Membangun Teori Kasus: Sebuah Kemampuan Esensial Untuk Litigator

Teori kasus (case theory) merupakan hal esensial dalam profesi advokat, namun tidak populer digunakan di Indonesia—bahkan umumnya tidak diajarkan di fakultas hukum. Mungkin umumnya advokat mengetahui teori kasus dalam bentuk yang abstrak, namun pada kesempatan ini, saya akan membagi pengetahuan kepada anda mengenai teori kasus berdasarkan pengalaman terlibat dalam perumusan strategi litigasi.

Tidak terdapat pengertian baku mengenai teori kasus, pengertian yang ada banyak disesuaikan berdasarkan pengalaman para praktisi, ada yang mengartikannya sebagai client’s perspective, sedangkan saya secara sendiri menyebutnya dengan istilah “ide pokok dari kasus”. Perlu diketahui, bahwa teori kasus juga tidak sama dengan teori-teori misalnya: teori hukum pidana, teori keadilan atau teori apapun. Ini hanya sekedar metode. Namun satu hal yang pasti, membangun teori kasus yang baik berarti sedang mengupayakan kebenaran berada di sisi anda.

Teori kasus merupakan ide pokok yang dapat digunakan oleh advokat untuk membangun narasi argumennya secara utuh. Tanpa ada teori kasus yang kuat, maka arah pembelaan (termasuk di dalamnya strategi pemilihan saksi, ahli atau barang bukti) berpotensi goyah atau kabur, sehingga pada akhirnya akan membuat advokat gagal mempengaruhi hakim.

Modal utama dalam membangun teori kasus, di antaranya: memahami fakta-fakta dan memiliki klaim dasar hukum yang relevan. Fakta-fakta yang didapatkan dari klien diolah menjadi satu kronologi yang utuh. Terhadap kronologi tersebut, anda selaku advokat, diminta untuk melakukan identifikasi terhadap fakta-fakta kunci (identifying the key facts) dengan tujuan menemukan “fakta apa” di pihak anda, dan “fakta apa” yang berada di pihak lawan. Fakta tersebut dapat saja meliputi, “apa yang menguntungkan klien anda”? dan “apa merugikan bagi klien anda”?.

MUST READ  TAPPAI Keberatan Penggunaan Kata Lawyers dalam Talkshow ILC

Atas dasar fakta-fakta yang telah dikualifikasi, anda kemudian diminta untuk mengidentifikasi ketentuan hukum apa yang telah/akan digunakan lawan sebagai dasar klaim, dan begitu sebaliknya, anda juga diminta untuk melakukan hal yang sama, mencari ketentuan hukum yang dapat menjadi dasar argumentasi bahwa klaim yang dimiliki oleh lawan keliru. Perhatian, ketentuan hukum yang diidentifikasi tersebut juga harus relevan dengan fakta-fakta yang telah anda kualifikasi sebelumnya; dan pada bagian ini, teori kasus anda telah dibangun!

Teori kasus yang telah anda bangun tentu tidak untuk ditinggalkan di dalam kepala saja, anda sebaiknya menuangkan konsep teori kasus tersebut dalam skema F-I-R-A-C (kelak akan saya tulis juga) sebagai pedoman anda dalam menyusun pembelaan. Anda juga dapat menambahkan judul singkat dalam F-I-R-A-C anda yang menggambarkan ide pokok dari kasus anda. Tips, buatlah konsep teori kasus sesederhana mungkin!

Apabila anda telah memiliki teori kasus. Maka tiba saatnya anda memainkan narasinya ke dalam persidangan. Teori kasus yang kuat akan membimbing anda dalam menyusun dokumen pembelaan, dalam menghadirkan saksi dan bukti yang relevan, atau membuat pertanyaan dan membantah keterangan dari lawan, sehingga arah pembelaan anda bukan hanya fokus, namun dapat segera dipahami oleh hakim atau publik yang menyaksikan, terutama pers.

