaan-perbedaan itu memunculkan pertengkaran ketika dikomunikasikan.

MUST READ  Euphoria Rehabilitasi Narkoba; Sebuah Dejavu

Kalau bertengkar sekali atau dua kali dalam seminggu atau sebulan, dan apa yang dipertengkarkan juga bukan hal yang sangat prinsip dan masih bisa diselesaikan, lalu menuntut agar perkawinannya diputuskan karena perceraian, itu bisa dicurigai hanya cari-cari alasan supaya bisa bercerai dan segera mencari pasangan yang baru, atau malah sudah punya yang baru karena bosan dengan yang lama. Hal seperti ini biasa terjadi.

Jadi para hakim harus menggali lebih mendalam keadaan-keadaan dalam rumah tangga pasangan suami istri tersebut, mendapatkan fakta fakta yang jelas mengenai penyebab perselisihan dan pertengkaran itu untuk memastikan apakah alasan itu dapat diterima. Karena itulah, mendengar keterangan keluarga dan orang-orang terdekat dari pasangan suami istri itu menjadi sangat penting, bahkan diwajibkan oleh perundang-undangan, sebelum memutuskan perkara gugatan perceraian yang menggunakan alasan nomor 6 itu. (pasal 22 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975)

Saran saya, kalau sudah berumah tangga, bertengkar itu, jika masalahnya tidak terlalu serius, dianggap guyon saja. Kalau masalahnya serius, dan belum bisa segera diselesaikan, pergi saja sebentar, ambil jarak, supaya ada ruang untuk masing-masing introspeksi diri.

Tapi selama waktu ‘break’ itu, jangan macam-macam. Misalnya cari teman curhat yang kepribadiannya kurang baik (apalagi lawan jenis), hura-hura di tempat-tempat yang banyak godaannya. Menyepi saja, pergi ke laut, ke gunung, ke taman kota, atau tempat lain lalu merenung atau cari referensi untuk membuka wawasan yang dapat membantu menyelesaikan masalah. Kalau cinta masih kuat, pasti selesai masalahnya. Kalau cinta memudar, cari cara untuk membangkitkannya. Caranya macam-macam. Bisa dengan cara mengingat masa-masa pacaran, bulan madu lagi, liburan yang romantis. Candle light dinner dengan makan pecel lele di warung sebelah rumah juga bisa membangkitkan asmara lho Hehehe..

MUST READ  Kisruh Zonasi

Soal ini biar yang lain yang membahas ya, saya tidak terlalu paham soal konseling perkawinan.

Leave a Reply