Cerita di Balik Sekolah (Lagi)

Saya sebenarnya agak males buat sekolah lagi. Meskipun saya bukan penganut sekolah itu candu, tapi prioritas saya sudah berubah sejak 2004 yang lalu. Dan saya bukan orang yang senang dengan mencantumkan gelar di berbagai acara. Kalau urusan di Pengadilan nggak harus pakai gelar, saya juga akan melakukan hal yang sama, tidak mencantumkan gelar apapun. Bagi saya, orang seharusnya dinilai dari pesannya, bukan dari orangnya itu sendiri. Siapapun dia, dan apapun pendapatnya, maka pesan itulah yang sebaiknya kita nilai.

Tapi keinginan sekolah selalu ada, tapi saya selalu berupaya sebenarnya pernah 1 kali mencari beasiswa. Masalahnya cuma satu, saya selalu gagal di babak pengiriman. Penyebabnya, selain soal saya malas menjawab pertanyaan njlimet terkait sama beasiswa, IPK saya juga nggak cukup baik untuk dapat beasiswa. Walhasil, saya sudah mengubah prioritas saya sejak lama

MUST READ  Salah Sangka(an) Penimbun Masker

Tapi, semua berubah sejak 5 tahun lalu. Mantan pacar yang terus mendesak saya buat sekolah lagi, sampai ? sampai membawakan formulir. Saya kan jadi terharu?., Tapi ada acara yang membuat saya kembali tergugah sekolah lagi tanpa memikirkan soal beasiswa adalah ketika Gus Fachrizal Affandi buat acara di Universitas Brawijaya. Secara tiba-tiba gelar saya ditambah tanpa konfirmasi oleh beliau ini. Lah, kan saya bingung karena saya nggak pernah mau menaruh gelar tapi tiba ? tiba gelar saya ditambah. Ya saya senang saja, karena itu berarti pengakuan sosiologis yang saya dapat. Tapi kan, jadi agak gimana gitu ya?

Baiklah, saya jadi sedikit termotivasi untuk sekolah lagi kan jadinya. Tapi ya sekali lagi saya harus melihat lagi biaya untuk sekolah lagi terutama hubungannya dengan kantong saya yang nggak cukup tebal. Setelah menimbang jumlah isi dollar rupiah di rekening saya, saya lalu memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Universitas Pancasila. Tapi, pilihan saya sekolah di Universitas Pancasila itu juga disebabkan oleh sosok Prof Mardjono Reksodiputro yang jadi Ketua Program Studinya. Selain ada pertimbangan juga dengan kedekatan dengan stasiun dan lokasi rumah saya.

MUST READ  Kisruh Zonasi

Well, setelah menghabiskan rambut hitam dua tahun, selesai juga masa studi saya. Ya harus selesai selama 2 tahun, kalau nggak saya harus keluar lagi uang untuk biaya semester depan. Padahal saya sudah cukup sibuk isi rekening saya nggak cukup banyak.

Begitulah kira ? kira cerita maha nggak penting dibalik ini.

Leave a Reply