Saya kerap berbicara kepada kolega dan junior di fakultas hukum, bahwa menyusun teori kasus merupakan hal yang tidak sederhana. Teori kasus dibangun atas dasar riset hukum yang tekun, (penggunaan naluri tidak disarankan). Hasil riset tersebut dikombinasikan dengan daya kreativitas advokat dalam menyusun mosaik fakta dan hukum sebagai argumentasi, menentukan fakta atau hukum apa yang dapat diklaim atau disingkirkan, lalu menyajikannya secara utuh kepada hakim. Saya kira, kemampuan seperti ini yang (seharusnya) menjadi alasan profesi advokat harus dibayar mahal.

MUST READ  Law "Limping" Inforcement

Hal lain yang perlu mendapat perhatian anda yaitu lawan anda sendiri, pikirkan bahwa lawan anda mengetahui kelemahan teori kasus anda sebagaimana anda mengetahui kelemahan teori kasusnya. Oleh karena itu, sejak awal perancangan teori kasus, anda juga harus memahami kelemahan anda dengan menggunakan metode devil’s advocate, dan mempersiapkan argumentasi apabila sewaktu-waktu celah tersebut juga dieksploitasi oleh lawan.

Teori kasus dapat diterapkan pada semua kasus litigasi, termasuk untuk melawan Hotman Paris. Teori kasus akan selalu dapat dihadirkan selama advokat memiliki persiapan dalam menghadapi perkara. Tanpa persiapan, anda mungkin menang dari advokat yang juga tidak mempersiapkan apa-apa. Untuk menghibur saya, Matt Rooney, senior counsel dari Mayer Brown LLP–lawyer yang melatih saya dalam membangun teori kasus, mengatakan meski teori kasus anda lemah, anda harus tetap menggunakannya agar kebodohan anda tidak dieksploitasi oleh lawan secara brutal, begitu maksudnya. Argumen yang lemah lebih baik daripada tidak ada argumen sama sekali.

Contoh yang menjadi rujukan dalam membangun teori kasus yang baik ada dalam kasus Tameeka Roberts v. United Parcel Service Inc (“UPC”), 13-CV-6161. Kasus ini saya kutip hanya karena ingin memberikan contoh demarkasi yang tegas antara penggugat atau tergugat dalam membangun teori kasus. Robert mengajukan gugatan terhadap UPC karena merasa diperlakukan secara tidak patut di lingkungan kerja oleh atasan akibat orientasi seksualnya. Perlakuan buruk tersebut dilakukan oleh atasannya dengan terus menerus memberikan ceramah dan ayat-ayat suci sembari menyatakan bahwa orientasi seksual Robert merupakan perbuatan dosa.

MUST READ  Larangan Saksi Mahkota

Teori kasus yang dibangun oleh Robert dalam persidangan yaitu dirinya mendapatkan diskriminasi di lingkungan kerja, sedangkan UPC mendalilkan teori kasus bahwa tindakan pekerjanya bukan diskriminasi, melainkan hanya “perbuatan yang tidak patut” (inappropriate). Tidak hanya satu teori kasus, Robert juga mengatakan bahwa tindakan atasannya merupakan pelanggaran hak atas kebebasan berekspresi, lalu UPC membantah dengan mengeluarkan teori kasus bahwa apa yang dilakukan oleh pekerjanya merupakan bagian dari hak atas kebebasan beragama (?).

Terlepas dari substansi perkara dan putusannya, teori kasus yang dibangun dalam perkara di atas sangat solid, sehingga membuat pembelaan substantif dan terarah. Kasus ini membuktikan bahwa dengan membangun sebuah teori kasus mampu membuat litigasi menjadi lebih bergairah. Terkait kasus di Indonesia, mungkin anda dapat mencoba mengaplikasikannya, misalnya: korupsi vs kesalahan administratif (TK); penipuan vs hubungan keperdataan (TK), dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply