[Bukan Review] Legal V Ex-Lawyer Shoko Takanashi

Jumlah episode: 10
Asal negara: Jepang
Tersedia di : Netflix, Viu

“Lagipula, aku kan tak punya izin praktik hukum” — Shoko, mantan pengacara

Tadinya aku asal memilih saja serial ini untuk kutonton di akhir pekan tetapi ternyata malah keterusan, maraton hingga menamatkan episodenya. Serial ini, cewek-ceweknya tidak terlalu cantik (kecuali yang jadi Rie — Yumi Adachi), cowok-cowoknya juga tidak tampan. Jadi benar-benar mengandalkan kekuatan cerita.

Dengan genre komedi, aktingnya sengaja dilebih-lebihkan untuk efek komikal yang dramatis tetapi kasusnya dekat dengan dunia modern seperti kasus perundungan (bullying), doxxing berjamaah (membongkar aib masa lalu), perdagangan pengaruh, ketimpangan kuasa, dana ilegal dalam dunia startup, manipulasi foto, pemanfaatan pers dan warganet, penipuan terhadap para jomblo.

Alkisah, Shoko Takanashi (diperankan Ryoko Yonekura), dipecat dari kantornya, Firma Hukum Felix & Tenma, karena tertangkap basah oleh wartawan menyuap seorang Yakuza. Dalam perjalanan menenangkan diri, dia bertemu dengan pengacara muda idealis nan naif, Keita Aoshima (diperankan Kento Hayashi) yang membuatnya mengajak sejumlah orang untuk mendirikan firma hukum baru. Membujuk Profesor Kyogoku (diperankan Hideki Takahashi) yang ahli hukum ternama tetapi minim pengalaman sidang, ia berhasil mendapatkan dana untuk menyewa kantor dan menjadikan si profesor sebagai Rekan Utama sekaligus menjadi nama firma itu. Mengapa tidak menggunakan namanya sendiri? Karena Shoko sudah tak punya izin praktik.

Selain dua pengacara yang berhasil dibujuk, secara tak resmi, ada satu pengacara lagi yang ikut dalam firma mereka, yakni seorang mantan jaksa bernama Takashi Otaka. Berbeda dengan dua pengacara lain, Otaka membenci Shoko yang ia anggap sebagai penipu, tak layak ikut campur dalam urusan hukum karena tak punya izin. Ia nongkrong di dalam firma hanya untuk membujuk Profesor Kyogoku untuk keluar dari firma tersebut.

Selain para pengacara, firma hukum Kyogoku juga mempekerjakan tiga paralegal terdiri dari seorang mantan karyawati bank, seorang mantan satpam, dan seorang mantan host (pramuwisma bar). Masing-masing dari paralegal ini memiliki rekam jejak menjalankan “tugas negara”, yakni menjalani hukuman penjara atas kejahatan mereka antara lain menggelapkan uang perusahaan hingga menguntit seorang wanita.

Jadi firma hukum Kyogoku memiliki tim yang terdiri dari:
1. Profesor yang minim pengalaman sidang;
2. pengacara muda idealis yang naif dan sering gak sengaja membocorkan strategi ke pihak lawan;
3. mantan jaksa konservatif yang memandang kasus dari sisi penegak hukum;
4. dan mantan-mantan narapidana
5. serta tentu saja si mantan pengacara yang dipecat tidak hormat sehingga fungsinya hanya sebagai pengamat / pengawas.

Entah bagaimana, kasus yang receh-receh yang mereka pilih, sebagian besar kebetulan menemukan lawan dari firma hukum besar Felix & Tenma tempat kerja Shoko dahulu. Mungkin saja kebetulan tetapi mungkin saja karena Shoko selalu menilai sebuah kasus dari potensi keuntungan finansial yang didapat jika mereka menang. Ya, Shoko yang ogah-ogahan menerima kasus ecek-ecek selalu berbinar-binar penuh semangat begitu tahu lawan adalah sebuah perusahaan berpenghasilan besar.

Episode terburuk adalah episode 1, karena kasusnya terlalu ringan. Saksi korban bersaksi dusta dan terlalu mudah dideteksi. Walau begitu, di episode 1 ini, kita diperkenalkan karakter masing-masing pengacara. Episode-episode setelahnya menjadi lebih menarik karena abu-abu. Bahkan ada beberapa kasus di mana klien tidak seratus persen benar, alias memiliki dosa juga. Saksi pun juga tidak selalu mau datang. Bahkan kesaksian saksi pun masih bisa dimentahkan pula.

Petunjuk bagi orang tua
Di Netflix, serial ini memiliki rating 13 tahun ke atas. Sebagian besar adegan bisa ditonton oleh anak-anak tetapi dengan catatan, karena serial ini nyerempet skandal dan pemerasan maka ada:
1. adegan pelecehan seksual, tangan meremas pantat (bagian dari kesaksian);
2. adegan ciuman panas di dalam mobil (sebagai alat untuk memeras lawan);
3. adegan ciuman meraba payudara (sebagai alat untuk memeras saksi).

Semua adegan-adegan itu dilakukan dalam kondisi berpakaian lengkap.

Selain itu, juga ada adegan:
1. menunjukkan mayat seorang wanita di tebing (bunuh diri);
2. menunjukkan tubuh seseorang yang pingsan dengan banyak darah.

Lalu juga ada adegan berikut:
1. foto cewek berbaju terbuka (menunjukkan si cewek punya masa lalu sebagai wanita penghibur);
2. video cewek-cewek berbikini mengelilingi pria.

Dan juga ada adegan minum-minum ringan baik untuk merayakan kemenangan maupun saat frustasi karena tidak ada kemajuan dalam kasus yang mereka kerjakan. Tidak ada adegan mabuk dengan pesta liar sepanjang sinetron ini.

Karena sinetron ini juga menyinggung isu ketimpangan kuasa dalam dunia kerja, sinetron ini juga menampilkan adegan berikut:
1. adegan seorang pria menumpahkan segelas anggurnya ke atas rambut sekretarisnya;
2. adegan seorang pria (yang sama) menumpahkan anggurnya ke dalam baju sekretarisnya.

Sumber gambar: Viu

Leave a Reply