Jadi Alumni Universitas Itu Penting!

Kemarin linimasa sibuk “membully” sebuah postingan akun medsos yang mengaku “fresh graduate” sebuah universitas negeri di ibukota/ pinggiran ibukota. Akun ini dibully karena dianggap jumawa sebagai alumni universitas kenamaan menolak ditawari gaji 8 juta.

Hellowww young man (or woman?)!! Lo ini entah naif atau sombong banget yaaaa?? Begitulah kira-kira respon kejam netizen.

Pikir punya pikir… apa sebenarnya kesalahan orang ini sehingga pantas dibully, meski nama akunnya disamarkan?

Bukankah kakak-kakak alumni banyak yang memberi contoh bahwa menjadi seorang alumni itu adalah semacam politik identitas yang penting bingits? Sudah lupakah kita belum lama berselang pesta politik ramai dengan kampanye para alumni mendukung capres junjungannya? Aku alumni IU! kami alumni UA siap dukung 007!

MUST READ  Mencermati Pasal Pidana Baru bagi Penyandang Disabilitas Mental Autis

Menjadi seorang alumni itu penting. Lihatlah pemilihan-pemilihan ketua alumni sekarang.. Meriahnya,… mungkin juga biayanya… sudah berskala lomba idol bahkan pilkada. Entah apa yang ingin dicapai dengan menjadi ketua alumni hingga kompetisi terlihat ketat sekali.

Menjadi alumni universitas kenamaan itu penting banget. Bukankah kita juga senang memposting, jika anak kita, sepupu, ponakan, diterima atau lulus perguruan tinggi kenamaan, apalagi perguruan tinggi negeri. Kalau perlu kartu ujian anak kita posting.

Jika identitas alumni itu menjadi “branding” yang penting ketika memilih presiden yang menentukan hajat rakyat, mengapa ketika itu dijadikan “branding” untuk menjual nilai kerja seseorang-yang berusaha mencari penghidupan bagi dirinya sendiri lantas itu dianggap sebagai arogansi atau kebodohan?

MUST READ  Penelitian Ganja untuk Kesehatan Mendesak untuk Dilakukan

Jika postingan itu dapat disebut sebagai sebuah kesalahan atau kebodohan, maka menurut saya kesalahannya hanyalah menjadi seorang yang jujur tentang dirinya sendiri. Tapi, menurut saya seharusnya ia memperoleh pujian atas kejujuran ditengah hipokrisi yang tumbuh subur difasilitasi media sosial.

Apa salahnya menginginkan upah layak? Apa salahnya bangga bingits menjadi alumni IU? Kakak-kakak juga kan diam-diam bangga jadi alumni. Berbeda dengan akun yang bernasib malang itu, kita malu-malu tapi mau kalau bilang… “sesungguhnya kami ini adalah manusia enam juta dollar, yang super keren karena kami alumni IU”. Atau jangan-jangan kita kesal kepada kejujuran sosok naif “fresh graduate” itu karena kita sesungguhnya marah atas kenyataan hidup dan dunia kerja yang tak sewangi bau almamater kita.

MUST READ  PERADI Bersa**

Veritas, Probitas, Iustitia… Kebenaran, Kejujuran, Keadilan… itu motto universitas kenamaan tersebut. Tak ada disebut “humilitas”…bahwa seorang terdidik harus rendah hati.

Vivat academia!

Leave a Reply